Kamu hadir di hidupku sesukamu. Kamu datang saat kamu bosan dengan rutinitasmu. Menghubungiku saat kamu tak punya teman lain untuk dihubungi. Bersikap baik saat kamu membutuhkan bantuanku. Dan bertemu denganku hanya untuk hal-hal yang penting bagimu. Kamu lebih banyak hilang ketimbang datang. Kamu tak ingat aku saat kamu sibuk dengan duniamu. Kamu tak menghubungiku saat banyak orang menghubungimu. Kamu enggan menemuiku meski kukatakan rindu padamu menyiksaku.

Aku sepenuhnya sadar, bahwa aku tak diistimewakan dalam daftar pemeran hidupmu. Aku—mungkin—hanya figuran?

Kamu, yang telah membuatku jatuh.

Biar kutanya lagi padamu.

Adakah wanita yang mencintaimu sesabar aku?

Advertisement

Saat kamu lebih memilih tidur ketimbang mengangkat panggilan dariku. Saat kamu lebih memilih nongkrong dengan teman-temanmu ketimbang menemaniku. Saat kamu lebih memilih pergi dengan teman-temanmu ketimbang pergi denganku. Saat kamu lebih memilih meladeni perempuan lain ketimbang membalas pesan dariku. Pernahkah aku marah? Adakah aku menunjukkan cemburu?

Kamu tahu betapa sulit aku menekan perasaanku sendiri? Aku juga ingin seperti perempuan lain, yang bisa menunjukkan perasaannya dengan leluasa tanpa takut kehilangan. Tapi aku tak bisa begitu, aku sangat berhati-hati denganmu. Aku takut kamu tak suka jika aku cemburu, aku takut kamu marah jika aku kesal padamu, aku takut kamu jengah jika aku menunjukkan rasa kecewaku. Aku takut kehilanganmu, ketahuilah itu.

Denganmu, aku belajar untuk tidak egois. Sabar adalah caraku menjaga kamu.

Sudah berapa kali kamu membatalkan janji tanpa kabar? Saat aku sudah berharap dengan hati yang girang, bersiap-siap di depan cermin begitu lama, dan menunggu. Kemudian kamu tak membalas pesanku, mengabaikan panggilanku, hingga malam sangat larut dan aku mengganti lagi pakaianku. Tak terhitung jika kugunakan keesepuluh jariku. Saking seringnya, sayang. Tapi, pernahkah aku marah? Atau sekedar mengabaikanmu sementara waktu? Tidak pernah. Bahkan kamu tak meminta maaf, dan aku bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

Aku tahu rasa ini sepihak.

Hanya aku yang memikirkanmu lebih.

Hanya aku yang menyayangimu tulus.

Hanya aku yang terlalu peduli.

Hanya aku yang terlanjur cinta.

Hanya aku yang berjuang.

Dan aku tetap bertahan.

Apakah aku bodoh? Kurasa, setiap orang akan berada pada titik paling bodoh saat mencintai.

Kamu—kata temanku—bukan pria yang baik. Tapi hatiku telah terkunci pada pria sepertimu. Jadi yang bisa kulakukan hanya menjalani meski sering tersakiti. Karena pergi bukan pilihan yang ada dalam kepalaku.

Cinta, masihkah kurang pengorbananku untukmu? Aku—sebenarnya—tak suka berhitung. Tapi disini, coba kita sedikit mengingat.

Kamu menganggu wanita lain di depan mataku. Seolah aku yang berdiri di dekatmu hanya patung bisu. Kamu bilang hanya becanda. Tahukah kamu betapa palsu tawa yang terlontar dari bibirku?

Kamu duduk bersama wanita lain saat aku lewat di depanmu. Kamu bilang hanya teman, dan aku pura-pura sanggup menyapanya. Tahukah kamu ada sedikit gerimis yang berusaha keras kusembunyikan?

Kamu pura-pura tak melihatku saat jelas-jelas aku memandangimu lekat dengan mataku. Di depan teman-temanku yang ramai berbisik ada kamu, aku pura-pura tegar. Tahukah kamu betapa aku merasa diabaikan saat itu?

Aku tahu, dengan pekerjaan memotretmu, ada banyak wanita cantik berkeliaran di duniamu. Aku pun tahu, tak sedikit dari mereka yang dekat denganmu. Aku tahu, sayang.

Tapi aku tetap saja menempatkan kamu, sebagai satu-satunya pria yang mengisi ruang kosong di pikiran juga hatiku. Kurang apa aku padamu, cinta?

Banyak, masih banyak keping sabar yang kuserahkan cuma-cuma padamu.

Dan yang paling menyakitkan, biar kutempatkan di akhir.

Ingatkah kamu? Saat kamu marah padaku karena aku memberikan perhatian yang tulus padamu? Kamu bilang aku mengganggu. Tapi di saat yang sama, kudapati kamu begitu mesra dengan perempuan lain. Sekali lagi, aku pura-pura tak mendengar dan melihat.

Setelah lukaku kering, kamu datang lagi seolah tak terjadi apa-apa. Pintuku tetap terbuka, sayang.

Kamu, silahkan datang dan hilang sesukamu karena itu hakmu. Silahkan dekati siapapun sebanyak yang kamu mau karena itu hidupmu. Silahkan bersikap semaumu karena aku tak punya hak mengatur kamu.

Dibanding kehilangan kamu, aku lebih mampu bertahan. Tak pernah bosan kuselipkan harapan agar suatu saat keras hatimu luluh. Tak pernah lelah kukirim angan agar suatu saat kamu berubah. Dan sejauh waktu yang panjang hingga sampai pada suatu saat itu, biar aku bersabar mencintaimu.

Terakhir, untukmu.

Kelak, saat kamu mendapati dirimu merenung. Kamu akan sadar.

Sangat sulit, menemukan wanita yang mencintaimu sesabar aku.