"Semua seakan cepat berlalu antara aku dan kekecewaan seolah lupa diri. Rasanya aku semakin jatuh cinta padamu, ibu.'

Masih kuingat bagaimana kerut wajahmu ketika diriku meradang dengan amarah dan rasa kecewa yang tak terjelaskan. masih ku dengar sayup kata-katamu yang mencoba meminta pengertian ku,

"Aku membesarkan mu seorang diri, pontang-panting kesana kemari bukan untuk melihat putriku memusuhiku begini. bagaimana bisa seorang anak tega mendiamkan ibunya sendiri, sementara orang yang di diamkanya adalah orang yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanmu"

Seperti sebuah tamparan keras yang tak menyakiti tubuhku tapi menyakitkan perasaanku. aku memahami apa yang baru saja di ucapkan, tapi emosi membenarkan ku untuk mempertahankan amarahku. ibu harus sadar bahwa dia sudah begitu egois slama ini, ibu harus ingat bahwa aku bukan lagi anak kecil yang selalu diam dan tak mengerti apa yang sedang terjadi.

Banyak waktu ku sia-siakan untuk menangisi masa lalu, masa dimana ibuku tidak kembali mencoba memahami ayahku sama seperti ayahku yang juga berlaku sama. mereka tidak ingin kembali saling memahami. ada yang bilang, "Bila rumah tangga mu sedang dalam masalah, ada baiknya kalian mencoba untuk saling memahami kembali. cobalah untuk memikirkan perasaan-perasaan yang akan terluka karena nya. PERPISAHAN TIDAK SELALU MENJADI SOLUSI!"

Advertisement

Masih dalam berselimut kelabilan, emosi yang semakin tersulut membuat ibuku kembali memberiku pengertian, aku menutup telinga, aku merasa dia tidak mengerti akan rasa sakit saat ini. terbiasa bangun di pagi hari dengan lengkap lalu tidur di malam pun begitu, tapi kini semua itu akan berubah. aku membenci perubahan ini, keharmonisan yang dulu seakan hilang. Aku ingin ibuku kembali bersama ayahku, hingga aku bisa merasakan kasih sayang itu secara utuh kembali.

Aku ingin pergi, aku tidak ingin ada di sini, aku tidak tau harus mempercayai siapa lagi, mereka orangtua yang sangat ku sayangi menghancurkanku begitu saja. perpisahan itu merusak kepercayaan diri dan pandanganku akan cinta. aku membenci dan tidak ingin mendengarkan mereka. saat terapuh itu, saat dimana ibu kembali meminta cinta dariku, tapi tidak dengan kelembutan nya lagi.

"Kamu boleh pergi dan meninggalkan ku, kamu juga boleh membenci, melupakan dan tidak menemuiku lagi. perpisahan memang tidak selalu menjadi solusi yang baik, tapi saat ini bersama juga bukan solusi yang baik. kami cuma akan semakin menyakiti satu sama lain, aku tidak menghianati ayahmu, tapi takdir untuk bersama sebagai suami-istri bukan milik kami, takdir kami adalah menjadi ibu dan ayahmu. itu yang pasti. kami punya cinta untukmu, apa kamu fikir ada yang bisa merubahnya? kamu jangan lupa ibu telah membesarkan mu seorang diri selama ini, bagaimana air hujan menghantam tubuhku, terik matahari membakar kulitku dan fikiran akan bagaimana memenuhi kebutuhanmu setiap hari?. tidak ada yang tau akan takdir, ibu juga tidak ingin semua berakhir seperti ini. haruskan ku minta kamu untuk menjadi diri ibu agar kamu tau apa yang ibu rasakan saat ini?"

Itu, karna itu akan mengerti, apa yang terjadi pada mereka adalah pelajaran buatku. selain aku harus menjadi seorang yang ikhlas, aku juga harus mulai meraba akan kedepan nya seperti apa. aku tidak boleh seutuhnya menyalahkan mereka. memang hancur nian perasaan ini, tapi rasa itu mengajari banyak lebih banyak dari orang yang belum pernah mengalaminya.

Semenjak itu aku takut untuk meninggalkan ibuku, hatiku sendiri ingin selalu mencintainya, memberikan kebahagiaan yang terlepas darinya, melanjutkan kebahagiaan yang telah di tinggalkan ayahku. sudah waktunya ibu bahagia, bersamaku dan kehidupanku kelak. "Aku menyayangimu Ibu, aku berjanji tidak akan meninggalkan mu sendirian."