Kerap kali hidup hanya memberikan dua pilihan, hitam atau putih, benar atau salah. Namun, nyatanya hidup ini lebih rumit dari sekadar menilai dan mengelompokkan. Bagaimana jika kaki membawa kita pada zona abu-abu? Memang bukan salah takdir karena aku percaya, takdir pun tak lepas dari hasil keputusan diri sendiri.


Lalu, bagaimana jika kita hanya membiarkan kaki mengikuti kata hati? Alhasil, zona abu-abu semakin menebal dan kaki semakin terjerembap. Dan ketika orang-orang menghujani kita dengan pertanyaan "benar atau salah?", jawaban apa yang harus diberikan?

Begitu pula dengan hidupku. Aku terjebak dengan stigma "penggoda". Ketika seseorang yang kemudian kusebut "dia" tiba-tiba datang ke hidupku. Entah siapa yang mengundangnya. Entah dia yang tersesat lalu menemukanku atau kesepianku yang memacing iba darinya, atau memang Tuhan sedang menghiburku. Ketika dia yang mengaku kesepian menemukanku yang juga sedang kesepian. Jadilah kita berdua, dua insan kesepian menghabiskan waktu bersama sembari tertawa. Jadilah kita dua insan yang saling menghibur dan mengisi.

Lalu, perasaan aneh itu muncul. Perasaan gembira tak terkira saat motormu berhenti di depan kantorku. Atau perasaan aneh yang muncul saat membaca pesanmu. Atau perasaan tak terlukiskan saat kau mengundangku, "sinilah!" katamu biasanya. Perasaan aneh yang selalu membuatku mencari alasan untuk menemuimu.


Mana kutahu, jika kesepianmu muncul akibat hubungan jarak jauh antara kau dengannya? 


Advertisement

Mungkin memang salahku. Aku tak juga mundur saat kutahu ada gadis lain yang menunggu kabarmu. Bahkan, aku pura-pura tak berdosa saat kutahu pesan-pesannya kau abaikan. Dengan sedikit menahan sesak di dada, aku tetap berusaha mengunyah makanan kesukaanmu. Meskipun aku tahu, beberapa panggilan darinya kau abaikan. Aku juga hanya tersenyum dan menganggukan kepala saat kau memintaku memilihkan hadiah untuk gadismu.

Terkadang aku bertanya-tanya, pernahkan kau mempertanyakan tindakanku? Pernahkan kau merasakan kejanggalan dalam setiap ulurkan tanganku? Padahal sudah berkali-kali, kau menangkap basah mataku yang sedang asik menikmatimu dari jauh atau ekspresi kegiranganku saat kau mengajakku menonton konser malam itu. Pernahkah kau merasakan kehadiran perasaan aneh ini?

Aku hanya ingin menjadi orang yang selalu ada untukmu. Aku hanya ingin selalu menyediakan telinga untuk segala keluh kesah yang tak mampu kau ceritakan padanya. Aku hanya ingin selalu menghabiskan isi piringku di depanmu saat meja makanmu terasa kosong. Aku hanya ingin selalu menjadi teman perjalananmu saat kau kelelahan menjalani semua sendirian. Aku hanya ingin selalu membantu menjaga kesehatanmu. Dan aku selalu bersedia tertawa mendengar ceritamu saat kau rasa dunia terlalu suram. Aku hanya ingin seperti itu, menjadi rekanmu dalam menjalani hari.

Namun, ternyata ini salah. Aku hanyalah seorang penggoda yang menawarkan kesenangan di tengah hambarnya hubunganmu. Aku hanya seorang penggoda yang diam-diam menyakiti hati gadismu. Aku hanya seorang penggoda yang tak layak diakui keberadaannya. Aku hanya seorang penggoda yang patut disalahkan jika suatu saat hubunganmu retak.

Aku tahu, bukan kamu yang menganggapku seperti itu. Tulisan ini pun bukan untuk menyalahkanmu. Ini hanya perdebatan antara hitam dan putih di dalam diriku. Tapi bagaimana jika aku bahagia? Bukan bahagia menjadi penggoda, melainkan bahagia melihatmu tertawa bersamaku.