Tidak dipungkiri memang, beberapa orang yang tidak begitu mengenalku sering bilang bahwa aku adalah playboy yang sering berganti teman wanita, aku akui memang betul adanya seperti itu. Tapi dalam hati kecilku tak pernah sekali pun diawal aku membina hubungan hanya untuk main-main, aku mengenal dan mempelajari satu persatu sampai apa yang aku cari benar-benar kutemukan. Berganti berarti tidak menemukan apa yang aku cari, berganti berarti nyaman itu pudar ditengah jalan, berganti berarti bahagia itu kian menyusut terbawa angin lalu, berganti berarti ada sesuatu yang tidak bisa diterima di dasar jiwa ini.

Begitupun sebaliknya, mereka yang pernah masuk dalam hidupku juga pasti mencari hal yang sama. Maafkan aku yang katamu playboy, maafkan aku yang katamu memberi harapan palsu, tapi ketahuilah aku tidak pernah berniat untuk hal itu, aku juga tak menginginkan hal itu sebelumnya, aku hanya mencari dan berjuang sebelum garis finish.

Setelah sekian lama aku berdiam diri, memperbaiki, mengoreksi, dan aku mempersiapkan diri ini menemuimu, entah siapapun dirimu itu. Iya kamu, kamu orang yang sering diceritakan kakakku, orang yang setiap minggu mengunjungi bisnis kakakku. Untuk memulai inipun aku tak mau mengenalmu melalui media sosial, aku tak mau stalking di instagram ataupun facebook, aku lebih memilih untuk menyiapkan diri dan bertemu denganmu langsung, menatap matamu langsung, dan berjabat tangan denganmu langsung.

Pagi itu aku pilih kemeja terbaik yang ada di lemari, parfum termanis yang ada di rak,dan rambut yang kusisir lebih lama dari hari sebelumnya. Pagi itu aku merasa seperti Tom Hardy dengan wajah kalem tapi mematikan, mobilpun melaju menuju tempat itu, tempat bisnis kakak yang pagi itu akan kau datangi. Hampir 30 menit aku menunggumu, dan akhirnya kamu datang tepat seperti apa yang kakakku ceritakan. Sebelumnya aku berharap pertemuan itu akan seperti video clip Marry Me – The Train, yang kau akan tersenyum tersipu malu dan manis, tapi tidak pagi itu. Kamu hanya sedikit memberi simpul senyum saat aku menyodorkan tangan untuk mengenalmu, iya mengenalmu untuk yang pertama kalinya. Wajahmu penuh arti, wajahmu penuh tanya, dan caramu membawa diri sungguh membuat jantungku berdegup kencang. Baiklah, mungkin terkesan lebay atau berlebihan, tapi aku gerakkan jari menekan keyboard untuk mengetik ini dengan hati, iya hati yang serius denganmu.

Tak sampai disitu, setelah melihat simpul senyummu, tanya di wajahmu, aku beranikan diri untuk mengenalmu lebih jauh. Menemuimu di tempat kerjamu dengan alasan membuka rekening baru, dengan itu secara tidak langsung aku juga menyerahkan biodataku. Mungkin ini yang disebut modus oleh anak-anak jaman sekarang, termasuk aku. Semua begitu masuk diakal sehatku, kubiarkan hati ini terbawa seperti arus sungai yang entah akan bermuara dimana. Hari demi hari aku perkenalkan diri dan keluargaku, hari demi hari aku kenali dirimu dan keluargamu. Iya, hanya dalam dua bulan mengenalmu sejak saat itu. Iya, hanya dua bulan kita bercengkrama menyamankan diri, tapi ini terasa sudah sangat jauh aku mengenalmu.

Advertisement

Bahkan untuk memegang tanganmu untuk nyebrang jalanpun aku tak berani, menatapmu terlalu lama pun aku batasi karena aku takut akan lebih jauh ber-ekpektasi tentangmu. Single Kunto Aji – ekpekstasi yang sedikit mengingatkanku saat ini. Gayamu bercerita begitu lepas, caramu tertawa juga seceria binar matamu, kali ini aku benar-benar tak mampu menahan bahagia yang selama ini aku cari. Sejenak di tengah malam aku tanyakan ini dengan Tuhan, apakah ini yang jawaban dari usahaku? Apakah ini jawaban dari doaku? Ataukah ini hanya lembar soal ujian yang mengujiku? Tuhan, aku berserah. Tuhan, aku tak mau seperti yang dulu lagi.

Akal dan hatiku tak mampu lagi bernegoisasi, tak ada sedikitpun keraguan atau kebimbangan yang hinggap di dinding jiwa. Bismillah, aku putuskan malam itu untuk melamarmu. Belum ada cincin yang aku bawa, hanya arloji classic buatan Swiss yang aku bungkus dengan amplop warna coklat malam itu. Karena menurutku, melamarmu adalah niat tulus dan cincin hanya sebuah simbol.

Seharian aku merangkai kata-kata, merangkai kalimat seperti mau mempresentasikan produk ke rekan bisnis. Berharap aku bisa menemuimu dimalam itu di kafe yang nan-romantis, ada lilin di tengah meja, bohlam-bohlam yang bergelantung di atap, dan soundtrack Yovie & The Nuno – Janji Suci. Mungkin itu hanya ada di FTV atau film hollywood yang sering aku lihat. Kenyataannya aku hanya bisa bertemu denganmu di teras kost dan diiringi dengan soundtrack lagu dangdut, karena tetangga kost malam itu sepertinya sedang mengadakan hajatan. Oh Tuhan, selucu itu malam itu.

Semua karangan kata dan kalimat luluh lantak, jantung berdegup tiga kali lebih kencang daripada sebelumnya, keringat dingin tiba-tiba keluar, rasa canggung-malu-takut beraduk jadi satu dan membuat nada yang keluar dari mulut seperti ada malaikat yang menyaksikan keseriusan ini.

Bismillah, aku sampaikan segenap niat tulusku padamu, segenap pasrahku padamu, segenap hati dan akalku padamu. Aku tak menjanjikan bisa membelikanmu Jeep Rubicon. Aku tak menjanjikan bisa mengajakmu jalan-jalan ke London, Paris atau Venice. Aku tak menjanjikan bisa membelikanmu rumah di super blok, tapi aku berjanji akan memegang komitmen untuk menjadi suami terbaik di setiap harimu sampai tua.

Apakah kamu mau menikah denganku?

Hanya itu kata yang terakhir kali aku ingat keluar dari mulutku. Terlihat jelas diwajahmu kebingungan, kebimbangan, dan keraguan yang tak seperti biasanya setelah mendengarkanku.

"Beri aku waktu untuk memutuskannya Mas, aku bingung."

Dan kata jawab itu pula yang terakhir aku ingat sampai saat ini. Oke, akalku berkata memang untuk menentukan ini bukanlah hal yang mudah untukmu, tapi setidaknya Tuhan telah memberiku keberanian untuk memutuskan untuk menikahimu.

Tuhan, aku serahkan semua padamu.
Jika memang dia jodohku dan akan membawaku ke surga-Mu, hilangkanlah keraguannya.
Jika memang aku pantas untuknya, tepislah kebimbangannya.
Jika memang aku belum pantas untuknya, berikan aku satu kesempatan lagi untuk memantaskan diri.
Kali ini, aku benar-benar pasrah dan ikhlas menunggu jawab-Mu Tuhan, bukan jawabnya.