“Aku akan mengunjungimu akhir pekan ini.”

Jelas, itu suaranya, dan aku mengenal sekali jenis suara sedikit cempreng, intonasi yang khas, dan logat Jawa tulen. Lantas kenapa kau tiba-tiba menghubungiku, terlintas di pikiran pun tidak. Dug, otakku berpikir keras mencoba mengingat terakhir kali kami bertemu 13 tahun lalu di sebuah kedai kopi yang sering kami kunjungi. Sulit untuk melupakan kedai kopi itu, interiornya begitu mencolok mata dengan cat dinding berwarna coklat hitam dan wallpaper bergambar burung sedang hinggap pada sebuah pohon, ditambah aroma kopi yang menyeruak tajam di antara hembusan asap rokok para pengunjung. Tepat malam itu juga aku melihat wajahmu, terakhir kali.

Gila kau, sekitar 8 detik kau menghubungiku saja sudah cukup membuatku melamun. Bukan masalah besar tapi untuk saat ini. Datang saja kau nanti agar kita bisa bertukar cerita.

Tunggu, kenapa tiba-tiba aku berusaha mengingatmu lagi di otakku? Tanpa itu pun aku masih ingat detil-detilmu tentunya. Rambut panjang bergelombang dengan sedikit warna merah, kulit kecoklatan, hidung sedikit mancung, dan bibir tipismu. Bagian-bagian kecil itu merangkai membentuk rupamu, tapi aku sudah tidak terlalu ingat bagian lengkapnya. Aku dulu sering menarik-narik rambutmu dan terkadang kumasukkan hidungku dan selalu wajahmu berubah menjadi masam. Pernah kan kau marah sekali karena rambutmu kuolesi ampas kopi, atau ketika pipimu kucoret dengan saus pedas? Hahaha, kau begitu benci dengan saus pedas tanpa alasan yang rasional. Masih ingat ketika kita pergi ke gunung? Malam itu kita semua kelaparan termasuk Andi dan pacarnya yang selalu memakai ikat kepala itu. Andi pun memasak mi instan dan aku lupa untuk memberitahunya bahwa kau tidak suka saus. Dus, terjadilah akhirnya, kau memilih untuk menahan lapar hingga esok pagi ketimbang makan mi instan dengan saus itu. Sejak itu aku sadar betapa parahnya fobiamu. Satu lagi, kau takut setengah mati dengan poster Marilyn Manson, too spooky like a Suzanna kau bilang. Untuk hal ini aku sedikit setuju denganmu.

Bagian itu yang masih kuingat darimu, selebihnya mungkin sudah berbeda.

Advertisement

Akhir pekan pun tiba, terlalu cepat kurasa karena bahkan aku belum menyiapkan mentalku. Bukan karena takut, tapi untuk menahan diri agar tidak menarik-narik rambutmu lagi, untuk itu kuharap kau datang dengan rambut terikat.

“Hai, lama sekali tak melihatmu? Bagaimana kabarmu? Feels good?

Tuhan, tolong aku saat ini, kenapa dia tidak mengikat rambutnya Tuhan. “Baik, kau bagaimana? Masih takut saus?” Pertanyaan pembuka yang menohok, bodoh ini yang akan membunuhmu nanti.

“Baik sekali! Ah, kau masih ingat saja. Setidaknya aku malah jarang diare tho? Kau memelihara janggut sekarang? Man, you are like a ten years older.”

Ternyata dia tidak banyak berubah, masih suka melihat detil-detil kecil di wajah. “Hahaha, sedang malas bercukur sebulan ini. Sudah mirip Jared Leto kan? Mari duduk dulu.”

“Ayolah biarkan aku melihat-lihat apartemenmu dulu.”

“Silakan saja.”

Petualangan dimulai, semoga kau membimbingku Tuhan, jangan biarkan hamba-Mu ini tergelincir, berikan kesan yang baik untuk orang ini. Amin.

Aku membuka pertanyaan, “Kemana saja kau selama ini?”

“Ceritanya panjang, kau tahu kan aku bukan pencerita yang baik. Kau dululah yang mulai.”

“Tentu tidak, aku tuan rumah di sini, dan kau sendiri yang minta datang tho. Ayo, aku punya banyak waktu untuk mendengar.”

