Ketika aku terbangun dari tidur, ku dapati sang surya mulai terbenam di ufuk barat. Itu berarti bahwa sebentar lagi malam datang menjemput. Aku pun mulai beranjak dari peraduanku dan dengan langkah kecil aku menuju ke dapur.

“Eh mama, lagi buat apa ma? Tanyaku kepada mama dengan nada sedikit menggoda”.

“Eh, George, kok baru bangun…?”.

“Ia ma, tadi terlambat pulang dari kampus”. Jawabku dengan suara kecil bercampur sisa kantuk.

“Ow…, baiklah, bantu mama yuk persiapkan makan malam kita!”.

Advertisement

“Okey ma, jawabku dengan nada penuh semangat”.

Aku pun mulai membantu mama mempersiapkan segala sesuatu untuk makan malam nanti sampai tuntas. Setelah menyelesaikan tugas membantu mama di dapur, aku langsung mandi dan setelah itu aku langsung masuk kamar.

Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku saat itu. Tiba-tiba perasaanku diliputi kesedihan begitu dalam. Entah mengapa peristiwa satu tahun yang lalu muncul begitu jelas di kepalaku. Malam itu aku mencoba menuliskan tentang semua yang pernah terjadi di antara kami. Masih ku ingat semuanya. Siang itu sepulangnya dari kampus, Erlin menghampiri aku dan mengatakan bahwa ia akan pindah ke Yogyakarta bersama kedua orang tuanya dalam waktu dekat. Mendengar berita itu aku tersentak kaget dan dalam hati aku berpikir “Harus secepat inikah semuanya berlalu? Padahal ku baru saja mengenal Erlin tiga bulan yang lalu, itu berarti kami akan berpisah?”.

Sehari setelah perjumpaan dengan Erlin itu, aku ternyata memiliki waktu senggang, dan karena cuacanya begitu cerah, aku meminta Erlin menjumpai aku di tempat di mana biasanya kami bertemu. Maka aku meminta Erlin menemui aku jam 16.00 sore. Akhirnya waktu yang telah disepakati antara aku dan Erlin pun tiba. Maka dengan sebuah kawasaki ninja RR, aku langsung meluncur ke sebuah taman di tengah kota Medan.

“Erlin…!”

“Eh… George”, balas Erlin.

“Sudah lama menunggu?” Tanya ku kepada Erlin.

“Ah, tidak, aku pun baru saja sampai”, lanjutnya.

“Ooo.. baiklah kalau begitu”.

Maka ku tuntun Erlin ke sebuah bangku di tepi sebuah kolam tepat di tengah-tengah taman itu. Dari tempat itu, melalui tirai dahan-dahan, di atas kabut tipis tampaklah sebuah bukit di seberang sana yang sangat menakjubkan. Keindahannya menggambarkan kemegahan kuasa Sang Pencipta. Tepatlah seperti yang dikatakan oleh pemasmur… “Langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar”. Yah… saat itu hanyalah rasa kagum, terdiam dan membisu.

Dalam keheningan senja hari itu, aku hanya mampu memandangi dahi Erlin yang begitu indah, pandangan matanya yang jujur, rambutnya yang abu-abu dibiarkannya agak panjang, agak gelombag di dahi dan menutupi sebagian telinnganya.

“Erlin….”. Aku memecah kesunyian di antara kami.

“Ya…?”.

“Kamu benar-benar akan pergi…?”.

“Ia, George, bagaimanapun aku harus pergi. Ini semua demi aku dan kamu juga”.

Aku lama terdiam. Sambil menarik nafas panjang aku berkata dengan lirih, “Erlin, sesungguhnya walau dengan berat hati, aku merelakan engkau pergi. Pergilah ke mana hati membawamu! Aku iklas kok. Namun aku yakin jika Tuhan berkehendak lain, kita pasti akan bersama-sama lagi”.

“Iya, George…”.

“Ada satu hal yang perlu kamu ketahui George”, Lanjut Erlin.

“Apa itu…? Tanyaku penasaran”.

