Mantan, kamu lah orang yang pernah aku sayang di masa lalu. Ya sudah lah, ini telah berlalu dalam hidupku. Aku tak perlu lagi meratapi seseorang yang memang bukan takdirku. Kehadirannmu mungkin hanya jalan setapak saat berdamping denganmu. Mungkin kamu didatangkan agar memberiku pelajaran hidup.

Harusnya aku tak perlu sedih sebab sendirian menyandang status lajang juga bukan hal yang perlu dikasihani. Tidak perlu kesal atau marah dengan mantan bahkan menyalahkan diriku sendiri, tidak akan. Apapun yang terjadi, itu bukan hanya salahmu saja atau salahku saja.

Tak perlu aku memendam dendam jikalau kamu meninggalkanku sedangkan aku masih mempedulikan kamu. Sekarang saatnya aku lebih peduli dengan kebaikan diriku sendiri, bukan kepada seseorang yang sudah mematahkan hati ini. Sebagai pribadi yang masih punya masa depan, aku akan terus melakukan refill energi di dalam jiwa yang segar ini. Tenaga dan waktu akan aku gunakan sedikit saja untuk menengok kegagalan saat menjalin hubungan dengan mantan sepertimu.

Daripada menggerutu dan mengutuk kenangan bersama mantan, sebaiknya aku segera membuka mata hati. Sekalipun saat bersamamu indahnya melebihi pemandangan langit di Eropa. Banyak hal-hal baik di hidup ini yang terus-menerus menanti perhatianku sepanjang hari.

Hari demi hari aku lalui dengan ditemani musik saja. Musik bagai sahabat yang paling tahu tentang aku. Iringan lagu-lagu favorit menjadi pengusir kesepian saat sedang sendirian. Yang aku rasa, pilihan lagu-lagu dengan genre tertentu seringkali mencerminkan suasana hatiku.

Advertisement

Hingga sebulan telah berlalu, banyak lagu-lagu baru yang muncul. Dari sekian sahabat baru ini, harusnya aku mengoleksi saja lagu-lagu yang membuat detak jantung bergendang dengan irama ceria. Satu per satu lagu yang membuat kurang bergairah mulai kutinggalkan. Tak boleh lagi aku mengijinkan suasana hujan bertemankan lagu-lagu yang mengingatkan pada mantan. Tertutup sudah kesempatan untuk pikiranku terbawa ke suasana sendu.

Ini sudah dua bulan sejak kepergian tanpa pamitmu itu. Dan sungguh mengagetkan, aku berjumpa lagi denganmu di kota yang sama. Sedetik aku ingin menyapamu dulu, tapi sedetik kemudian aku tak kuasa memandang wajahmu. Betapa malu, ada seseorang yang melingkarkan tangan di lenganmu. Sedangkan aku masih setia dengan headset dan kamu. Aku pun tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku bersikap seperti seakan-akan sangat menikmati alunan musik yang aku dengarkan.

Pada dasarnya aku ini ceria, lalu mengapa sedetik saja harus kehilangan selera berhura-hura? Aku angguk-anggukkan kepalaku. Rambut panjang ini ikut mengayun. Setidaknya aku ingin menunjukkan padamu bahwa tak sehelai pun rambut tebal dan ikal ini kurang perhatian dariku. Kuhentak-hentakkan kaki, jari-jemari menepuk-nepuk kedua paha yang kuat ini. Ya, aku masih kuat berjalan dan berpapasan melihatmu dengan kekasih hati yang katamu lebih pantas menyandingmu. Dari gayamu saja, aku tahu kamu begitu bangga berdiri di sampingnya. Aku tidak peduli, mantan. Kutunjukkan padamu bahwa musik itu seakan-akan sedang berada di depanku. Musik lebih memberiku kenyamanan. Aku lebih asik berbaur dengan musik daripada denganmu, mantan.

Sebagai seorang perempuan yang enerjik dan proaktif, aku tidak hanya menyukai musik. Aku menyukai dunia berita dan cerita. Hari-hariku kadang diayomi dengan adanya banyak social media (sosmed). Meskipun masa lalu dengan mantan terlihat kusut, setidaknya aku tidak kolot. Aku pun tentunya sudah lihai memainkan sosmed yang punya beragam fitur-fitur menarik.

Cukup sudah aku kemarin sedikit lalai karena menunjukkan diri terlihat lemah di depan mantan. Aku harus segera kembali menjadi pribadi yang tangguh dan lebih kuat. Maka kurasa alangkah menyenangkannya jika aku berhenti memandangi area chatting dan timeline dengan postingan yang memancing kesedihan. Bukankah aku pecinta dunia jurnalistik dan artistik? Lalu mana seni baiknya artikel atau bacaan yang membuatku gundah? Meski lelah, meski bosan, sesekali kutengok postingan berisi lelucon atau gambar yang lucu-lucu.

Aku sudah bodoh untuk mau menjadi seseorang yang dijadikan oleh mantan sebagai lelucon dalam hidupku sendiri. Kini saatnya aku tidak lebih bodoh lagi untuk menertawakan diri sendiri. Lebih baik aku tertawa melihat foto-foto hewan lucu daripada membuang waktu untuk menumpahkan emosi dari patahnya hati atau bahkan menunggu notifikasi darimu, mantan. Menunggu notifikasi darimu saja tidak lagi aku lakukan, apalagi memberimu sebuah ‘kode’? Sungguh aku tak mau. Aku tidak akan pernah tahu di luar sana kamu memandangku seperti apa saat aku menampakkan diri sebagai pribadi yang sering bersedih setelah kamu tinggal. Siapa tahu juga jika kamu tertawa dan merasa menjadi superstar yang diidolakan orang sebaik aku.

