Sudah sepekan terakhir kau hadir dalam notif hapeku. Menyapa dan menyapa. Ya sekedar itu, bertanya hal – hal yang menurutku tak terlalu penting. Sayangnya, itu buatku berperasaan.

Entah darimana aku bisa mengenalmu, ingatanku sudah cukup buram untuk mengingat hal semacam itu. Banyak orang berlalu lalang di kehidupanku dan kemudian menghilang. Seperti kau, laki – laki yang selama ini entah bisa ku sebut apa. Laki – laki yang tak lupa absen buatku tertawa dan galau tak ada ujungnya. Laki – laki yang biasa saja dengan kaos polo andalannya, sayangnya kami belum sempat bertatap muka. Konyol memang, ketika aku mulai berperasaan padamu. Mulai ingin mengenalmu lebih dalam lagi, ah itu tidak mungkin. Mungkin aku hanya suka caramu buatku tertawa, ya bercandamu! Ku suka itu! Sekedar bercanda layaknya semua orang juga tak perlu berpikir dua kali untuk melakukannya. Sayangnya aku bukan komedian, sayang.

Sungguh aku sudah lelah dengan bercandamu yang buatku berperasaan. Tawaran perhatianmu yang cukup menawan, ajakanmu yang seakan mengajakku selalu terbang di langit dan suaramu yang buatku sedikit geli. Ah itu semua takkan jadi milikku, bercanda memang. Bisakah kita berbicara serius? Tentang sebuah rasa mungkin? Atau kau akan mengakhirnya? Sakit memang…

Ku rasa sudah cukup kau ganggu otakku selama ini dan kau tahu? Ku ingin segera mengakhirinya. Tetapi mengapa waktu tak pernah izinkan aku sekedar menghapus jejakmu di ponselku? Mungkin waktu tak ingin aku menyudahinya.

Lalu bisa kau jelaskan padaku apa 'bercandanmu' sekedar bercanda?