Aku, Adek dan Indonesia

Dek, jangan hidupkan TV dulu. Sedang banyak orang yang saling hujat karena merasa paling Indonesia.

Dek, jangan buka media sosial dulu. Sedang banyak orang yang saling memaki dan menyebar info basi karena ego pribadi.

Dek, jangan putar radio atau lihat hape dulu. Sedang banyak orang-orang kalap yang sedang saling jambak dan bermata gelap.

Ah! kakak lupa, jangankan TV atau hape, aliran listrik pun tak sampai ke kampungmu. Oh ya, kakak juga lupa, jangankan internet, kabel penerangan saja belum bisa kau nikmati. Mamak dan bapak mana cukup uang dari hasil noreh getah dan berladang untuk membeli barang semewah itu.

Advertisement

Dan jangankan jalan mulus, sudah ada jalan tanah kuning gusuran PT saja kamu sudah bersyukur ya? Meski kalau hujan harus berlumpur-lumpur selama dua jam jalan kaki sebelum sampai sekolah.

Tapi dek, sesampainya kau di sekolah, sudah ada 3 guru yang menunggumu dengan sabar. Ya, dek, sudah tiga sekarang. Pemerintah sedang mencarikan guru tambahan untuk sekolahmu lagi. Kamu yang sabar ya. Pasti nanti tak perlu kau berganti guru dengan 2 kelas lainnya.

Dek, belajarlah dengan rajin. Usah kau pedulikan mereka yang terlalu sibuk dengan definisi Indonesia. Mereka terlalu asik dengan kotak mainan mereka sendiri. Adek teruslah membaca. Kakak yakin jika kau rajin membaca, kau akan jadi sekritis Freire atau sebijak Ki Hadjar Dewantara nantinya. Bacalah buku warisan jaman entah itu walau hanya dengan pelita ya, dek.

Dek, yakinlah bahwa Indonesia itu indah dan baik. Juga saat kau nanti besar, ajaklah mereka ke kampungmu. Mungkin mereka akan senang melihat betapa Indonesia itu sangat luas.

Dan teruslah percaya bahwa meskipun kau berasal dari daerah yang tidak tercatat di peta, kau tetaplah Indonesia. Terus jadilah Indonesia dan tak perlu kau gembar-gemborkan.

Adekku, kau adalah anak-anak bangsa Indonesia yang suci dan berani, sesuci dan seberani warna baju seragammu yang mulai agak menguning itu. Jadi, jangan biarkan mereka melunturkan cintamu pada Indonesia.

Dari Kakakmu….

Artikel ini diambil dari tulisan di FB Kunto Nurcahyoko, seorang teman yang juga dosen di Kalimantan Barat. Artikel ini disubmit atas seizin Kunto Nurcahyoko. Artikel asli dapat dilihat di sini Aku, Adek dan Indonesia​