Sulit memang menerima kenyataan, sekalipun kenyataan itu menyenangkan. Ketidakpercayaan adalah yang utama ketika menerima sebuah kenyataan. Kadang rasa kagum, kaget, gembira, sedih, haru, dan sebagainya, bertemu di persimpangan tersebut. Entah yang mana paling kencang diantara mereka, tapi yang jelas, pertemuannya tidak bisa tergambarkan oleh kata-kata. Demikian cinta, adalah hal yang lumrah bila otak menjadi bodoh karenanya.

Kadang rasa sakit karena telah dikecewakan itu menjadi sebuah kenyataan yang pahit. Jangan pernah heran dengan kenyataan seperti itu, karena memang begitulah kebiasaan cinta. Ia akan manis bila kau rasakan dengan gula, dan terasa pahit tanpa gula. Tapi pernahkah kau merasakan, ketika meminum sesuatu yang sudah diberi gula, namun tetap saja rasanya pahit? Seseorang yang pernah tenggelam dalam lautan cinta pasti sempat merasakannya. Bukan salah gula, bila rasanya tetap pahit. Jangan juga salahkan jenis minuman yang kau minum. Apalagi sampai harus menyalahkan proses pembuatannya. Salahilah lidahmu, yang sedang tidak benar dalam bertugas. Salahi pula caramu meminum yang mungkin saja tidak benar memperlakukan minuman tersebut. Maka begitupun dengan cinta, yang mana menurutmu telah mengecewakan diri.

Aku selalu berdoa kamu mau denganku. Kukira Tuhan lebih berkuasa daripada kau!

-Pidi Baiq-

Kadang kau mengingat kejadian-kejadian bersamanya. Mungkin sempat berbagi perasaan di satu meja dengan alunan musik klasik yang asyik. Mungkin pernah memesankan minuman ketika ia sedang terselak. Atau menjadi bodoh di hadapannya ketika ia meminta untuk mencicipi makanan dan minumanmu. Tak ada yang salah dalam kejadian itu, sebab kau sedang dalam tahap jatuh hati, bahkan mungkin jatuh cinta. Dan di saat seperti itu, maka ekspektasimu melayang-layang, membayangkan ia menjadi teman hidup. Membayangkan ia menjadi pembuka harimu, peneman di teriknya siang, dan penutup harimu yang lelah. Kau akan berharap demikian, dan itu tidak salah.

Aku hanyalah kunang-kunang, dan kau hanyalah senja…, dalam gelap kita berbagi, dalam gelap kita abadi

– Film: LOVE-

Advertisement

Sesaat kau yakin ia akan jadi seseorang yang mengisi hatimu. Terlebih dihari-hari yang lain ia begitu antusias terhadapmu. Menceritakan semua kebodohan yang tidak pernah diceritakan kepada oran lain, kemudian tertawa bersama, dan dunia terasa milik berdua. Bahkan ketika kau bertukar pesan di media sosial, entah mana yang menjadi balasan untuk pesan yang dikirim sebelumnya, karena begitu banyaknya kau dan ia bersautan di media sosial. Kau perjelas dengan stiker lucu-lucu dan mewakili hati, begitupun dengan ia. Keyakininmu sangat teguh bahwa ia pun punya rasa yang sama denganmu. Dan kau memasuki hari-hari dimana ponsel pintarmu bersuarakan lagu cinta melulu.

Denganmu, jatuh cinta adalah patah hati paling sengaja

-Wira Nagara-

Menjauh, menjauh, dan menjauh. Di saat kau sedang terlena di lautan cinta, tiba-tiba saja ia melakukan hal itu. Padahal sebelum itu, kau asyik dengannya menghabiskan malam dengan makan dan minum, ditemani canda tawa yang murni. Sebelumnya kau seolah asing pada waktu, coba meniadakan waktu, guna bisa bersama dia, orang yang kau khayalkan. Apa yang salah, mungkin itu adalah kalimat utama yang keluar ketika ia dengan jelas dan terang, menjauh darimu. Tidak ada lagi balas membalas pesan dengan cepat, banyak, dan penuh stiker yang ekspresif. Pertemuanmu dengannya sulit terwujud, bahkan bila itu hanya sekadar lempar senyum, seperti masa lalu. Dan hari-harimu hanya dilalui dengan tiga kata saja, "apa", "yang", dan "salah". Ketiga kata itu, kau amini dengan tanda tanya yang lengkungannya indah bak senyuman.

Jangan pergi agar dicari, jangan sengaja lari agar dikejar. Berjuang tak sebercanda itu

-Sujiwo Tejo-

Kawan, sulit memang menerima kenyataan. Perjuangan yang kau lakukan terhadapnya seolah tak berharga, ketika ia menjauh, dan kau tidak tahu apa yang salah darimu. Kemudian seperti yang sudah dijelaskan tadi, kau mencoba menyalahkan gula, jenis minumannya, atau proses pembuatannya. Padahal kau punya lidah, yang tak pernah mendustakan rasa, bahkan sepahit apapun itu. Coba tanya pada perasamu, sehatkah ia? Atau memang kau yang sedang tidak sehat? Dan mungkin juga kau tidak benar dalam meminumnya, kan?

Pilihan ada di kau, melanjutkan pertandingan ketika jiwamu sudah cedera, atau berkata kepada wasit, "Saya menyerah, dia yang menang". Pasti banyak pertimbangan ketika kau ingin memilih. Entah itu dari suara-suara temanmu, musik dari ponsel pintarmu, atau bahkan dari angin, yang menjawab cerita kesedihanmu ketika ia menjauh. Satu yang perlu kau ingat dan simpan dalam batinmu yang tengah kacau ini,

Ia adalah orang baik, yang buatmu jatuh cinta, padahal kau tidak meminta. Maka, baikkah kau?

-Fariz Anshar-