Dari awal pertama kita saling menemukan, aku berharap bahwa kau yang akan menggenapkan. Dari awal aku berani kau genggam, aku berharap kau takkan menenggelamkan. Dari awal kau hembuskan kata sayang, aku berharap kau takkan menjadikanku layang-layang. Dari awal kau melukiskan pelangi pada langitku yang kala itu abu, aku berharap kau yang akan selalu menerangi. Dari awal kau katakan janji manis, aku berharap kau takkan jadi penuai tangis. Dari awal kita bertukar rindu, aku berharap kau takkan buatku sendu. Dari awal ku titipkan hati, aku berharap kau takkan mainkan hati. Dan dari awal kekagumanku akan dirimu, tak pernah terbersit dalam benakku bahwa pada akhirnya kau hanya sekedar transit dalam hidupku, lalu pergi meninggalkan angan, kenangan, juga genangan.

Aku terlalu berimajinasi bahwa kau yang terbaik, tanpa pernah sedikitpun memikirkan bahwa kau seperti kebanyakan dari mereka yang singgah lantas pergi tanpa perasaan. Segala perkiraan baikku akan sosok dirimu ternyata adalah sebuah kekeliruan belaka. Bukan, bukan ku anggap kau tak pernah berbuat baik sedikitpun padaku sewaktu itu. Tapi caramu yang keterlaluan tak sebanding dengan sikap baikmu padaku waktu itu. Caramu yang tanpa perasaan menenggelamkan segala kenangan baikmu pada diriku. Bukan, bukan ku tak pandai berterima kasih, tapi coba sejenak bayangkan jika kau ada di posisiku, mungkin kau akan sedikit mengerti. Sayang, kau tak pernah ingin mengerti. Dan kini aku mengerti, segala perasaan tulus pada dirimu hanya sebuah kekeliruan.

Bagaimana mungkin diri ini terlupa dan bagaimana mungkin hati ini tak perih oleh sebab dirimu. Jika bisa, boleh kita bertukar jiwa barang sejam? Sehari? Atau perlu lebih lama lagi agar kau mengerti berapa lama aku harus menahan sakit ini? Atau lima menit saja? Sebab kau takkan kuat jadi diriku, begitukah? Dengarkan, kau di mana saat aku terbaring sakit? Padahal pada saat itu berapa kali ku hubungi dirimu, tapi tak ada jawaban di sana. Jujur, saat itu aku hanya ingin ada balasan pesan singkat darimu yang menanyakan apakah aku baik-baik saja, terlebih ingin ada dirimu di sampingku. Nyatanya nihil. Tak ada satupun pesan singkat darimu untuk sekedar menguatkanku. Dan baru ku tahu, pada saat itu kau tengah bermanja bersama yang lain. Tak ada yang lebih tega selain dirimu ternyata. Kau di mana saat aku tengah berurai tangis karena ujian menghimpitku?

Baru ku tahu, ternyata kau tengah berurai tawa, berdua. Lalu, kau di mana? Saat aku akan menghadapi sidang skripsi dan yang aku butuhkan hanya sekadar kata semangat darimu. Tak ada sedikitpun kau berusaha menyemangatiku. Baru ku tahu, kau tengah menikmati senja berdua, saling bergandeng tangan di sebuah pantai dan bersua. Bisa kau bayangkan perasaanku pada saat ku lihat siluet dirimu dengannya saling bergandeng tangan di sebuah senja itu? Bisa kau rasakan betapa sakitnya hati yang ku jaga mati-matian ini? Tidak, orang yang tengah berbahagia memang takkan merasakan sakit yang kita derita.

Sungguh, aku mati-matian menjaga perasaan dan hatiku untukmu, tapi kau mati-matian mematikan perasaan yang dulu menggebu untukku. Lantas bagaimana dengan perempuan yang sekarang berada di sebelahmu itu? Dia tahu tentang kita tapi dia tak mau tahu. Dia tak peduli ada seseorang yang sejenis dengannya, tengah menahan luka oleh sebab kalian. Aku tak pernah menyangka, bagaimana mungkin sesama perempuan tapi buta perasaan. Ternyata kalian sama-sama buta perasaan.

