“Biarkan keyakinan 5 cm mengambang di depan kening kamu. Apapun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalau kamu percaya sama keinginan itu dan kamu gak bias menyerah” -5 cm

Sebelum liburan hal pertama yang harus di lakukan adalah mencari pasangan supaya ada yang melindungi di kota orang membeli tiket pesawat. Lagi dan lagi liburan kali ini bersama adek sendiri, Ulfah. Liburan kita akan ala backpacker.

Daerah istimewa Yogyakarta. Kota yang setiap sudutnya penuh keramahan, angkringan dan kerinduan yang gak bisa di bendung setiap kembali ke rumah setelah liburan selesai. Bahkan kalau ada melebihi kata istimewa, itu lebih cocok untuk kota penuh kenangan keindahan ini.

Menggagumi Jogja sudah dari 4 tahun yang lalu, gak tau kenapa bisa jatuh cinta kebangetan sama Jogja. Kata kebanyakan orang jatuh cinta itu gak butuh alasan tapi butuh penjelasan. Dan yaps Jogja emang pantas untuk di cintai dari sudut manapun. Sebelum berangkat ke Jogja, udah nulis destinasi mana aja yang bakal di kunjungi, awalnya mau pakai jasa tour guide tapi setelah di pikir-pikir destinasi yang bakal di kunjungi bakal tebatas dan waktu jalan yang terbatas. Dan akhirnya memilih untuk menyewa motor yang terbaik dan terpercaya dengan modal 50rb perhari udah bisa pakai motor keliling Jogja dengan persyaratan 2 identitas yang bakal jaminannya, asal jangan hati kamu aja yang kamu jadikan jaminan.

22.35 sudah sampai di stasiun Yogyakarta. Dan yang awalnya mata redup-redup jadi segar bugar lihat gedung-gedung Jogja, perumahan warga Jogja, dan ramainya kota Jogja, bahkan nginjak tanah Jogja.

Advertisement

Keluar dari Stasiun langsung menuju perkumpulannya para jodoh abang becak, jadi kita langsung ke daerah sosrokusuman. Masih dengan mata yang berbinar-binar dan setengah percaya kalau sudah ada di Jogja. Memasuki daerah Malioboro dan melihat plang jalanan bertuliskan “MALIOBORO” yang sering orang foto-foto di situ, langsung membuat ku terharu. Aku nangis bahagia. Sumpah ini beneran nangis gak pake drama ftv. AKHIRNYA AKU ADA JOGJA WAAAAAHHH.

Untuk penginapan kami pilih di Jl.Sosrokusuman, di situ banyak penginapan-penginapan ala backpacker dan cukup berjalan kaki 5 menit sudah bisa melihat ramainya Malioboro.

JOGJAAAA SIAP AKU JELAJAHI YAAA~

Minggu, 17.01.16 (DAY 1)

“Kemudian yang kamu perlukan hanyalah kaki yang akan melangkah lebih jauh, tangan yang akan berbuat lebih banyak, mata yang akan melihat lebih lama, leher yang akan lebih sering mendongkak, tekad yang setebal baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras, serta mulut yang selalu berdoa” -5 cm

Pagi-pagi masih berasa mimpi bangun-bangun sudah ada di Jogja, ah rasanya bahagia nya susah di ungkapkan dengan rangkaian kata-kata yang indah. Terlalu excited bahagianya, terlebih sarapan pertama di Malioboro, pusat kota Jogja yang mesti di kunjungi. Gak afdol rasanya kalau belum berfoto di tulisan Malioboro kalau sudah menginjakkan kaki di Jogja.

