Pernahkah kamu memupuk harapan, menjadi sebuah impian yang indah?

Sebuah mimpi yang ingin kamu raih bersama dengan seseorang yang kamu cintai, tepatnya “kekasih”. Impian sepasang kekasih yang saling mencintai tentu saja menuju kehidupan yang bisa dilalui bersama-sama, saling memberi dan saling melengkapi. Bersama dalam sebuah ikatan yang pasti “pernikahan”.

Aku perempuan yang masih berumur 18 tahun, yang mempunyai mimpi akan menikah di usia yang ke-20. Banyak orang yang mempersalahkan mengenai ini. Apakah salah? Aku rasa usia 20 tahun tidak terlalu muda. Lihat saja orang tua zaman dahulu, mereka menikah di usia yang masih belia. Bahkan, teman-teman dekatku pun menyudahi masa lajangnya setelah mereka menyelesaikan sekolah menengah pertama-nya.

Tentu saja ini bukan sekedar mimpi. Aku telah mempunyai kekasih yang bernama Raden Raditya Veldan Saputra seorang laki-laki yang menjadi harapan masa depanku. Seorang laki-laki yang bisa menjadi sahabat saat aku ingin bercerita. Seorang laki-laki yang bisa menjadi sosok ayah yang tegas dengan segala peraturannya yang masuk akal. Seorang laki-laki yang bisa menjadi Ibu yang merangkulku dengan hangat saat aku merasa lelah. Dia yang selalu ada disaat aku senang dan sedih selama 16 bulan terakhir ini.

Tapi sayang, kita hanya bisa merancang mimpi dan berusaha. Tanpa harus orang tuaku mengetahui hubungan kita. Ya, orangtua ku terlalu “cerewet” mengenai siapa yang akan jadi imam ku kelak. Tentu saja aku mengerti. Mereka mengiginkan yang terbaik untuku. Mereka menginginkan aku menikah dengan pria yang mapan. Mereka tak ingin nasibku sama seperti mereka, terutama Ibu. Tapi bukan itu permasalahannya.

Advertisement

Untungnya, Adit selalu mengerti aku. Ia mengerti apa yang orang tua aku harapkan. Bahkan ia memperkenalkan aku kepada orang tuanya sebagai tanda keseriusannya. Ada banyak kesamaan yang membuat aku nyaman bersamanya. Tidak hanya itu, ia rela bekerja keras dari pagi sampai larut malam demi impian ku.

Perlahan aku rasa impian ini akan segera tercapai, kerja kerasnya membuahkan hasil yang patut aku syukuri. Suatu hari ia berkata akan membeli sebuah rumah sederhana yang akan menjadi bukti awal keseriusannya kepadaku.

Kita menjalani hubungan LDR (jarak jauh) terpisah dengan jarak dan waktu. Sehingga aku sulit untuk memperhatikannya. Apalagi belakangan ini dia terlalu sibuk mundar-mandir dengan tugasnya keluar kota. Yang selalu membuat aku khawatir, terkadang ia sering mengantuk ketika menyetir mobil sendiri tanpa ada yang menemani.

Dua hari ini, ia tidak mengabariku. Tidak seperti biasanya. Akupun sulit untuk menghubunginya. Tapi aku masih beruntung. Aku masih menyimpan no handphone teman kantornya dan aku berhasil mengorek informasi tentangnya.

Ini menyakitkan untuku, kak dido menceritakan semua tentangnya. Kebiasaan buruknya selama 4bulan belakangan ini. Dan itu menjadi alasan pasti mengapa ia tak menghubungiku selama 2 hari ini. Ketidak jujurannya membuat air mataku mengalir deras. Otakku terus berpikir keras. Ini salah ku! Ini salah ku!!

Bukan. Bukan penghianatan yang ia lakukan padaku.

Saat ini ia tengah terbaring lemas di rumah sakit, ia terserang paru-paru basah. Kak dido mengirimkan beberapa gambarnya kepadaku, ia tampak kurus. Sangat kurus.

Ingin rasanya raga ini segera berlari menghampirinya, memeluknya dengan hangat, dan memberiaknnya perhatian yang lebih.

