Dari setiap perjalanan, setiap manusia tidak menuntut kesempurnaan. Tetapi, ia pantas mendapatkan kebahagiaan.

Aku berdiri di perempatan jalan, melihat dari ketinggian tiap sudut kehidupan. Ada yang salah dengan jalan pikirku dan perjalanan cinta ini. Tidak banyak yang mencemoohku dan tidak banyak juga yang memujiku. Kurasakan dinginnya hati dan sunyinya waktu mengintai tiap nafas. Akankah kembali bahagia atau akan terus berjuang?

Tidak ada yang salah dengan cinta. Ketika aku ingin memulai dan mengakhirinya semua indah pada waktunya. Itu kata mereka yang seluruh hidupnya berjalan dengan baik dan masih ada-Nya dalam tiap langkahnya. Sedang aku yang berdiri di persimpangan ini hanya bisa berpikir. Ya tuhanku adalah pikiranku.

Aku yang membawa jalan hidupku menuju sebuah persimpangan. Hidup yang sama denganmu para penikmat kata. Hidup yang sama dengan mereka para pencari kerja. Hidup yang sama dengan mereka yang menghasilkan makanan. Hidup yang sama dengan mereka para penyembah. Tapi, bagi mereka aku tak mempunyai hidup yang sama dengan mereka.

Bagaikan hidup di padang gurun, ingin rasanya banyak meneguk air. Tapi daya tak sampai. Bahkan untuk mencaraknya pun sayang rasanya. Kalian harus tahu cinta tak seindah sinetron. Terlalu sedih dan pedih kunikmati.

Advertisement

Tiap malam kunikmati peluh bersama beberapa cinta. Tiap subuh kudapati cintaku harus meninggalkanku. Setiap hari kurasakan keluh yang sama dari tiap cinta yang menemuiku. Ini hidupku yang hina bercampur dendam. Dendam akanmu yang dulu pergi. Kamu yang akan menjanjikan kehidupan akan tetapi tetirah entah kemana sehingga aku meradang.

Ingatkah kamu, di persimpangan ini kamu selalu bercerita tentang kehidupan yang indah. Membangun keluarga dan melanjutkannya sesuai dengan kehidupan manusia normal biasanya. Penuh bahagia tanpa hina. Kamu menyediakan punggungmu yang tegap untuk disandari. Kamu menyediakan tanganmu yang kekar untuk memegang erat tanganku. Kamu menyediakan kakimu yang kuat untuk berjalan bersamaku.

Akan tetapi, itu dulu. Saat kamu masih menganggap aku perempuan berlipstik merah dengan kepolosannya. Seketika kamu menghilang bersama bayang-bayang. Mengikuti arah angin dan tak meninggalkan bekas apapun itu.

Aku seperti berada dalam mimpi buruk. Saat aku terbangun, yang kudapati kehidupanku yang dulu saat sebelum ada kamu. Serta setiap jalan yang kita tapaki, ku tak lagi membaui adanya kamu. Kehidupanku berhenti dengan kebodohan.

Aku kembali tertidur dan bangun berharap mendapat mimpi bertemu denganmu. Tapi, tak ada. Aku kembali menceracau, dengan air mata dan hidung berair. Aku tak menemumu.

Hingga akhirnya aku berubah menjadi perempuan berlipstik merah dengan kesombongan. Tiap cinta yang datang kutawarkan kebahagiaan semu. Kebahagiaan yang biasa dicapai dalam satu malam. Ini aku yang berubah karena hilang arah. Seperti jalan pagi ini, di persimpangan ku menemu hasrat dan penantian. Hasratku mencari cinta yang nyata dan penantianku akan kamu yang melangkah bersama angin. Meski bibir ini berkata tak usah kembali. Akan tetapi, hati ini berkata kembalilah.