7 tahun bersamamu bukanlah waktu yang sangat sebentar untuk memulai kisah ini.

Berawal di bulan Juli 2009, awal dimana kita saling mengenal dan memutuskan untuk saling dekat. Hari-hari yang kulewati sangat indah, di warnai dengan senyummu yang manis, terkadang dibumbui dengan amarahmu, yang entah malah membuat aku semakin menyayangimu.

Bulan berganti Bulan, sekarang kita sungguh sangat dekat. Bahkan tak ada hari yang ku lewati tanpamu. Aku sudah cukup mengenal kamu dan berbagai sifatmu.

14 februari 2012, bagi sebagian orang adalah hari kasih sayang. tetapi tidak buatmu. Hari ini mungkin adalah hari terburuk di sepanjang hidupmu. Ibundamu telah pergi meninggalkan dunia. Sabarlah sayang, ada aku yang selalu menemanimu.

Hari berjalan dengan cepat. Kamu telah mengenalkan aku dengan keluargamu. Aku bahagia karena mereka menyambutku dengan baik. Bahkan menganggap aku seperti anak mereka sendiri.

Advertisement

Tahun 2015, Tak terasa kini sudah 6 tahun kita menjalani hubungan yang sangat indah ini. Tiba-tiba datang orang ketiga di dalam hubungan kita. Tidak, kamu telah membuatku terluka. Aku tahu maksudmu, kamu tidak ingin melukai hati temanmu yang telah menaruh hati kepadamu. Tapi ingatlah ada aku yang sedang terluka melihat sikapu kepadanya. Aku mulai cemas akan keberadaannya di dekatmu. Ah untunglah kamu telah kembali seperti dulu. Kamu meninggalkannya demi aku.

Sepertinya sudah waktunya kita untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Yaitu jenjang pernikahan. Tapi tampaknya kamu belum siap menuju pernikahan. Tenanglah aku pasti akan menunggumu.

Maret 2016, Kini hubungan kita sudah berjalan 7 tahun. Orang Tua ku mulai merisaukan aku yang tak kunjung kau nikahi. Pertengkaran kecil sering terjadi antara kita. Semua ini karena desakan orang tua ku yang ingin anak gadisnya segera dinikahi. Kamu pun eminta izin kepada Orang Tua mu untuk mendatangi rumahku dan bertemu kedua orang tua ku untuk meminta izin melamarku. Rasanya hari itu adalah hari yang paling bahagia di dalam hidupku. Akhirnya kamu menikahiku sebentar lagi.

Hingga tiba dimana Orang Tua mu datang kerumahku. Hati ini rasanya berdetak tak karuan ketika menunggu kamu tiba.

Tetapi tiba-tiba orang tua mu berkata "Kuliah s2 sambil menikah apa tidak akan mengganggu konsentrasi nantinya". Rasanya bagai di sambar petir mendengarperkataan itu. Orang Tua mu tidak menyetujui apabila kita melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.

Rasa kecewa yang sangat dalam muncul di dalam diriku saat itu. Malu dan merasa bersalah terhadap orang tua ku yang aku rasakan. Ternyata kamu datang kembali menemuiku, kamu memperjuangkan hubungan kita. Dan kamu bertanggung Jawab atas keinginanmu untuk menikahiku.

Saat itu juga hatiku merasa tenag. Kamu yang selama ini cuek, seolah tidak peduli terhadap hubungan kita, Ternyata begitu bertanggung jawab dan memperjuangkan keinginan kita.

Itulah yang dinamakan cinta, tak perlu diungkapkan dengan banyak kata dan perbuatan. Kini aku mengerti bagaimana cintamu kepadaku.

Semoga keinginan kita untuk menikah segera tercapai….