“Aku adalah apa adanya aku”

Aku adalah apa adanya aku, begini rupanya. Izinkan aku jatuh cinta. Aku siap jatuh cinta, siap bertanggung jawab atas cintanya dan menanggung jatuhnya. Maka dari itu terimalah cintaku apa adanya pula.

Aku adalah laki-laki. Hanya laki-laki biasa, tak sekuat ksatria, tak semenawan pangeran. Aku adalah laki-laki, terimalah cintaku sebagaimana perempuan yang ingin dicintai. Tak banyak janji, tak banyak imajinasi. Namun selalu intropeksi setiap jalan yang dilalui.
Aku adalah laki-laki. Aku akan menerima cinta perempuan sebagaimana yang aku cintai. Dengan setulus hati, segenap raga dan diri.

Aku adalah aku. Yang tak bisa menjadi orang lain. Dan tak seorang pun mampu menjadi diriku.

Menurutku.

Advertisement

Cinta adalah kepasrahan.
Kepasrahan untuk menerima apa adanya.
Seperti penyerahan diri untuk menerima apa adanya.

Belajar adalah apa adanya.
Hingga pembelajar untuk tidak pasrah menjadi apa adanya..
Tapi bermetamorfosa menjadi kita.

Cinta adalah ruang belajar.
Belajar untuk pasrah menerima apa adanya..
Sekaligus belajar untuk pasrah menjadi “kita”
dan melepas apa adanya “aku”.