Aku berhak untuk dapat tertawa bahagia kali ini, bukankah ini sesuatu yang wajar. Ini bukannya aku tak merasakan sakit, tapi sakit ini sudah selesai dan mungkin menjadi alasan aku untuk tertawa. Kau boleh pergi dengan wanita itu dan bercanda tawa dengan bahagia, dan aku pun berhak untuk tertawa setelah kau berhasil buat hati ini tercabik-cabik. Ada banyak tangis yang aku keluarkan untuk bisa tertawa bahagia ini sekarang. Dan kau tak harus tau bagaimana semua itu aku lalui.

Bukankah dulu kau yang ingin segera pergi dariku dan memulai hidup dengan wanita itu?, tanpa mau tahu aku bagaimana setelah banyak mimpi dan masa depan yang kau tawarkan begitu membuat aku bersemangat untuk bisa terus meraih bahagia itu. Kau berhasil pergi dan bahagia atas wanita itu, lalu aku? ya.. aku berusaha untuk diam dan kembali menata hati ini. Saat melihat wanitamu, aku berpikir emang dia yang pantas dampingimu yang mengerti dirimu.

Aku mulai menjalanin hidupku tanpamu dan memulai membangun mimpiku akan indahnya sebuah perpisahan. Kau pun sama sekali tak ingin melihatku atau bahkan menanyakan kabarku, kau seperti orang yang tak mengenalku.

"Semudah itukah kau pergi? tanpa rasa bersalah karena menyakitiku?"

Kini aku sudah tertawa dengan bahagia, kau tak lagi jadi alasan dalam tangisku lagi. Dan kau, sudah terlambat jika sekarang baru kau cari kabar tentangku dan menyesal. Tak perlu kau menyesali apa yang perbuat kepadaku, biarkan aku tertawa bahagia sekarang. Tugas kau sekarang adalah membahagiakan wanita yang kau pilih dengan mengorbankan diriku dan kisah indah kita.

Advertisement

Semua bukannya akan indah pada waktunya? jika dulu kau memintaku untuk merelakan dirimu pergi, aku sudah rela meski harus aku berjuang dengan susah payah. Sekarang biarkan aku tertawa seperti dahulu tanpamu. Dan jika kau melihat aku tertawa sekarang, bukan aku tak mencintaimu lagi. Tapi sudah cukup buatku untuk tetap terus menangis karenamu.

Karena ini bukanlah proses yang singkat, maka tolong hargai setiap proses yang aku jalanin. Setiap proses mengapa aku bisa tertawa bahagia sekarang. Jika kelak kita dipertemukan dalam suatu waktu, aku berharap kita bisa sama-sama tertawa bukan saling menghindar. Aku tertawa bukan karena kau yang ternyata belum tuntas denganku, tapi aku tertawa karena sudah waktunya.