Oke ayok kita mulai perjalanan, first time menjadi backpacker muslimah sejati idaman para mertua. Seluk beluk kota orang aja di pahami apalagi seluk beluk kehidupan anak tante :p

Jam 6 langsung otw ke Bandara karna mau mengantar teman yang bernama Dinda yang mau balik ke Samarinda. Perjalanan dari Malioboro ke bandara sekitar 40 menit, awalnya mau naik becak tapi ternyata gak bisa. Mungkin bisa, bisa membuat abang becaknya kehabisan oksigen. Sampai bandara langsung ketemu Dinda, cipika-cipiki salam perpisahan,

15 menit kemudian Dinda chat aku yang kebetulan aku dan Ulfah masih di bandara

“Lis dimana”

“Masih di Bandara Din”

“Minta nomor please”

“0812xxxxxxx”

Dinda langsung nelpon,

“Kamu dimananya bandara Lis”

“Dekat jualan donat Din”

“Sini dulu deh keluar dekat beringin”

“oke wait”

Pas nyampe dekat beringin langsung liat Dinda dengan muka melasnya dan setelah dia menceritakan nasib naasnya di Bandara ternyata jadwal pulangnya bukan hari ini tapi besok hari senin, aku dan Ulfah gak henti-hentinya ketawa, dimana-mana orang ketinggalan pesawat bukan keduluan dari pesawat.

Beberapa menit di luar Bandara kakaknya Dinda jemput, aku dan Ulfah naik ojek. Tapi karna ojeknya cuma satu jadilah kita berubah jadi cabe-cabean di Jogja.

Sampai di rumah keluarga Dinda, aku dan Ulfah di tawari sarapan gratisan, YES #ILovefree. Jam 12 kita di jemput taxi untuk ke trans Jogja ke candi prambanan. Modal 3.000 aja udah bisa sampai ke tujuan. Sampai di halte berikutnya si petugas teriak-teriak soal tujuan penumpang, karna perdana naik trans Jogja dan takut kelewatan jadilah bertanya,

“Mas ke prambanan ya”

“BELUM NANTI DI UTARA” katanya dengan nada tinggi yang buat aku menciut. Dan yang lebih tambah keselnya lagi Ulfah dan Dinda jadi langsung menjauh sok-sok gak kenal.

“Ya aku kan mana tau bukan orang sini”

Finally sampai juga di candi Prambanan, masih luar daerah candi dan untuk masuk mendekati candi harus naik becak atau delman lagi dengan membayar 20rb setelah nego yang cukup panjang. Jalan sebenarnya bisa, bisa membuat kaki kamu kram kalau sudah sampai di candi Prambanan. Begitu sampai kita langsung memesan tiket, karna gak ada tampang-tampang bule tapi tampang calon istri bule kita cukup membayar 30rb aja perorangnya. Karna teriknya matahari jadi kita menyewa payung seharga 5rb sampai puas, asal jangan di bawa pulang di jadikan oleh-oleh. Sebelum sampai di puncaknya Prambanan kita keliling-keling dulu dengan di suguhkan pemandangan indah, para bule bertebaran dimana-mana, ya mungkin ada terselip jodoh para jomblo yang masih betah sendirian sampai di era modern zaman sekarang, (ngaca Lis ngaca). Menaiki anak rumah tangga kita menuju ke candi Prambanan dan akhirnya sampai juga. Pemandangan yang indah membuat melupakan rasa lelah.

Pulangnya kita naik delman dulu, setelah nego harga jadi 25rb bertiga, di antar sampai trans Jogja. Naik trans Jogja sampai Malioboro, sebelum melanjutkan perjalanan kita semua istirahat dulu di penginapan. Sehabis maghrib kita lanjut jalan lagi dengan tour guide gratis si Ghea yang emang kuliah di Jogja. Kita lanjut jalan-jalan ke alun-alun kidul dengan membayar 40rb. Sampai di alun-alun langsung sewa penutup mata untuk bisa melewati pohon beringin. Mitosnya ada yang bilang kalau bisa lolos permintaan bisa tercapai.

“Ya Allah jodohkan aku dengan laki-laki yang mirip Reza Rahadian, amin”

Oke aku mulai jalan dengan semangat mendapatkan jodoh seperti Reza Rahadian. “udah buka aja” dan gagal. Sepertinya Reza Rahadian cuma bisa jadi seliran. Selesai main petak umpet di beringin kita lanjut bermain-mobil-mobilan penuh lampu warna-warni yang bakal mengelilinggi alun-alun, permobil 40rb, makin bagus motif mobilnya makin tinggi harganya, asal pintar-pintar menawar aja.

