"Kenangan adalah sesuatu yang terkadang menjelma jadi pisau, menusuk jantung paling dalam. Namun, tak jarang adalah hal yang mendatangkan rindu dikala hujan dan senja. Selalu ada pelajaran atas segala perasaan, meski terkadang tak tersampaikan”. (Kutipan kalimat dari Novel Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai karya Boy Chandra)

“Pagi Sayang..”

“Pagi juga sayang, jangan lupa sarapan ya ”

“Iya sayang, kamu juga. Love you

Sepenggal percakapan diatas itu yang selalu menjadi kata-kata wajib kita setiap hari, yang terkadang membuat aku tersipu malu dengan sepenggal kata ‘love you’ yang meluluhkan hatiku. Kata-kata sayangmu berhasil membuat mood-ku membaik dikala itu dan setiap harinya engkau setia memberikanku kabar walau di jam-jam sibukmu. Hal-hal kecil seperti itulah yang membuatku berada di zona nyaman ketika bersamamu, membuat aku merasa orang terpenting dihidupmu.

Namun itu dulu. Dulu ketika kita masih menjadi kau dan aku, dulu ketika Tuhan masih merestui kita untuk bersama. Cerita kita kini sudah berbeda. Kau dan aku seperti dua insan yang tak saling mengenal, tak lagi saling menyapa. Suatu hal yang tak pernah kubayangkan jika kini aku tak lagi menjalani hari-hariku bersamamu, tak lagi menjadikanmu seseorang untuk berbagi cerita, tak lagi menjadikanmu orang yang pertama kali kuingat ketika ku terbangun dari tidurku, tak lagi menjadikanmu seseorang yang pertama kali ku ucapkan ