Masih ingat kah kau pada lagu ini :

"Hey, apa kabarmu jauh disana.. tiba-tiba teringat cerita yang pernah kita upayakan! Ku pikir aku berhasil melupakanmu.. berani-beraninya kenangan itu datang tersenyum.."

Tak sengaja lagu ini mendengung di kepalaku berulang kali. Bahkan aku tak mampu menggantikan lagu ini dengan yang lain! Entahlah, tapi lagu ini seolah TERBENAM dalam di otakku. Lagu ini tertancap begitu kokohnya hingga aku tak bisa memikirkan lagu lain. Tapi yang lebih mengharukannya adalah tentang orang yang kemudian terlintas dalam benakku saat lagu ini berkumandang. Sakit? Tidak! Sedih? Tidak! Kecewa? Tidak!

Aku bahkan tak tau apa yang kemudian ku rasakan. Aku terpaku diam tak bersuara! Hening. Mataku terpejam lalu terlukislah saat-saat aku bersamamu dulu. Waktu dimana kita mulai saling mengenal dan mulai mencari tau satu sama lain. Ahh, begitu menyenangkan mengingat MEMORI masa itu.

LANGKAH KAKI mu saat upacara penerimaan mahasiswa baru yang merupakan kali pertama aku melihatmu dan memandangmu aneh mungkin jadi bagian yang terbaik dalam kisah kita. Aku yang tak pernah tau siapa dirimu hanya melihatmu sebagai pria yang gagal memulai sesuatu dengan baik. Saat itu aku berharap tak akan bergaul dengan dirimu.

Advertisement

Tapi waktu berkata lain hingga kemudian mata kita saling menatap. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dada. Entah kenapa perasaan ini begitu nyaman dan kau mulai sering mengajak ku ketempat-tempat yang belum pernah ku datangi. Kita memulai hubungan ini bukan dengan kata cinta. Aku ingat kau menjadi tempatku menceritakan setiap keluh kesahku. Kau pun begitu. Rasanya tak ada yang tak aku tau tentangmu. Aku tak pernah ragu untuk menceritakan tiap detil hidupku padamu. Kita begitu akrab dan bahkan banyak orang yang iri pada PERSAHABATAN kita.

Hingga kemudian, kita menyadari sesuatu yang lebih jauh lagi. Perasaan sahabat ini telah berubah menjadi cinta. Kita memutuskan untuk melangkah ke tahap yang lebih jauh dari sekedar sahabat. Tapi hidup tak selamanya indah. ARUS masalah mulai merambah ke antara kita dan mengikis rasa yang begitu membara. Ego kita mulai timbul dan menjadi perusak di tiap saatnya. Aku tak bisa memahami mengapa hal yang sudah kita bangun dengan baik malah tak berjalan mulus.

Dan ketika hati ini mulai membatu dan kita tak lagi saling mendengarkan kau memilih pergi dan aku memilih tak menahanmu. Kita tak pernah sadar betapa ego kita lah yang menghancurkan semuanya. Tapi layaknya air yang mengalir, dia tak akan kembali ke tempat yang sudah dia lewati. Begitupun kita terlalu angkuh untuk kembali memulai semuanya. Maka semuanya berakhir disitu. Berakhir dan tak pernah lagi berlanjut. Tak pernah lagi menyatu bahkan bertemu. Kau memulai yang baru dengan nya, dan aku dengan yang lain.

Namun ketika aku menutup mataku, yang terlihat selalu sama. Masih aku dan jejak lamamu yang dulu kau tambatkan di hatiku, pikiranku, benakku, batinku. Sebentuk jejak yang masih akan selalu aku kenang dan berharap untuk aku sambung nanti.

Semoga kau pun masih merindukan jejak lamaku yang aku titipkan di hatimu.