Senin, 18.01.16 (DAY 2)

Setelah sarapan kita jalan-jalan sekitaran Malioboro, menikmati para pedagang kaki lima yang menawarkan jualannya. Tips buat siapa aja yang berbelanja di Malioboro, pintar-pintarlah menawar kalau bisa tawar sampai kurangnya 70%, kalau si penjual gak mau pura-pura lah pergi sok-sok jual mahal, ya ini kesempatan buat para jomblo Cuma sama penjual di Malioboro kalian bisa jual mahal. Puas keliling Malioboro, lanjut ke pasar beringharjo, jaraknya dekat banget jalan kakipun sampai, lelahnya gak bakal terasa karna sepanjangan Malioboro ke pasar beringharjo di suguhkan dengan para pedagang kaki lima dan wisatan. Sampai di pasar beringharjo kita langsung nyobain makan di pinggiran, gudeg adalah makanan khas Jogja, jadilah makan gudeg 8rb / piring.

Selesai makan masuk ke dalam pasar banyak banget yang jual kain-kain batik, daster, blazer dan celana batik. Semua masih bisa di tawar, tergantung cara kamu aja menggombal penjualnya. Dari pasar beringharjo kembali ke penginapan untuk istirahat dan jam 4 kita naik becak ke tugu Jogja, sampai di tugu kita foto-foto.

Sorenya kami duduk-duduk cantik di 0 km, melihat ramainya 0 Km dan menikmati wifi gratis. Ini bener-bener nikmat Tuhan yang gak bisa di dustakan. Cuma duduk tanpa membeli apapun bisa menikmati wifi gratis.

Selasa, 19.01.16 (DAY 3)

Jam 8 pagi kita ke rumah Paris yang pernah di jadikan rumah Laudya Cintya Bella di film surga yang tak di rindukan. Butuh waktu hampir 1 jam untuk bisa sampai dirumah Paris yang ada di Jl. Parangtritis KM. 8,4 Sewon, Bantul. Sampai di rumah Paris langsung masuk ke dalam, tapi ternyata gak bisa foto-foto karna udah di booking full 1 rumah, jadilah Cuma foto-foto di depan rumahnya aja. Yang mau foto-foto di dalam rumah paris membayar 200rb bisa sampai 6 orang selama 2 jam dan untuk breakfast 40rb perorang.

Dari rumah paris kita lanjut ke pantai parangtritis karna satu jalur meskipun lumayan jauh, 30 menit. Di pantai gak terlalu ramai karna masih pagi jadi kita Cuma foto-foto dan melihat suasana pantai. Masuk ke pantai gratis, bayar parkir 2rb dan kalau mau naik delman bayar 20rb, Atv (semavam motor gede) bayar 25rb satu orang.

Dari pantai parangtritis lanjut ke hutan pinus, 55 menit waktu yang di tempuh. Kalau di lihat dari jarak tempuh mungkin bakal capek banget tapi sepanjang perjalanan menuju hutan pinus kita di suguhkan dengan pemandangan yang bener-bener indah, sawah-sawah yang hijaunya bikin suasana hati adem, gunung-gunung tinggi yang memanggil untuk di daki dan udara sejuk yang seakan tak bercampur dengan polusi, ya meskipun mendekati hutan pinus lumayan tajam tikungannya, setajam sahabat yang nikung sahabatnya sendiri. Di awal perjalanan maps masih bersahabat tapi tiba-tiba doi malah ngambek dan salah kasih arahan, setelah nanya gps (gangguin penduduk sekitar) kita sedikit mendapatkan pencerahan, tapi gak sampai-sampai juga ke hutan pinus, dan kami 2 jomblo yang tersesat mendapatkan bantuan dari sepasang kekasih yang sama-sama mau ke hutan pinus juga.

Akhirnya, setelah 2 jomblo di bantu sepasang kekasih kita pun sampai di hutan pinus.

“Mba makasih ya”

“sama-sama”

Untunglah mba yang nolongin gak bilang “ sudah jomblo tersesat menuju masa depan tersesat juga menuju hutan pinus” AKU STRONG MBA!

Sampai di hutan pinus lagi lagi takjub dengan ciptan Tuhan yang tiada duanya. Masuk ke hutan pinus free, yang di butuhkan cuma dia yang peka mental dan fisik yang kuat.

Puas menikmati dan mensyukuri nikmat Tuhan yang tiada tara ini, kita lanjut ke kebun buah mangunan, cukup 7 menit aja sampai asal gak pake acara tersesat. Masuk ke kebun buah mangunan 5rb perorang, untuk masuk ke view utama yang sering di jadikan berfoto mesti melewati jalan yang gak mulus dulu.

hidup itu membutuhkan perjuangan, karna gak ada yang satu hal pun yang bisa sukses tanpa sebuah perjuangan.

#HIDUPKERASBRO

Rabu, 20.01.16 (DAY 4)

Destinasi hari ini ke taman sari, masuk ke taman sari 6rb perorang. Di dalam taman sari kalau mau pakai pemandu kamu cukup mengeluarkan sedikit uang mu tapi kalau mau sendiri juga bisa. Untuk berfoto di spot yang sering orang-orang berfoto lumayan susah, antrinya panjang dan butuh kesabaran yang mendalam.

Pulang dari taman sari, kita kehujanan di jalan, jadilah kembali ke hotel. Hujan Jogja mengingatkan kenangan masa lalu yang telah terkubur rapi, aku rapuh maz. Hujan nya berhenti setelah maghrib, kita ke de arca dan de mata. Tiket masuk gabungan 75rb perorang. Di de arca kita bakal melihat patung-patung pahlawan, presiden dan artis-artis Hollywood.

Dari de arca pindah ke gedung sebelah, de mata. Disini kita bisa berfoto-foto yang hasilnya seperti nyata. Di setiap sudut bagroundnya bakal ada cara berfoto yang bisa menjadi dimensi.

Setelah itu kita ke angkringan gareng petruk, dekat dengan tugu Jogja. Angkringannya keren, makanannya juga murah-murah mulai dari 2rb. Yang ke Jogja mesti kudu nyobain ini angkringan, udah murah makanannya wuenak tenan lagi. Selama makan kita bakal di datangi dengan pengamen yang kita sendiri bisa request lagu sepuasnya, asal kasih duit ya bukan kasih harapan palsu.

Kamis, 21.01.16 (DAY 5)

Jam 6 subuh kita otw ke kulon progo, subuhnya Jogja bikin adem dan bakal ngangenin. Sepanjang perjalanan menuju kalibiru, sisi kanan dan kiri jalanan kita bakal melihat pemandangan, gunung, sawah dan embun yang membuat tambah semangat di pagi hari. Dari malioboro ke kalibiru butuh waktu 1 jam lebih. Di perjalanan memasuki kulon progo ada tulisan besar “Kulon progo, the jewel of java” udah kesenangan banget karna udah masuk daerah dekat dengan kalibiru. Dan jam 7 kita sampai di kalibiru, ternyata lebih cepat dari yang di bayangkan. Untuk sampai ke puncak view kalibiru mesti daki tanjakan yang lumayan tinggi, tapi ketika kamu mendaki coba bayangkan indahnya kalibiru, lelahmu bakal kalah dengan semangatmu. Sebelum jauh melangkah, kita sarapan dulu untuk mengisi tenaga, karna bukanya jam 8. Selesai makan kita langsung naik ke puncak kalibiru. Dan begitu sampai langsung di buat terpana, sumpah pemandangannya indah banget. Ini bener-bener nikmat Tuhan dan aku bangga menjadi bagian penduduk Indonesia. Pantas aja di bilang the jewel of java, ini mah lebih berharga dari permata. Sampai di puncak kalibiru kamu bakal melihat pemandangan yang hijaunya bikin mata adem, sejuknya angin yang bakal membuat kamu bersyukur masih bisa mendapatkan oksigen yang layak.

“Saya mencintai negri indah dengan gugusan ribuan pulaunya sampai saya mati dan menyatu” 5cm

Masuk ke kalibiru 10rb perorang, untuk naik ke spot utama bayar 15rb dan kalau pakai jasa foto disana 15rb 3 foto, out bound 35rb untuk 5 kali permainan yang berbeda, untuk foto di spot flying fox, beda arena permainan beda harga, aku minta yang di flying fox 20rb 3 kali foto.

Dari kalibiru lanjut ke candi Borobudur, butuh waktu 1 jam 30 menit. sampai di candi Borobudur, masuknya bayar 30rb perorang. Sebelumnya sering lihat foto-foto orang di candi Borobudur, di pikir langsung masuk daerah foto yang di candi borobudur tapi ternyata mesti naik tangga yang lumayan banyak dulu.

Semakin jauh kaki melangkah, semakin luas kaki mata memandang, semakin nyata bukti-bukti kebesaranNYA”

Jumat, 22.01.16 (DAY 6)

“One’s destination is never place, but a new way of seeing things” –Henry Miller-

Jam 7 pagi udah ninggalin pacar penginapan, langsung menuju ke jembatan yang memperlihatkan kampung kali code. Sampai disana langsung parkir di depan ruko orang, jangan parkir sembarangan apalagi parkir di tengah jembatan bisa kena semprot warga sekitar atau pengguna jalan raya. Waktu yang di tempuh dari Malioboro ke kali code Cuma 6 menit, di jembatan kali code lagi-lagi di buat wah sama kekreatifan warga Jogja, bener-bener kesenian banget.

Setelah beberapa kali foto dan sudah mendapatkan foto terbaik yang pantas di upload di sosmed kita melanjutkan perjalanan ke puncak suroloyo, 1 jam 15 menit waktu yang di tempuh. Dan keindahan Jogja dari kota sampai ke pedalamannya pun indahnya keterlaluan. Untuk kesekian kalinya di suguhkan dengan sejuknya alam kota Jogja yang bikin rileks meski tanpa pacar disisi. Bahkan perjalanan yang sangat-sangat jauh gak bakal kerasa sama sekali. Ah, Jogja bolehkan aku menemukan soulmate di kota mu ini?

Setelah menempuh perjalanan yang panjangnya sepanjang penantian jodoh, kami pun sampai di puncak Suroloyo. Sebelum mendaki ibu pemilik warung sudah memberi info kalau bakal mnedaki 246 anak tangga, dan setelah search di google ada yang nulis 280 dan 290 anak tangga, daripada ragu-ragu mending kalian yang mau mendaki bisa hitung sendiri sih, soalnya aku gak sempat. Nyari jodoh aja gak sempat apalagi hitung anak tangga. #abaikan

Di sarankan kalau selama mendaki jangan terlaku di porsir tenaganya, kalau capek istirahat aja dulu. Jadi pas sudah sampai puncak masih ada tenaga untuk melihat keindahan yang luar biasa.

Teruntuk kamu siapapun ini, lihatlah kami berdua wanita strong ini, Mendaki anak tangga aja sanggup apalagi menjalin rumah tangga bersama?

Dan setelah mendaki ratusan anak tangga, lelah yang mendera, keringat yang bercucuran, panas yang menerpa, nafas yang gak teratur, kita pun sampai di puncak suroloyo.

Dari ketinggian 1.019 mdpl, aku dan Ulfah berdiri di atas dengan rasa penuh bahagia. Melihat indahnya gunung-gunung tinggi, hamparan sawah-sawah yang menyatu seolah-olah sudah di atur dengan indahnya, hijaunya alam yang membuat oksigen terus bertambah, dan beberapa kupu-kupu menari dengan indahnya seolah-olah menambah kesan kebahagiaan. Ini nikmat yang gak bisa di bayar dengan apapun. Melihat sunrise di puncak suroloyo adalah hal terindah bagi siapapun yang menikmatinya, kita berdua gak berani keluar di tengah malam untuk melihat sunrise, maklumi kami tanpa pengawasan para jodoh. Tapi buat kamu yang berombongan berlibur ke Jogja dan memasukkan puncak suroloyo dalam list destinasi liburanmu, pergilah melihat sunrise bersama-sama. Itu indah banget dan gak bakal terlupakan.

Dari puncak suroloyo kita ke puncak yang lain, gak terlalu jauh dari puncak yang anak tangganya 200 lebih dan di puncak yang lain mendakinya gak terlalu banyak, tapi satu hal yang sama ketika sampai di puncak indahnya pemandangan bakal membuat siapa aja terpana.

Setelah puas menimati keindahan puncak suroloyo kita lanjut ke candi abang, membutuhkan waktu 1 jam 37 menit. Lumayan jauh. Kalau lagi gak liburan mungkin sudah ngeluh sakit-sakit badan, membayangkan dari kemarin perjalanan yang di tempuh sangat jauh. Ini namanya the power of holiday. Karna ini liburan mandiri tanpa tour guide dan perjalanan yang jauh, jadi kalau cape jangan di porsir, istirahat sebentar kalau ketemu warung. Tetap kesehatan dan keselamatan nomor 1.

Dan akhirnya setelah menempuh perjalanan yang panjang kita pun sampai di candi abang walaupun tanpa abang-abang di samping kita, di candi abang para wisatawan biasanya berfoto di di bukit teletubbies. Untuk sampai ke candi abang kami harus menjadi bolang dulu. Mesti melewati jalan setapak dulu, jalan yang terjal terlebih kemarin Jogja habis di guyur hujan jadilah sebagian tanah belum kering.

Masuk ke candi abang gratis, cukup membayar parkir 2rb aja. Di puncak candi abang bukit teletubbies rasanya pengen peluk para jomblo yang bertebara. Eh?

Pas sampai di candi abang suasana lagi mendung, semendung suasana hati yang melihat banyaknya para couple di sekitaran bukit. Neng udah terlatih patah hati kok bang :’)

Sejuknya angin tanpa polusi, pemandangan yang indah (tentunya tanpa pemandangan para couple yang mengumbar kemesraan).

habis isya jalan ke bukit bintang, jalan menuju bukit bintang sangat berbahaya, butuh hati-hati yang ekstra, karna terjalnya jalanan dan penerangan jalanan yang hanya lewat kendaraan yang lalu lintas. sampai di bukit bintang langsung duduk di jembatan untuk bener-bener melihat keindahan kota Jogja di malam hari dan itu bener-bener lebih dari indah. usahakan bawa jaket kalau yang gak kuat dingin apalagi yang sering di dinginin sama doi. puas melihat pemandangan kota Jogja lewat jembatan, kita ke tempat-tempat makan yang memang tersedia dengan view kota Jogja di malam hari.

Sabtu, 23.01.16 (DAY 7)

the last day in Jogja 🙁

Boleh nangis gak di bahu cogan Jogja?

Sedihnya mau ninggalin Jogja itu lebih sedih daripada ninggalin pdkt-an yang gak pernah sama sekali kasih kepastian.

Setelah packing barang, kita ke malioboro untuk mengembalikan motor dan membeli oleh-oleh. Sebenarnya tradisi membeli oleh-oleh itu dari mana sih?

Ramainya suasana malioboro bakal membuat kangen nantinya. Dari malioboro ke pasar beringharjo untuk sarapan pecel atau gudeg khas Jogja. Makan di pinggiran pasar beringharjo juga salah satu yang bakal membuat siapa pun berkata “Nanti aku pasti kembali lagi”.

Di pasar beringharo kita membeli oleh-oleh khas Jogja, bakpia, brem, dll. Pintar-pintarlah menawar untuk mendapatkan harga yang miring. Sehabis makan dan membeli oleh-oleh kita lanjut jalan kaki ke 0 Km, mesti bener-bener menikmati suasana Jogja sebelum pisah.

Someday I will be back. Promise!

Jogja terlalu indah kalau cuma di kunjungi 7 hari. Masih banyak tempat tempat indah yang mesti di sentuh. Suatu saat nanti aku pasti kembali dengan cerita yang berbeda. Aku bersyukur bisa menjadi saksi keindahan kota yang selalu penuh rindu ini. Terimakasih untuk 7 hari yang gak bakal di lupakan sampai kapan pun.
Jogja, ijinkan aku pulang dan berbagi kebahagiaan di kota penuh keramahan ini.

“There is a kind of magicness about going for away and then coming back all changed”-Kate douglas wiggin

"Destinasi seseorang bukanlah sebuah tempat, melainkan cara baru untuk melihat sesuatu" -Henry Miler_