"Apakah kau masih ingat dengan Bagus?" tanya istriku di malam pertama, di hari kedua pernikahan kami. Tak sempat kami melangsungkan malam pertama di hari pertama setelah resepsi yang melelahkan.

Malam pertama kami tertunda kembali. Kali ini kami malah bernostalgia ke masa-masa kuliah dulu. Bagus adalah sahabatku, dia adalah seniorku. Kami berkenalan saat OSPEK.

Saat hari terakhir OSPEK angkatannya, Bagus tak bisa ikut karena demam tinggi dan terpaksa dia harus dibawa ke rumah sakit. Bagus akhirnya harus mengulang kembali OSPEK-nya. Di kampus kami, OSPEK adalah salah satu syarat dari kelulusan. Jangan sampai nanti dipermasalahkan dan tak jadi diwisuda.

Seperti namanya, dia tampan, berkepribadian baik dan terlalu sopan untuk ukuran seorang pria. Dia jugalah yang mengenalkanku dengan Desi, istriku saat ini. Mereka berdua satu komunitas pencinta film indie. Kami bertiga selalu pergi bersama-sama, kecuali untuk urusan kamar mandi.

Awalnya, Desi ku anggap sebagi sahabatku juga, namun perlahan bersemi menjadi cinta. Akhirnya kami berpacaran dan itu membuat Bagus kesal. Saat akan kami tanyakan alasannya, dia terus menghindari kami.

Advertisement

"Apa Bagus menyukaimu juga?" tanyaku pada Desi.

"Sepertinya tidak, perasaan wanita sangat peka ketika ada seseorang yang menyukainya. Aku tidak merasa bahwa Bagus menyukaiku."

"Lantas apa?" tanyaku.

"Suatu hari, aku memergoki Bagus menangis di kamarya kosnya. Dia menangis sembari menatap fotoku. Aku kaget setengah mati. Aku menghampirinya, dan aku tanyakan langsung kepadanya."

"Apa kau masih menyukaiku?"

"Bagus tak berkata apa-apa, air mata terus mengalir dari kedua matanya yang sipit. Ku peluk dia untuk menenangkannya, tetapi Bagus malah menangis semakin menjadi."

"Aku lelah harus terus-menerus berbohong pada Desi," ucapku. Bagus mulai melepaskan diri dari pelukanku. Dia mengusap kedua pipinya yang basah oleh air mata.

"Kau masih ingat dia, kan?" tanya Desi membuyarkan lamunanku.

"Mantanku dulu?" ucapku ragu-ragu.

"Iya, mantanmu." Balas istriku dengan memasang wacah kecut.

Sebelum aku mengenal Desi, sebenarnya aku sudah menjalin sebuah hubungan 'aneh' dengan Bagus. Dia sungguh tampan dan entah kenapa, aku merasa percaya diri jika berjalan bersamanya. Aku pun sering meminjam uang padanya. Bagus tak pernah mempersoalkan hal tersebut, sekalipun aku selalu telat membayarnya.

Asal kau tahu, ciuman pertamaku bukan dilakukan kepada seorang wanita tetapi pada Bagus. Ciuman itulah yang membuatku depresi, sekaligus marah. Ku suruh dia untuk mencarikanku seorang wanita untuk ku pacari. Dia mengiyakan, sekalipun ku lihat matanya berkaca-kaca.

"Kenapa kau mau melakukan semua itu?" tanyaku padanya.

"Sekalipun aku amat mencintaimu, tetapi aku tidak bisa memaksakan dirimu untuk mencintaiku juga. Aku hanya ingin melihatmu bahagia."

"Maaf, mungkin hubungan kita ini hanya sekedar sahabat dekat saja, tak lebih dari itu. Sekali lagi maaf, jika aku tidak bisa membalas cintamu. Terima kasih untuk semua kebaikanmu selama ini," ucapku sedikit kelu.

Semenjak itu, aku dan Desi tak pernah melihatnya lagi di kampus. Beberapa teman seangkatannya memberitahu kami bahwa Bagus sudah pindah ke luar negeri.

Beberapa tahun kemudian. Aku yakin bahwa Desi adalah orang yang open minded, ku beritahu perihal hubunganku dengan Bagus setelah kami diwisuda. Dia sedikit terkejut, tetapi bersikap sewajarnya.

"Toh itu masa lalu, sekarang jalani saja apa yang ada." Desi berkata dengan santainya, tetapi masih ku ingat dengan jelas bahwa matanya berkata lain. Matanya terlihat berkaca-kaca, seakan sedang menahan luapan emosi. Hal tersebut membuatku teringat kembali dengan Bagus yang dulu pernah kusakiti.

"Bagaimana dengan malam pertama kita?" tanyaku saat ini.

Ku lihat Desi tampak kesal, dia sedang bersiap-siap untuk tidur dan mulai menyelimuti dirinya. Segera kupeluk dia, dan ku ciumi pipinya. Kami tertawa dan mulai bergumul satu sama lain, melupakan sejenak kenangan Bagus yang sempat singgah di malam pertama kami.