Sahabatku, aku ingin kamu membacanya.

Dia yang kamu agum-agumkan bukankah hanya seseorang yang baru saja kau kenal baru-baru ini?

Bukankah aku lebih lama kau kenal?

Dia yang kamu banggakan keberadaannya, bukahkah aku pun sebelum dia hadir selalu menemanimu?

Dia yang kamu istimewakan setiap harinya, bukankah sebelumnya dia tidak pernah ada di dipikiranmu?

Advertisement

Dia yang selalu kamu nomor satukan itu apakah lebih berharga dari pertemanan kita?

Sahabatku,

Bukan karena aku cemburu pada sosok yang sudah mengambil alih rasa sayangmu untukku, mana mungkin pula aku melarangmu untuk selalu bersamanya. Bahkan aku senang melihatmu bersama sosok yang ku lihat senantiasa menyayangimu dengan utuh dan seluruh. Pun untuk kebahagiaanmu aku tak pernah lupa untuk mendoakannya.

tapi,

Kenapa rasanya aku selalu menyimpan sedih ketika sesekali aku punya ingin bertemu lalu aku menghubungimu dan yang aku dapati selalu jawaban,

"aku nanti mau keluar sama cowokku"

menghelai nafasss

_________________

Aku rindu duduk berdua memesan kopi dan membagi cerita bersamamu. Aku rindu menertawakan lulucon konyol yang kita buat sendiri. Aku rindu membagi keluh hingga kita menangis dan saling menguatkan.

Apa kau tak merindukannya?

Waktu adalah hal yang tak pernah salah, kita yang salah. Karena waktu tak pernah bisa berhenti. Kecuali jam dinding mu kehabisan baterai.

Mungkin aku terlalu pengecut untuk menanyakan "adakah waktu luangmu untuk ku ganggu?". Tidak, aku hanya tidak ingin kamu tau kerinduanku, karena aku tau dan aku yakin aku akan punya jawaban atas rindu yang ku tahan beberapa waktu ini semenjak kamu mengenal dan memilih untuk hanya menghabiskan waktu dengan dia~ yaitu "perjumpaan" kita.

Dan sabahatku,

Aku pasti dan akan senantiasa menunggu "waktu" yang tepat untuk kita bertemu, berjumpa, berpelukan dan menghabiskan waktu seperti sebelum "kamu mengenalnya"~

I MISS YOU.