Aku Belum Cukup Berani Melawan Kekuasaan Itu

Ternyata 'berani' tidak semudah membalikkan telapak tangan seperti yang ada di pikiranku selama ini. 'Berani' dalam artian sekarang ini membuat kita seperti orang bodoh yang tidak bisa melakukan apa-apa. Jujur saja, aku iri pada orang-orang zaman dulu yang mempunyai keberanian begitu luar biasa. Jika ada orang-orang yang melanggar hak-haknya, mereka akan selalu siap berteriak itu tidak benar. Tapi lihatlah, saat ini kami mengucapkan kata bantahan pun tidak berani. Kami hanya menuruti apa yang mereka katakan. Kami seperti babu mereka. Sungguh sangat menyedihkan!

Katanya mahasiswa sebagai kaum muda adalah penerus bangsa. Mahasiswa adalah senjata negara untuk menghadapi masa yang akan datang. Karena itu mahasiswa harus mempunyai keberanian besar dan berjiwa nasionalis. Tapi sepertinya mahasiswa zaman sekarang ini jauh berbeda dengan zaman dulu. Entahlah, kenapa bisa seperti demikian.

Kita mengkritisi, dianggap memberontak. Bukankah kami juga mempunyai hak untuk menyatakan pendapat? Kami juga ingin ikut berpartispasi dengan berpendapat! Karena sangat tidak patut jika kami melakukan demo yang tidak menghasilkan kesepakatan. Bagaimana bisa kami mengasah keberanian kami jika pendapat kami selalu dibatasi? Untuk apa dibuat sebuah aturan jika tidak bisa diterima oleh semua orang. Bukankah itu sebuah diskriminasi?

Memang benar, semuanya harus ada batasan-batasannya termasuk halnya dalam berpendapat. Berpendapat boleh, asalkan jangan keluar dari ranah pokok diskusi. Tapi di zaman ini, bukan pendapatnya yang dibantah tapi orangnya yang dibantah habis-habisan. Mereka bisa menutupi mulut, mata dan hati kami dengan satu kalimat saja. Orang seperti kami yang otaknya pas-pasan, kelas kami juga rendahan, bisa dengan mudahnya disingkirkan.

Advertisement

Kami hanya memiliki 'keberanian', tapi itu pun kalian rebut dengan paksa. Lalu, bagaimana kami akan bertahan menghadapai kalian-kalian para pemilik kekuasaan?

Hanya ada satu hal yang bisa kami lakukan, yaitu dengan tidak melawan mereka. Ini adalah kesempatan terakhir kami. Kesempatan untuk bisa hidup. Betapa hebatnya kalian yang bisa melakukan itu dan ini sekehendak hati kalian. Pernahkah kamu berpikir sejenak saja atas perilakumu? Tidakkah kamu merasa malu atas perlakuanmu yang tidak pantas itu? Orang terhormat tapi tidak bersikap terhormat!

Mau jadi apa dunia ini nantinya jika diisi dengan orang-orang seperti kalian.

Ku akui, kami belum cukup berani. Kami tidak bisa melakukan apapun selain diam mematung seperti orang bodoh. Kami tidak berani mempertahankan hak kami. Kami membiarkan begitu saja habis disapu oleh mereka. Sebenarnya bukan berarti kami tidak berani, tapi karena kami mempunyai kepentingan lainnya yang menjadi prioritas hidup. Kami tidak ingin menghancurkan masa depan kami, tidak ingin menyakiti orang-orang yang kami sayangi. Kami tidak ingin membuat orang lain terluka hanya karena keberanian yang kami anggap suatu hal yang menakjubkan.

Karena kami masih memiliki orang-orang yang kami harus lindungi, jadi kami memutuskan menjual keberanian itu. Kami lebih memilih diam. Kami memilih hidup dalam kepura-puraan. Karena itulah kami dianggap sebagai pengecut bodoh. Tapi mereka jauh lebih buruk pengecut daripada kami.

Lagi-lagi betapa tidak adilnya dunia ini. Selalu ada masalah kesenjangan yang tidak pernah ada penyelesaiannya. Mungkin karena itu jugalah manusia ini semakian serakah akan hidup ini. Alangkah baiknya jika persepsi manusia itu sama. Dengan begitu tidak akan ada yang namanya adil dan tidak adil. Tetapi itu tidak mungkin. pola pikir manusia tidak akan pernah sama. Kita harus bersikeras untuk menyamakan sudut pandang kita.

Masalah perasaan itu adalah yang paling menakutkan di dunia ini. Jangan sekali-kali meremehkan orang lain karena kita tidak tahu akan seperti apa mereka nantinya. Kita tidak tahu dendam mereka berubah menjadi motivasi untuk kehidupan yang lebih baik nantinya. Karena itulah kenapa dunia ini disebut berputar seperti roda. Akan waktu di mana kita di bawah dan di atas. Tapi di manapun tempat kita, tetaplah bertumpu pada suatu hal baik.