Berjalan menelusuri jejak demi jejak di sore itu. Langkah kaki yang terus menapaki buliran pasir tanpa henti. Sampai akhirnya aku menatap ke arah lautan luas sambil menanti terbenamnya matahari diujung sana. Terduduk aku ditepi pantai dengan desiran ombak pada sore itu, membawaku kepada memori di 3 tahun silam. Saat itu pertama kalinya aku bertemu dengan mereka, ke tiga sahabatku. Saat itu, aku baru naik kelas 11 dan aku memasuki ruang kelas 11 IPA 2. Aku melihat kedalam ruangan, ternyata isinya sebagian besar adalah teman lamaku pada saat kelas 10. Lalu kemudian aku duduk di bangku belakang dan menghadap pada jendela, sejenak aku melirik bangku yang masih kosong disebelahku. Dalam hati aku bergumam kira-kira seperti apa nanti teman sebangku ku?. Sampai akhirnya 15 menit menjelang kelas dimulai. Sesosok perempuan dengan tas pink-hitam dating menghampiri bangkuku.

“Masih kosongkan?” Tanyanya pada saat itu dengan ramah

“Iya masih kok.” Kataku menyambutnya dan mempersilahkan dia untuk duduk disebelahku.

“Oiya, kenalin aku Dila dari sepuluh dua. “ kata dia yang bernama Dila memulai perkenalan. Senyumnya sangat ramah dengan gigi gingsulnya membuat dia semakin manis.

“Aku Khansa…” balasku dengan senyum. Perkenalan kita terhenti karena jam akelas akan segera dimulai. Dan semenjak saat itu aku dan Dila menjadi akrab. Kita sering menghabiskan waktu bersama entah di kantin atau sepulang sekolah. Sampai beberapa hari kemudian ada 2 orang murid pindahan dari kelas regular dan mereka duduk di depanku dan Dila.

Advertisement

“Hai, kenalin aku Jannah dari kelas sepuluh enam, kamu siapa?.” Kata Jannah dengan ceria mengajak aku dan Dila berkenalan. Melihat keramahan dan keceriaannya Jannah membuat kita sangat welcome kepada dia dan membalas perkenalannya.

“Aku Hamida, sama seperti Jannah dari kelas sepuluh enam.” Kata Hmida kemudian. Kalau Hamida ini anaknya agak pemalu dan diam. Dan sejak perkenalanku dengan Dila, Jannah dan Hamida kita menjadi dekat, menjadi akrab. Kemana-mana selalu ber4. Kita sering bertukar cerita bersama. Bertukar PR bersama, bahkan setiap hari Jum’at ada kelas keputrian, kita ber 4 selalu kabur, karena nggak mau ikut kelas tersebut. Tidak jarang juga sepulang sekolah kita pergi kesuatu tempat, entah ke warnet, makan-makan atau sekedar jalan-jalan. Seiring berjalannya waktu kita sering menghabiskan waktu bersama menjadi dekat dan kita menyebut kita ber 4 ini adalah “4 Serangkai”.

Persahabatan antara aku, dan mereka tidak selamanya mulus, selalu ada saja hal yang membuat kita berselisih paham, bahkan kita pernah diam-diaman selama kurang lebih 3 hari, tapi ketika ada diantara kita yang berselisih paham atau bermasalah. Mereka tidak pernah mojokkin satu sama lain. Kita semua pasti saling usaha untuk membuat yang berselisih paham menyatu lagi. Seperti misalnya pada saat aku bermasalah dengan Dila. Jannah dan Hamida tidak ikutan menjauhkanku, mereka tetap baik. Justru mereka selalu usaha untuk membuatku dan Dila bisa baikan lagi. Dan akhirnya kita semua akur lagi. Dan kita tidak pernah terpisahkan.

Kenanganku dengan mereka, bagai arus memori yang hadir tanpa henti. Episode demi episode masa-masaku bersama mereka teringat kembali dengan jelas. Sampai tidak terasa air mata ini mengalir. Aku merindukan kalian. Apa kabarnya kalian? Bagaimana kuliah kalian? Aku kangen kalian. Masa-masa itu takkan pernah aku lupakan bagaimana aku bisa mengenal kalian sebagai sahabatku. Mungkin karena sekarang kita masing-masing sibuk dengan urusan kita masing-masing, kita nggak lagi komunikasi. Tapi, yakinlah sahabatku sejauh apapun jarak kita saat ini. Aku selalu merindukan kalian. Kado-kado yang kalian berikan untukku disetiap tanggal kelahiranku selalu aku simpan, bahkan wish dari kalian aku pajang di dinding kamarku, supaya aku selalu mengingat bahwa aku punya sahabat luar biasa seperti “4 Serangkai”.

Aku berharap 5 tahun lagi atau bahkan 10 tahun atau bahkan 50 tahun lagi. Sampai nanti kita berkeluarga, punya anak, cucu, atau cicit, kita akan tetap sama seperti ini.

Sampai ketemu lagi “4 Serangkai” sukses untuk kita semua.

Dan kini matahari sudah benar-benar tenggelam. Hanya langit gelap yang menemaniku, dan air mata yang sudah mengering. Biar langit, laut sore itu menjadi saksi kerinduanku pada kalian disana.