“Semenjak pertama kali kita bertemu, tidak sesaatpun aku melupakanmu”. “Aku juga…” balasku dengan perasaan senag. “Iya George, semenjak aku mengenal kamu, aku merasah bahwa kamulah yang terbaik dari yang pernah aku jumpai dalam hidupku. Kamu sesalu hadir di saat aku membutuhkan bantuanmu. Segala yang baru dalam hidupku pasti ku lakukan bersamamu. Pokoknya sulit kuungkapkan semuanya saat ini. Engkau begitu baik dan tulus kepadaku. Aku tidak bisah membalas semua kebaikanmu George saat ini, aku hanya memohon kiranya Tuhan yang akan membalas semuanya ini. “Erlin… jangan khawatir, Tuhan telah melihat semuanya dan Dialah yang akan membalas setiap perbuatan manusia yang baik maupun yang jahat”. Aku mencoba menguatkan hati Erlin walaupun dalam hati, aku pun merasakan kesedihan yang sama seperti yang dialami Erlin saat itu.

Dua tahun berlalu aku dan Erlin hanya bisah berbagi cerita, canda dan tawa melalui surat dan telepon. Walaupun dipisahkan oleh jarak dan waktu kami selalu saling mendukung dan saling menguatkan di dalam doa.

Pada suatu ketika, aku mendengar kabar dari salah seorang teman dekat Erlin bahwa besok ia akan diwisuda menjadi seorang sarjana muda jurusan sekretaris di sebuah universitas terkemuka di kota Yogyakarta. Mendengar berita itu aku merasa senang. Akan tetapi dalam kesenagan itu, aku bertanya-tanya dalam hatiku “mengapa kabar gembira ini harus aku dapatkan dari orang lain, ah, mungkin Erlin lagi sibuk dengan persiapan pestanya”. Aku mencoba menghilangkan segala pikiran itu dengan mencoba berpikir posetif.

Keesokan harinya, aku menelepon Erlin untuk mengucapkan proficiat atas momen besar yang baru saja ia alami. Aku berpikir bahwa Erlin pasti sangat senang atas ucapan selamat dan surprise dariku saat itu. Namun apa yang terjadi? Ketika aku mencoba menghubunginya, terdengar suara lembut penuh wibawa dari seberang “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi!”. Mulai saat itu, aku kehilangan kabar tentang keberadaan Erlin.

Hari berganti, tahun pun berlalu. Akhirnya pada suatu hari aku di kejutkan dengan sebuah panggilan tak terduga. Ini adalah nomor baru yang sungguh tidak tersimpan sebagai anggota kontak dalam hand phoneku. “Apakah ini Erlin?”, tanyaku dalam hati. Ternyata dugaanku tidak salah. Malam itu, Erlin meneleponku dan mengatakan penyesalan yang begitu dalam atas segala perbuatan yang telah ia lakukan terhadapku.

“George…”.

“Ya…”, jawabku singkat.

“Maafkan aku ya…?”, suaranya mulai terdengar agak berat menahan air mata.

“Atas apa…?” tanyaku seolah-olah tidak tahu dengan persoalan yang telah terjadi.

“Maafkan aku karena telah mengkhianati cinta yang telah bertahun-tahun kita bina bersama. Aku tidak bisah berbuat apa-apa saat itu. Kedua orang tuaku memaksaku untuk segera menikah dengan pria pilihan mereka. Aku telah membuatmu terluka George. Skali lagi maafkan aku”. Dari seberang sana suara tangisnya semakin terdengar memecah kesunyian malam itu. Saat itu, aku kehilangan seribu bahasa. Aku tidak tahu mau bilang apa saat itu.

“Tapi George…”, Erlin melanjutkan lagi pembicaraannya sambil terisak.

“Ya, kenapa Erlin…?”.

“Aku sunguh menyesal atas pernikahan itu George. Aku tidak bahagia bersamanya. Aku ingin kembali kepadamu George. Aku sadar telah menyakiti hati kamu. Maukah kamu menerima aku kembali George?”.

“Erlin…, sesungguhnya sampai kapanpun, bahkan sampai saat ini aku masih menyayangimu. Akan tetapi, sebagai seorang kristen kamu harus ingat bahwa apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Jadi, sayangilah dia sebagaimana engkau menyayangi aku selama ini”. Aku mencoba meyakinkan Erlin agar kuat dalam menghadapi tantangan itu, walaupun aku sendiri harus kehilangan orang yang sangat aku cintai selama ini. Sungguh, kesedihan dan kekecewaan itu begitu dalam di hatiku. Tetapi, sekali lagi aku berpikir bahwa aku harus berkorban demi kebahagiaan orang lain. Bukankah itu yang dilakukan Yesus Kristus di kayu salib untuk menebus dosa manusia?”.

Tiada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang sahabat yang menyerahkan nyawanya demi sahabat-sahabatnya.