"Aku berhenti."

Ketahuilah, dua kata itu adalah kata yang paling aku hindari sejak aku memutuskan untuk bersamamu. Bahkan kata itu tidak kuucapkan kemarin, ketika aku sedang kelabu-kelabunya karena memikirkan kamu. Memikirkan aku yang sedang berjuang sendirian.

Kemarin walau dengan hati suram dan air mata yang terpaksa kutahan seharian, aku begitu yakin untuk bertahan, Karena apa?

Karena kemarin aku masih menginginkan kamu “memperbaiki” yang rusak di antara kita. Sama seperti kamu selalu memilih untuk “memperbaiki” daripada “meninggalkan” atau “mengganti” barang-barang milikmu yang rusak, Karena kemarin aku masih percaya bahwa kamu adalah pemuda baik hati yang tidak akan tega melukai seseorang dengan sengaja. Kamu juga tidak pernah membuat dirinya dibenci oleh orang lain.

Karena kemarin aku mengira kalau kamu adalah orang yang tekun, serius, bersungguh-sungguh dan selalu bertanggung jawab atas apapun.

Advertisement

Karena dari semua yang pernah mengisi hidupku, kamu yang terbaik.

Karena aku mengira rasa itu masih ada walau tinggal ampasnya, aku tinggal memupuk dan menunggunya hingga ia tumbuh kembali.

Sebenarnya sampai kapan pun, aku rela menunggmu, Tetapi sekarang aku berhenti, Karena apa?

Karena kamu meninggalkanku, Karena kamu mengabaikanku.

Dan semua itu kamu lakukan dengan sengaja. Alasan itu cukup, Aku pergi.

Semoga kamu bahagia.