Beberapa hari setelah ia lebih baik, ia menelpon ku dengan suara yang lirih. Ia berbicara seolah ia baik-baik saja. “malam chabi ku sayang” ucapnya membuat ku hanya terdiam. Tapi hatiku tak bisa menahan segala tanda tanya yang ada di benakku.

“boleh aku bertanya?”

“tentu saja”

“mengapa harus seperti ini? Mengapa 4 bulan ini kamu menghibur diri kamu dengan asap rokok? Apa aku tak bisa lagi menjadi penyemangatmu? Aku kecewa radit. Aku KECEWA.”

Lega rasanya mengungkapkan itu, dan air mataku belum bisa tehenti. Menangis aku tersedu-sedu.

“maaf aku bodoh! Kamu salah. Kamu cahayaku, aku janji tak akan ku ulangi”

Rasa tak sanggup lagi aku mendengar suaranya yang semakin menghilang dengan batuk yang tak kian berhenti. Aku putuskan sambungan telepon darinya. Sebuah pesan aku kirimkan padanya “besok aku ke Badung”. Namun apa balasan darinya?

“nggak usah chabi, aku baik-baik aja kok. Aku dapat cuti dari kantor, besok aku pergi ke rumah nenek yang di lampung ya?”

Sulit rasanya berkata ya dengan kondisinya yang baru saja keluar dari rumah sakit.

Malam berganti, aku tak menghubunginya malam ini. Ia mengirimkan sebuah pesan untukku, pesan terpanjang yang aku dapat darinya. “chabi, aku sudah di rumah. Maaf aku baru sempat ngabarin kamu, aku gak bisa telpon kamu sekarang. Suaraku belum pulih. Kamu jaga diri baik-baik ya? Jangan nangis lagi, aku gak mau denger kamu sedih. Aku pulang dulu ya?”. Bagaimana tak sedih. Coba kalian pikir jika berada di posisi ku! Mendengar orang yang kalian sayang sakit parah dan kita tak bisa berbuat apa-apa.

“aku dari rumah sakit, aku pulang dulu ya”

“iya kak, hati-hati”

Lagi-lagi ia menghilanng tanpa kabar. Seharian ini aku terus menghubunginya , namun tak ada jawaban. Pesan yang aku kirimpun, tak ada balasan satupun. Dan sekarang hanya bisa menunggu.

Aku mencoba menghubungi kak dido, tapi dia juga tak tau apa-apa.

Dua hari, tiga hari berlalu aku kesal dibuat nya. Terlalu lama aku menunggu, aku khawatir. Hingga akhirnya satu persatu pesan menyerbu handphone ku. Bukan pesan singkat. Tapi gambar. Beberapa foto seseorang yang terbaring di rumah sakit, dengan begitu banyak perban putih yang menyelimutinya dan berbagai warna kabel yang menempel di dadanya. Aku semakin tak mengerti ini. Untuk apa kak adit mengirim foto itu? Dan itu siapa?

Tak sempat aku bertanya, semuanya terjawab sudah. Foto ke-3 adalah sosok yang aku kenal, terbalut dengan kain kapan. Foto ke-4 gambaran sebuah tempat yang akan menjadi tempat penyendiriannya dengan papan nisan yang sangat jelas tertulis “Raden Raditya Veldan Saputra”

Kalian bisa bayangkan bagaimana perasaan ku? Hancur sehancur-hancurnya. Tercabik-cabik rasanya hati ini. Dan aku tak mampu berkata apa-apa.

“untuk semua teman adit/veldan kami dari keluarga terdekat meminta maaf apabila sodara kami mempunyai salah. Dia telah meninggalkan kami karena kecelakaan, tepatnya kemarin untuk selamanya. Dimohon doanya dan jangan tangisi kepergiannya. Terimakasih” pesan terakhir dari no handphonenya.

Dan sekarang, bagaimana dengan aku? Impian ku hancur bagai di sambar petir di siang bolong. Harapan yang aku pupuk harus ku kubur dalam-dalam. Dan muncul kebencian akan asap rokok.

Mimpiku, menjadi mimpi buruk yang tak pernah aku harapkan. Namun ku sadari, Cinta memang tak harus saling memiliki. Walaupun sulit, harus ku terima bahwa Aku dan Kamu tak bisa menjadi Kita.