Jika bumi memiliki langit, siang memiliki malam, mentari memiliki rembulan, penghujan memiliki kemarau. Aku selalu yakin manusia seperti mereka: manusia satu diciptakan diciptakan untuk yang lainnya.

Aku kini membayangkan soal bagaimana kita akan selfie di gunung saat kita wisuda sembari mengagumi keindahan ciptaan-Nya. Mendesain garden party sampai hari itu tiba. Membangun rumah yang penuh palet kayu, berbagi bantal dan berbicara tentang bagaimana besok kau bekerja dan aku berkarya dari rumah demi mengurus anak-anak kita

Sampai sekarang, kau membuatku yakin kita bisa jadi rekan menyenangkan untuk menua bersama. Bersamamu semua memang terasa biasa saja. Saat ku menawarkan untuk menjajaki hubungan ke arah yang lebih serius kau hanya mengangkat alis lalu berujar, “Ya sudah jalani saja.” Toh semua akan terang jika ini memang jalannya. Entah bagaimana kau bisa membuatku mengerti arti batasan, menanti sampai hari dimana nama belakangmu resmi disematkan.

Jelas saja, Jalan kita masih panjang untuk sekadar dilewati berdua, kita masih punya impian pribadi yang pantas diperjuangkan, masih punya banyak waktu untuk bersenang-senang, masih punya hal-hal lain yang perlu dikerjakan. Tidak ada yang perlu diupayakan berlebihan. Tidak perlu drama penuh air mata yang membuat kaki berat dan tertahan, Tapi percayalah, kita akan bisa bertahan

Bersamamu aku percaya bahwa menua bersama tidak akan semenakutkan yang dikira, Bersamamu aku percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Semoga aku dan kamu akan menjadi “Kita”. Semoga kita diaminkan oleh dunia, Semoga kita diaminkan oleh semesta

Advertisement

Dalam semua kesemogaan ini, Kuharap memang kamulah orangnya