Aku rindu meniup udara bebas, sebebas-bebasnya seperti anak kecil yang lupa waktu untuk pulang. Aku rindu teman-teman. Aku lajang dan aku senang. Bukan bermaksud mencari pengganti mantan sesegera mungkin, aku hanya ingin mengusir kesepian. Lambat laun aku sadar bahwa aku adalah orang yang sangat berharga dan berarti bagi siapapun yang mengenalku. Uluran tanganku yang tidak disambut mantan yang sudah mematahkan hatiku akan teralihkan kepada orang-orang sekitar yang lebih menghargai keberadaanku.

Sekalipun orang-orang mampu menerimaku apa adanya, menghadirkan diri yang begini-begini saja juga tidak enak rasanya untuk aku yang ingin menampilkan pribadi menjadi lebih baik. Bisa dikata aku ini belajar dandan. Sebagai perempuan aku tak sangat feminim tapi juga tak terlalu tomboy. Mengganti tipe wewangian badanku dengan memilih-milih parfum, mengubah tatanan rambut agak blonde dengan memangkasnya sedikit. Atau mempersolek bagian tubuh lain yang ingin aku ubah, menghilangkan bulu kaki misalnya. Aku akan menunjukkan tidak hanya pada kamu ya, mantan. Tetapi juga kepada orang lain bahwa aku lebih bisa merawat diri sendiri menjadi bersinar setelah hatiku dipatahkan seorang mantan.

Cukup puas dengan penampilan baruku yang lebih manis. Namun, tampil menarik secara penampilan menurutku hanya menjadi nilai plus saat pertama kali dipandang orang. Memanfaatkan tenaga dan pikiranku yang strong, aku yakin bisa menjadi pribadi yang lebih sempurna jika aku aktif dengan kegiatan-kegiatan positif. Tak henti-hentinya aku menggali informasi mengenai aktivitas-aktivitas yang menarik. Banyak pilihan kegiatan favoritku seperti menjadi volunteer dalam menggelar event, ada juga pelatihan membuat hiasan handmade, workshop tentang kepenulisan, kelas public speaking untuk penyiar radio. Aku sangat suka!

Dari aktivitas padat seperti itu, kurang rasanya jika aku tidak melanjutkan perjuangan dengan ikutan kompetisi karena pelatihan-pelatihan tadi hanya sebagai penunjang untuk meningkatkan skill. Dengan menoreh prestasi dan membuat terobosan baru dalam hidupku, aku menebus semua rasa sakit hati yang telah dipatahkan oleh mantan. Terlebih karena dahulu aku terlalu banyak meluangkan tiap jamku dengan mantan sehingga melewatkan banyak waktu untuk pengembangan diri. Selain aktualisasi semacam itu, aku harus lebih sabar dan sabar.

Aktivitas-aktivitasku yang menyenangkan pasti mampu mengalihkan perhatian dari mantan. Perlahan, namun ini menenangkan. Intinya, aku tidak perlu terburu-buru menjadi sukses, selama aku mau berkonsisten dalam melakukan kegiatan-kegiatan positif. Aku yakin akan ada masa dimana kamu bengong melihatku mengalami perubahan drastis dalam berkarir. Dan saat yang paling aku tunggu-tunggu itu seandainya aku yang justru mengulurkan tangan untukmu. Asal kamu tau, itu bukanlah saat yang tepat untuk menerimamu kembali, melainkan untuk membantu karirmu. Akan terlihat sedikit lucu, sebelumnya kamu membuatku mengemis-ngemis cintamu, tapi ujung-ujungnya kamu mengemis pekerjaan padaku. Ini seperti balas dendam dengan cara yang mulia. Jika disamakan dengan lirik lagu, membuatku teringat Selena Gomez. ”Kill ‘em with kindness”.

Entah aku sudah tidak ingat berapa lama semenjak hati ini patah dan kamu buang. Aku bahkan sudah tak mau tahu apakah kamu masih dengan kekasih barumu atau mungkin kamu mencari korban baru. Aku tak mau mengusik pemikiran positifku dengan kelakuanmu. Aku membiarkan aura positif dan keceriaan tampak di wajahku. Inilah cerminan dari hati yang senantiasa dibumbui dengan rasa bersyukur.

Berbagai perjalanan hidup pun sudah banyak aku lalui. Mental dan pribadi menjadi lebih berani. Kalau sudah begini, aku tak kan lagi merasa malu, canggung, bahkan takut jika berinteraksi denganmu yang pernah menyakitiku. Aku akan menampilkan diri dan membuktikan bahwa selama ini aku bahagia, lebih dari sekedar baik-baik saja. Semua orang pun tahu, aku berhasil menepis ekspektasi-ekpektasi buruk mereka tentang keadaanku setelah kamu tinggalkan aku, mantan. Justru kini hidupku jauh luar biasa setelah kamu tiada hadir lagi dalam hati. Tebusan terbesar untuk hati yang pernah patah adalah dengan menciptakan hidup menjadi lebih indah.