Saat masih kecil, bagiku Ramadhan seperti teman lama yang datang berkunjung ke rumah. Meskipun kehadirannya baru nampak di ujung jalan, di tikungan sana, hati senangnya bukan main. Bukan tanpa alasan, aku tinggal di lingkungan yang selalu meriah setiap menyambut bulan Ramadhan. Masjid-masjid seolah berhias. Seluruh warga beramai-ramai mencuci karpetnya, menyapu dan mengepel lantainya, diberi pewangi ruangan, bahkan kadang dicat ulang. Halaman masjid dibersihkan, rumput disiangi, ditanami tanaman-tanaman baru. Anak-anak juga boleh membantu.

Setelah masjid kami cantik, kami beralih ke rumah masing-masing. Berlomba membersihkan rumah, menyusun barang-barang untuk menciptakan suasana baru. Beberapa barang yang sudah tidak terpakai akan disortir menjadi ‘dibuang’ dan ‘disumbangkan’. Dari rumah turun ke jalan, membersihkan selokan dan memotongi dahan pohon yang menjuntai ke jalan. Semua sibuk tapi semua merasa senang. Termasuk anak-anak.

Ketika yang ditunggu-tunggu telah datang, kami semua ramai memenuhi masjid cantik kami. Dari subuh hingga usai tarawih, masjid selalu ramai dengan kumandang suara ayat-ayat Quran. Di akhir pekan, bapak-bapak dan para pemuda akan beritikaf di masjid. Suasana itu aku tunggu setiap tahun. Selama bertahun-tahun.

Di samping hal-hal itu, ada satu #KenanganRamadanku yang tidak mungkin terlupakan. Karena dampaknya masih aku rasakan sampai sekarang.

Beberapa waktu, di kala Ramadhan, ayahku sempat melewatkan solat tarawih berjamaah di masjid. Aku sendiri lupa alasan beliau saat itu. Tapi bukan berarti ia tidak solat, ia mengajak kami sekeluarga berjamaah di rumah. Solat isya ditambah 11 rakat tarawih dan witir, total 15 rakaat. Dari 15 rakaat tersebut, ayah akan mengulang sebuah surat lebih sering dari yang lain. Salah satu yang paling sering ia ulang adalah Al-Insyirah. Ia mengulang bacaan surat tersebut setiap beberapa rakaat.

Advertisement

Aku yang masih kelas 1 SD saat itu suka mengeluh karena surat Al-Insyirah kuanggap panjang, aku maunya surat An-Naas, Al-Falaq, dan Al-Ikhlas saja sudah. Surat yang panjang itu membuatku bosan dan akhirnya mulai iseng menirukan bacaan ayah. Begitu terus. Beberapa kali kami solat berjamaah di rumah, dan ayah sering sekali mengulang surat Al-Insyirah.

Sampai suatu ketika, ketika sedang bermain di rumah teman sambil menunggu waktu berbuka, aku mendengar ibu temanku membaca Quran di sofa dekat tempat kami bermain. Merasa kenal dengan ayat yang dibaca, aku spontan berujar, “Alam Nasyrah!”

Mendengarnya, ibu teman aku menoleh dan bertanya, “Wah, kamu tahu suratnya ya?”

Dengan percaya diri aku mengangguk dan mulai membaca surat Alam Nasyrah yang saat itu terputar begitu saja di kepala. Ibu temanku mendengarkan sampai selesai lalu memuji, “Pintar ya sudah hafal, tajwidnya juga benar. Siapa yang ajarin?”

“Ayah,” jawabku singkat.

“Salam ya buat ayahnya,” Aku hanya mengangguk dan kembali bermain.

Satu hal yang ibu temanku tidak tahu. Aku tidak pernah menghafalkan surat Al-Insyirah, apalagi mempelajari tajwidnya. Tapi tidak salah jika kubilang ayah yang mengajarkanku. Toh memang benar dia yang terus mengulang surat itu ‘kan?

Ya. Aku hanya mengulang bacaan solat ayahku. Per kata. Beserta panjang-pendeknya (maka terdengar baik tajwidnya). Aku hanya mengulang yang ayah bacakan. Hafalan surat pendekku di TPA bahkan belum sampai situ. Tapi seperti kata orang, alah bisa karena biasa. Ternyata terbiasa mendengarkan membuat aku bisa mengulangi bacaan tersebut.

Ketika menyadari itu, aku sudah kelas 5 SD. Aku sadar banyak surat pendek yang tidak aku “hafalkan” tapi tiba-tiba hafal, karena aku sering mendengarnya ketika ayahku mengaji di rumah atau dari kaset-kaset murottal yang sering ibuku pasang setiap pagi.

Saat kisahku dan surat Al-Insyirah ini kuceritakan pada ayah, beliau hanya tertawa. “Saking malasnya ganti surat, sampai anaknya hafal bacaan bapaknya,” kelakar beliau.

Dari pengalaman itu juga aku menyadari kalau pola belajarku adalah Audio. Semakin sering aku mendengar, semakin melekat di kepalaku. Akhirnya setiap mendekati ulangan, aku akan membaca materi ulangan dan merekamnya di kaset, lalu memutarnya kembali sebelum tidur. Berulang-ulang. Sampai materi tersebut keluar sendiri dari kepalaku setiap ulangan. Teknik itu masih kugunakan sampai sekarang, bedanya karena sudah ada alat perekam suara di ponsel, jadi suara dosen setiap memberi kuliah bisa langsung kurekam.

Allah SWT memang menjanjikan rahmat di bulan Ramadhan. Manusia tidak pernah tahu dalam bentuk apa rahmat itu diberikan padanya jika bukan lewat tafakkur dan tadabbur, berpikir dan merenung. Rahmat Allah SWT di bulan Ramadhan kala itu adalah menunjukkan jalan terbaik untuk belajar bagi hambanya, lewat bacaan solat ayahnya. Semoga kita tidak melewatkan kebaikan-kebaikan di bulan Ramadhan begitu saja, sekecil apapun bentuknya.