Siapa yang ga punya otak? Mungkin di kehidupan sehari-hari banyak terdengar umpatan, “Ga punya otak lo!”, namun nyatanya semua orang pasti punya organ berkapasitas 1100-1300 cm3 tersebut. Di organ inilah semua kreativitas, ide, dan pemikiran kita berawal. Bagi seorang manusia (atau kebanyakan), bisa dikatakan kalau otak adalah harta karun mereka.

Sayang, dari banyaknya pemikiran yang terlintas, tidak sedikit juga yang hilang tersapu arus bernama ingatan. Padahal siapa yang tahu kalau ternyata pemikiran tersebut bisa menjadi ide dari sebuah inovasi?

Sebelum membahas topik ini lebih lanjut, mari membahas sedikit tentang otak.

I can’t deny the fact that our brain is an amazing thing, tapi seberapapun hebatnya suatu hal pasti ada batasannya. Otak kita hanya mampu menyimpan informasi sementara dalam jumlah yang terbatas, kurang dari 18 detik untuk suatu hal (https://en.wikipedia.org/wiki/Short-term_memory). Ini yang disebut memori jangka pendek.

Bila tidak dipraktekkan atau diulang-ulang, sulit bagi kita untuk mengingat suatu hal, misalkan seperti nomor telepon. Tanpa adanya pengulangan atau tindakan untuk mengingatnya, maka secara otomatis hal tersebut akan digantikan oleh hal-hal baru.

Advertisement

This is why, taking note is important. Dengan keterbatasan otak kita, mustahil bila kita hanya mengandalkan otak kita dalam mengingat. Selain itu, mencatat juga mempunyai banyak keuntungan lainnya seperti mengingatkan Anda saja yang perlu Anda lakukan sepanjang hari agar tidak terlupa.

Tapi, apa yang harus dicatat kalau tidak ada ide yang terpikir?

Read, it helps a lot. Dengan membaca, kita dapat belajar hal baru, and it could be a habit for a lifetime. Mengurangi stres, memperluas pengetahuan dan gudang kosakata, mempertajam ingatan, dll, dsb, dst. I could go on and on about the benefit of reading. Jika kita terus belajar hal baru maka pemikiran baru akan datang dengan sendirinya.

Bila sudah menjadi kebiasaan, membaca tidak akan terasa seperti sesuatu yang melelahkan lagi, sehingga kita dapat merangkum poin penting secara lebih efektif. Dengan begitu, mencatat sesuatu yang penting akan terasa lebih mudah.

Ngomong gampang, praktek susah. Gue setuju dengan kata-kata ini, emang jauh lebih gampang ngomong daripada mempraktekkannya. Tapi kalau gue bisa, why can’t you?

As I mentioned on my first post, gue punya ADHD, penyakit mental yang bikin gue sulit fokus ke suatu hal. Membaca jelas menjadi sesuatu yang susah buat gue, gue gampang banget ke-distract. Gue sering banget lagi di tengah ngerjain sesuatu, abis itu ditinggal atau jadi tertunda karena ke-distract hal lain. Seperti dikutip dari Wikipedia, Inatensi: “Kurangnya kemampuan untuk memusatkan perhatian misalnya jarang menyelesaikan perintah sampai tuntas, mainan sering tertinggal, sering membuat kesalahan, mudah beralih perhatian (terutama oleh rangsang suara)”.

Anggaplah gue lagi baca, ngeliat/ngedenger sesuatu di sekitar gue akan membuat gue fokus ke hal itu, so it’s hard to concentrate. Mungkin terdengar remeh, but it hinders us a lot.

Gue tertarik untuk baca, tapi karena susah, gue udah menyerah duluan. I’m making an excuse for myself so I could skip the hard part. Kalau mau berusaha lebih, pasti ujung-ujungnya bisa, asal kita berhenti membuat alasan.

Lets face it, in the end, we’re just making excuses for ourselves.

Anyways, dengan membaca, kita akan lebih mudah merangkum kesimpulan dari sesuatu, baik bacaan ataupun percakapan. Selain itu, secara tidak sadar kita juga me­-mindset otak kita menjadi lebih efisien dalam sesuatu.

Kembali ke topik awal, tidak ada salahnya bila kita mulai membiasakan diri untuk mulai mencatat, atau mulai membaca. For me, it both comes together. Dengan membaca, kita belajar untuk mencatat, begitu juga sebaliknya.

“The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you'll go.” – Dr. Seuss

PS: Maaf bila beberapa artikel yang dicantumkan berbahasa Inggris. Hal ini dikarenakan tidak adanya artikel sejenis yang menggunakan bahasa Indonesia.