Advertisement

Tak pernahkah kau berpikir, bagaimana jika engkau yang ada di posisiku wahai perempuan penggantiku? Kau juga lelaki yang dulu begitu lembut dan hangat, tak pernahkah kau berpikir, bagaimana jika dirimu ada di posisi diriku? Adik-adikmu semuanya perempuan, bukan? Nah, tak pernahkah kau berpikir, bagaimana jika adik-adikmu yang ada di posisiku ini? Apa kau juga akan sedingin ini? Tanpa peduli apapun yang terjadi, siapapun yang terluka oleh sebab dirimu, begitukah? Boleh ku bertanya, pikiran macam apa yang ada di kepalamu saat itu? Mungkin saat itu yang kau pikirkan hanya dirimu dan dirinya sedang dimabuk kasmaran. Ironisnya aku tengah dicambuk kenangan yang menyebabkan genangan di setiap malam. Tapi engkau tak pernah paham.

Kecewa, sedih, menangis, marah, tak perlu dikata. Hampir tak ku kenali sosok dirimu saat ini. Entah monster macam apa yang merasuki tubuhmu. Tak ada dirimu, tak ada sosokmu yang dulu begitu hangat, yang dulu begitu lembut. Yang ku temui, monster tak berperasaan yang tak peduli siapa lawannya. Selalu ada pembenaran atas segala hal yang kau lakukan. Bahkan menyakitiku kau anggap suatu pembenaran. Kau membenarkan apa yang telah kau lakukan kepadaku. Oleh sebab itu, kau berlenggang bebas tanpa merasa bersalah. Malah, kau semakin bebas menikmati bumbu-bumbu kasmaranmu dengannya. Pedih, seseorang yang paling ku jaga perasaannya, paling ku kagumi perilakunya, paling ku peluk erat saat kau rasa berat, adalah seseorang yang paling kuat menyakiti. Dan lebih kejam lagi, orang-orang malah membenarkan apa yang telah kau lakukan, seolah-olah mereka ada dipihak dirimu. Seolah-olah mereka mendukungmu atas apa yang kau lakukan, bukan membantuku untuk bangkit.

Saat itu, selepas kepergianmu, hari-hari terasa berat. Hampir tak ku kenali mentari, hujan deras serupa kawan yang harus ku sadari. Aku lebih banyak berdiam diri dalam kamar mencari-cari jawaban atas pertanyaan "Kenapa?”. Saat itu bayangmu masih tinggal di langit-langit kamar meski semakin samar. Terbayang, dirimu dan dirinya sedang bermanja berlatar suka, sementara aku tengah tersungkur berkawan luka. Selamat, kalian tengah berbahagia di atas kepedihanku. Sumpah, aku tak ingin sedikitpun bayangan dirimu dan dirinya yang tengah dimabuk kasmaran itu muncul dalam kamarku. Enyah!

Setelah sekian lama terkurung oleh perasaan semu dari si tuan pencipta janji manis yang pergi meninggalkan tangis, kini aku sadari untuk apa menangisi seseorang yang sudah jelas tak pantas untuk ditangisi. Untuk apa menangisi seseorang yang meninggalkan tanpa perasaan saat diri ini tengah tersungkur. Untuk apa menangisi seseorang yang berbahagia di atas kepedihan orang lain. Untuk apa menangisi seseorang yang buta perasaan. Saat itu juga, ku hapus segala perasaan yang terkenang juga genangaan sisa isak tangis semalam.

Ku tekadkan diriku untuk kembali, meski telah tertikam berkali-kali. Bukan untuk kembali pada si buta perasaan, tapi kembali untuk menyembuhkan perasaan. Memang butuh waktu, dan waktu yang akan menyembuhkan luka-luka yang berliku pada hatiku. Satu hal yang membuatku kembali, aku hanya percaya bahwa janji Tuhan itu pasti. Ia mempunyai rencana yang lebih baik dibalik kesakitan yang kita rasa. Selepas hujan deras, akan ada yang mekar setelah dihujani ke akar-akar. Setelah segala hal yang menyakitkan, akan ada kebahagiaan yang Ia berikan. Kita hanya harus bermetamorfosis menjadi pribadi yang lebih baik. Karena menjadi lebih baik itu harus meskipun digerus terus-menerus.

Meski kata maaf tak selalu menyembuhkan, tapi memaafkan akan menenangkan. Dan mengikhlaskan akan melegakan.

Tetap berproses menjadi lebih baik untuk menjemput keadaan yang lebih baik. Tetap berproses memantaskan diri, meski kemarin tertusuk duri. Karena diri berhak untuk mendapatkan seseorang yang bisa lebih menghargai. Karena diri berhak untuk mendapatkan seseorang yang takkan pernah melepaskan. Maka, pantaskanlah diri! Karena janji-Nya takkan Ia ingkari!