Selamat pagi, Sayang. Sudah lama ya aku tidak menuliskan tentangmu? Lelaki yang setiap hari mampu membuatku jatuh cinta lagi dan lagi.


Kamu tahu, Sayang? Saat ini aku sedang berusaha memantaskan diri untuk menjadi seorang yang benar-benar tepat mendampingimu kelak. Saat ini aku mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan mengurangi rengekan-rengekan beserta sifat manjaku. Berusaha menjadi wanita mandiri yang tidak lagi menyusahkanmu untuk masalah sepele.

Aku sedang berusaha untuk mengerti kesibukanmu, walau sesekali merengek karena kamu tidak mau ku ajak jalan-jalan di akhir pekan dan lebih memilih bekerja lembur, atau sering sekali menolak ketika ku ajak nonton film di mall karena lagi-lagi kamu harus bekerja.

Aku juga sudah tidak marah lagi ketika kamu hanya sekali-dua kali membalas pesanku karena kesibukanmu yang luar biasa itu. Aku mengerti, Sayang. Tidak apa-apa dan jangan merasa bersalah! Aku senang karena kita masih bisa bertukar kabar 🙂

Semangat ya, Sayang. Aku tahu kamu sedang berusaha untuk menghalalkanku. Aku mengerti dan memahami itu, karena emas kawin tidak bisa dibeli pakai cinta. Cinta pun tidak bisa dimakan, bukan? Jadi, kita berdua perlu bekerja keras untuk itu semua.

Advertisement


Tenang saja, Sayang. Aku pasti akan sabar menunggumu sampai waktu yang tepat itu tiba.


Pagi ini aku sedang meneguk segelas susu. Iya cuma susu. Kamu 'kan tahu aku tidak bisa minum kopi. Kepalaku pasti akan terasa pusing dan perutku mual. Sambil itu, pikiranku jauh melayang ke masa lalu, mengenang betapa beratnya hidup kita dulu.


Kamu ingat tidak ketika kita berpacaran dengan jalan kaki menyusuri pasar malam? Hehe. Lalu karena aku sangat lelah dan kakiku sakit, kita pulangnya naik angkutan umum. Ah, aku ingat wajahmu sangat pucat karena menahan mual, tetapi kamu memaksakan diri mengantarku pulang (padahal aku sudah bilang aku bisa pulang sendiri).


Berbulan-bulan kemudian akhirnya kamu bisa membeli motor second. Ada orang yang mengejek motormu itu seperti odong-odong, tapi aku tidak peduli. Aku sangat bersyukur karena kamu bisa kumpulkan sedikit uang dari jerih payahmu untuk membeli motor itu. Ada kejadian lucu yang sampai sekarang aku ingat tentang motormu, ketika kita sedang jalan-jalan, motormu mogok kehabisan bensin; karena indikatormu mati jadi kamu tidak tahu jika ternyata bensinmu sekarat. Hahaha. Aku jalan kaki di sebelahmu dan kamu mendorong motor.


Kamu bilang, "Yang, kamu nggak malu jalan sama aku? Aku ini bokek lho, motor kayak odong-odong."

"Nggaklah, Yang. Untung kamu ganteng jadi nggak malu-maluin banget. Hahaha".


Sekarang semuanya sudah berubah. Kamu berhasil membungkam mereka dengan kerja kerasmu. Tidak ada lagi hinaan, tidak ada lagi kontrakan sempit dengan kamar mandi di luar dengan bau yang super itu. Tidak ada lagi motor odong-odongmu, tidak ada lagi si tukang serut kayu yang katanya seperti abang gorengan. Kamu hebat, Sayang! 🙂

Kamu tahu? Aku bersyukur sekali Tuhan mengirimkanmu sebagai pendampingku. Lelaki jutek yang jarang tersenyum. Diajak berfotopun susah. Diajak jalan-jalan pasti lebih memilih makan enak. Lelakiku yang setia menjemputku ketika pulang kerja padahal rumahnya lebih jauh, jadi kalau menjemput pasti "backtrack". Kamu selalu bilang dengan tersenyum, "Nggak apa-apa, Yang. Aku seneng bisa berguna buat kamu." Ah, jawaban yang membuatku sekali lagi mengucapkan syukur kepada Tuhan karena memiliki dia.

Terima kasih, Sayang, karena selalu berusaha membahagiakanku dengan tindakan-tindakan kecil penuh arti. Mungkin kamu bukan lelaki romantis seperti lelaki di drama yang setiap hari aku tonton. Kamu juga bukan lelaki kaya raya yang bisa memberikanku mobil atau jam tangan mewah, tetapi kamu lelaki humoris, dengan segala kesederhanaannya yang selalu berusaha membuatku tersenyum bahagia.

Sekali lagi, aku bersyukur karena memilikimu.

Dari wanitamu yang sedang berusaha memantaskan diri untuk menjadi pendampingmu.