Satu jam, dua jam, aku mendengarkanmu bercerita tentang kehidupanmu yang indah. Semua berjalan terencana dan selalu mulus. Segala yang kau ceritakan seperti dongeng bagiku. Menampar, pastinya. Aku pun tidak beranjak dari titik ‘memprihatinkan’ ini. 13 tahunmu begitu indah, tapi tidak dengan 13 tahunku.

“Hei, bukankah itu fotoku? Itu, yang pakai dress coklat? Astaga, aku masih kurus sekali.”

Damn, aku lupa menyimpannya. Iya itu kau dengan dress coklat kesayanganmu dulu. Aku selalu senang melihatmu memakai dress, terlihat lebih feminin kurasa.

“Tertinggal ketika kau menitipkan jaket padaku. Apa kau juga menyimpan fotoku?” Satu lagi pertanyaan bodoh. Pertanyaan balas pertanyaan, mekanisme pertahanan diri yang terkesan lemah.

“Maafkan aku.”

“Untuk apa?” tanyaku.

“Untuk membuatmu seperti ini selama 13 tahun ini. Maaf, dulu aku melakukannya karena keadaan yang membuatnya rumit. Dia datang di waktu yang tepat kurasa, waktu saat aku berada di titik jenuh denganmu, dan dia datang menawarkan jalan keluar.”

“Lupakanlah, tak perlu kau meminta maaf, kawan-kawanmu sudah menceritakan kepadaku.” Apa kau menyesal, dan kembali untuk memperbaikinya? Semoga aku memang bisa memaafkanmu, tapi kurasa tidak ada ruang untuk itu, syukurlah aku pandai menyimpannya.

“Sungguh, aku tidak menyangka berakhir seperti itu. Aku hanya berniat untuk break sejenak, tapi itulah yang meracuniku, aku jadi lebih mudah mengingat dia daripada mengingatmu, aku lebih merindukannya daripada merindukanmu, saat itu.”

“Sudahlah, tak usah meminta maaf. Aku sudah memaafkanmu sejak dulu.” Jelas aku berbohong.

“Sebenarnya 13 tahun ini cukup menyiksaku, rasa bersalah selalu menghantuiku meski aku bahagia berakhir dengannya. Aku mencarimu, tapi kau seolah hilang ditelan bumi. Benar-benar menusuk jika teringat caramu menggodaku, dia tak pernah memainkan rambutku atau mengoles saus pada pipiku. Kau ingat kan dulu sering memainkan rambutku?”

“Tentu aku ingat.” Dan aku ingin sekali saat ini.

“Dia bilang aku bodoh karena tidak suka saus. Namanya fobia memang tidak bisa ditolak kan? Tanpa alasan yang jelas, entah mengapa aku benci sekali dengan saus. Berkali-kali dia berusaha menghilangkan fobiaku agar bisa mengimbanginya yang suka pedas. Dulu, tidak masalah kan kalau aku menolak saus ketika makan denganmu?”

“Tentu tidak.”

Seketika pikiranku melayang menuju 13 tahun yang lalu. Di kedai kopi itu, kau bersama pria yang menjadi suamimu kini. Aku ingat alasanmu keluar karena mau mengerjakan tugas kau bilang, dan aku percaya karena selalu seperti itu sejak dulu. Tapi, mengapa (dan aku sedikit menyesalinya) aku ingin sekali mampir di kedai kopi itu. Seperti ditimpa karung beras, dan sedikit tak percaya, kau memang sedang bersamanya.

Baiklah, kuputuskan pergi dan kurasa kau memang tidak mencariku, aku tak tahu. Kulupakan semua hal tentangmu, tapi memang tidak bisa karena beberapa hal tentangmu seolah menjadi tentangku.

Di sinilah kita, 13 tahun berlalu dan kembali bertemu dengan cerita yang berbeda.

“Aku pamit ya? Dia sudah datang rupanya. Oh iya, aku sudah memiliki anak, Dana namanya. Sengaja kunamai itu, agar Dana yang satu ini mau memaafkanku.”

Kau pun pergi lagi tanpa sempat kumainkan rambutmu.