Aku dan di Balik Kota Yogyakarta. Hari itu aku baru menyadari ada cara merokok yang tak biasa. Hari itu aku baru menyadari ada kemunafikan dalam keimanan dari diri seorang. Aku dengan duniaku yang berjalan maju mundur. Teddy mahasiswa swasta di kota Yogyakarta dengan dunianya yang mengambang biasa saja.

Kota Yogyakarta dengan kota pendidikan yang menyembunyikannya, dari apa yang terjadi di balik Toga dan istimewanya. Cafe-cafe dengan bau wisky dan alkoholnya. Seluk beluk gang-gang dengan gadis belia dengan pergaulannya. Turis-turis dengan dunia baratnya dan cinta dengan asmaranya. Bar-bar dengan wanita penghiburnya. Hotel-motel dengan tanpa pengawasanya. Polisi dengan pekerjaanya tilang-menilang mencari keuangannya. Ini kota Yogyakarta yang istimewa. Tak menggambarkan apa yang benar adanya, yang diceritakan lewat media-media.

Aku seorang mahasiswa yang telah jatuh pada dunia malam. Mencari-cari jati diri hingga ingin menemukan kebebasan. Aku berasal dari kota Tangerang perbatasan Jakarta Barat. Berbicara dunia malam sudah tidak asing lagi di telingaku. Namun, aku mulai segalanya tentang dunia malam di kota Yogyakarta. Kota yang katanya aman, tertib, dan melambangkan istimewa.

Di kota ini aku menjadi liar, di kota ini aku menemukan sebuah kebebasan. Pada bar-bar dengan wanita penghibur nya. Pada cafe-cafe dengan wisky dan alkoholnya. Aku menjadi terbiasa dengan semuanya. Aku menjadi mencintai dunia malam itu, dunia malam yang aman tanpa razia. Dunia malam yang indah dengan bidadari-bidadari dunia.

Aku memulainya dengan ajakan temanku seorang yang ku percayai keimanannya, seorang yang ku percayai latar belakangnya."Ahh itulah manusia." Batinku. Hingga pada setiap malam yang aku lalui hanya ada penyesalan-penyesalan. Namun, tidak bisa untukku meninggalkannya. Karna semua ini telah menjadi kebiasaan. Kemudian ada yang membuatku perlahan kembali pada duniaku yang sebelumnya yaitu "Gadis Anggunku".

Advertisement

Gadis anggunku yang ku temukan pada dunia malamku. Dia wanita penghibur yang terpaksa menjalani pekerjaannya demi keuangan keluarganya. Namun dia bukanlah wanita penghibur seperti yang lainnya. Ia masih perawan ia menceritakan sendiri dengan diriku, sebelum khilafku merenggut hal yang berharga dari dirinya. Kini ia akhirnya pergi meninggalkan ku dan uang yang ku berikan ditinggalkan dalam sakuku tanpa pemberitahuanku. Dan ia kini membuatku lebih hancur dari apa yang telah ia perbaiki tentangku.