Hai kamu, yang terus menerus menarik lalu menghempaskan, meraih lalu meninggalkan, menggenggam lalu melepaskan. Sewindu kita bersama, dengan cerita penuh liku. Kamu yang asyik sendiri tetiba lupa, aku yang terlupa mencoba mengalihkan duniaku. Tapi entah alam entah waktu mempersatukan kita kembali, iya kembali, kembali bersama tanpa sebuah ikatan.

Hanya kita, kita berdua dan tentang kita, aku menyebutnya "dunia kita". Kamu yang ego dan aku yang terlalu menyayangimu. Aku yang penuh emosi dan kamu yang tenang, aku yang rumit dan kamu yang sederhana. Entah apa yang membuatku begitu terlalau menyayangimu. Kamu Pria dengan hati yang riang, bukan perkara sulit untuk mencari pelabuhan hatimu dan kamu yang hobi berkelana dan aku yang terlalu sulit membuka diri.

Dengan berjalannya waktu, kita semakin tumbuh dewasa dengan hubungan yang makin membaik dan hangat, tapi mau dibawa kemana arah hubungan kita. Kamu bilang terlalu takut menyakitiku, takuta ku semakin jatuh kedalam kesakitan, khawatir aku menjadi semakin trauma akan kisah masa kecil. Kamu yang paling tau kehidupan apa yang aku jalani, kamu bilang aku terlalu baik untukmu.

"Bukankah semua orang ingin mendapatkan pasangan yang baik ? Naifkah kamu ? Munafikkah kamu ?"

Lalu apa yang kamu mau, kamu tau hidupku hanya terisi olehmu, lingkaran keluargaku, teman – temanku yang mereka tau hanya kamu. Aku mencoba untuk menikmati semuanya menikmati proses demi proses perjalanan kita, mencoba memahami mimpimu, mencoba mendekat pada keluargamu tapi semua yang kulakukan tak membawamu menuju arahku dengan pasti.

Advertisement

Sayang, kita terlalu dewasa untuk terbelenggu pada kisah cinta remaja ini, tak maukah kamu menajadikanku bagian dari mimpimu, membangun mimpi dan masa depan, membahagiakan keluarga kita dan menua bersama? Tak maukah kamu menggenggamku dan kita berjalan beriringan, tak lagi saling berkelana? Apalagi yang kau tunggu?

Bila katamu dalam pelukanku adalah tempat kau terteduh? Bila nyatanya kita seperti "rumah" untuk saling kembali dan kembali lagi, sejauh apapu kita berlari melawan arah pada akhirnya kita kembali, seperti rumah yang berteduh dari keajmnya dunia, bila dunia kita sebegitu nyamannya untuk kita singgahi. Apa yang harus kita tunggu lagi ? Sayang, taukah kamu berkali – kali aku mencoba lari darimu, bersembunyi dari besarnya perasaan ini, dari rindu yang menggebu, dengan hati yang tertutup rindu ?

Tapi kamu berkali – kali mecoba datang, dengan senyummu, dengan segala tipu dayamu, dengan tangan hangat yang selalu nyaman kugenggam, dan kita kembali lagi menjalani hari – hari yang bahagi "dunia kita" begitu aku menyebutnya, tapi berkali – kali kamu pergi lagi, menghempaskan lagi, melukai lagi.

Sayang, aku lelah, bagaimana aku melepasmu dengan rasa rindu yang menggebu, dengan rasa cinta yang tulus.

Haruskah aku pergi ? dengan hati yang tak kunjung terisi ?