Suatu ketika, kita pasti pernah mengalami kesulitan dalam hidup. Kesulitan dalam belajar, masalah kesehatan, masalah keuangan, sampai masalah kehidupan pribadi. Saya yakin, sedikit banyak kalian pernah mengalaminya, termasuk juga saya. Sebagian manusia berlomba-lomba memohon kepada Tuhan agar dijauhkan dari situasi sulit. Tetapi, ada baiknya kita menyadari bahwa Tuhan perhatian kepada kita.

Dia menguji seberapa sayang kita kepada Sang Pencipta. Jadi, sedalam apapun kita menyelam, setinggi apapun kita terbang, sekencang apapun kita berlari, situasi sulit tetap akan menghampiri dan menyapa kita.

Saya yakin tidak mudah untuk tersenyum dalam kesulitan. Saya yakin, untuk melakukan itu sangat diperlukan keikhlasan yang ekstra. Situasi sulit memang menyakitkan, tetapi yakinlah dan percayalah bahwa Tuhan tidak akan menguji melebihi kemampuan kita. Satu lagi yang penting, yakni kita akan menjadi lebih dewasa dari situasi sulit yang kita hadapi.

Senyum penerimaan atas segala kesulitan yang dihadapi memang pahit untuk jadi penghias di bibir. Terkadang malah lebih sering menangis atau bahkan berusaha untuk tidak menangis. Ya, menangislah jika itu membuat lega karena menangis adalah suatu tindakan saat kita tidak bisa berkata.

Sedikit mengutip dari tulisan yang pernah saya baca,

Advertisement

”Sebagaimana logam yang sedang dibuat menjadi patung indah, kesulitan memang terasa seperti semprotan panasnya api mesin las. Dihajar oleh palu besar, kencangnya cubitan tang, menyakitkannya goresan-goresan amplas kasar, atau malah tidak enaknya bau cat yang menyelimuti seluruh badan patung logam. Semua tahu, kalau badan dan jiwa ini kemudian akan menjadi `patung logam` yang lebih indah dari sebelumnya. Tetapi tetap saja ada sisa-sisa ketakutan dan bahkan mungkin trauma yang membuat kita manusia menghindar dari kesulitan.”

Ya, untuk menjadi pribadi yang lebih baik terkadang kita harus melewati situasi sulit, mengikhlasan sesuatu, atau melakukan suatu tindakan yang akan membuat kita dewasa. Itulah sebabnya, terkadang seseorang terlihat lebih dewasa dari usianya.

Di sisi lain, ada sesuatu yang amat penting. Ada sosok yang amat diperlukan dan amat dibutuhkan untuk melewati situasi sulit dan menyakitkan. Sosok itu bernama sahabat.

Walau terkadang mereka kurang ahli dalam memberikan solusi, tetapi dengan kesediaannya meluangkan waktu untuk kita, mendengar ocehan kita yang panjang lebar plus tinggi, empati yang ia tunjukkan kepada kita, tanggungjawabnya menjaga rahasia, bahkan menampar kita dari depan bukan dari belakang. Ini seperti air di padang pasir. Tak banyak tetapi berguna.

“Ada dua hal yang harus kita ketahui saat kita mengenal orang lain. Pertama, orang itu akan menampar dari depan. Kedua, orang itu akan menusuk dari belakang.”

Apa yang ingin saya ungkap dari semua ini adalah sahabat ialah hadiah terbaik yang bisa kita berikan untuk diri sendiri. Jika saya diberi kesempatan untuk memberikan kado terindah untuk sahabat saya, saya pikir tidak ada yang lebih indah dengan memberinya rasa empati, menjaga rahasianya, meluangkan waktu untuknya, memberikan solusi sebisa saya (meski saya tidak ahli), dan yang sangat penting menjadi pendengar yang baik untuknya.

Jumlah sahabat saya memang tidak banyak, mungkin lebih sedikit dari hitungan jari tangan dan kaki yang kita miliki. Percaya tidak percaya, mereka mungkin sering tak hadir di hari ulang tahun kita tetapi mereka bakal hadir dalam situasi sulit, men-support kita, menjadikan kita lebih percaya diri, dan juga memberikan pandangan positif tentang bagaimana kita harus bersikap ke depannya.

Parahnya, ketika kita sedang berada di atas awan, seringkali kita melupakannya, kita sibuk dengan dunia baru, kesenangan yang baru, bahkan teman yang baru. Ketahuilah, sahabat tidak akan mengganggu kita, bahkan mereka akan tersenyum melihatnya. Ia justru akan lebih sering datang ketika amat membutuhkannya.

“Ketika kita terbentur jarak, percayalah hanya doa yang mampu mendekatkan.”

Baiklah. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian semua yang selama ini menjadi kado terbaik untuk saya.

Kalian begitu berarti. Terima kasih, ya!