Aku dengan tasbihku, kamu dengan rosariomu.

Kesinilah, kubisikkan tentang perbedaan. Bukan. Bukan karena Aku jantan dan kamu betina. Tapi tentang tasbih dan kalung rosario. Tasbih yang kuikuti geraknya tiap usai sembahyang, juga kalung rosario yang selalu melingkar di lehermu.

Mungkin saja ini seperti cerita roman kebanyakan. Tentang dua keyakinan yang dimiliki masing – masing insan. Tapi ini bukan hubungan dua orang yang dengan mudah mengucap kata "jadian" dan "putus". Kita hanya dua orang yang tak sengaja dipertemukan. Tentang dua betina yang berbeda. Bukan rupa tapi rasa.

Aku merindukanmu. Merindukan perbedaan kita yang acapkali membuat orang lain menengok. Dua perempuan berada dalam satu meja, dengan tawa yang sama tapi berdoa dengan cara berbeda.

Aku merindukanmu. Merindu kebingungan kita mencari kalung rosariomu yang tiba – tiba lenyap dan ternyata tertinggal diatas meja.

Advertisement

Aku merindukanmu. Merindu sabar mu ketika kupanjatkan doa – doa dalam sujut panjangku.

Aku merindukanmu. Merindu kau tawarkan mukena dan tempat sembahyang.

Jarak membuat ribuan hari terakhir menjadi langka untuk sekedar menatap, bersendau gurau diatas meja makan atau sekedar beradu pendapat. Disudut kota manapun kau berada, semoga kita segera dipertemukan. Setidaknya tatap menjadi obat segala macam rindu, sob.

Tasbih ku dan kalung rosario mu memang berbeda. Lewat perbedaan itulah persahabatan kita layak kusebut pelangi tanpa batas warna.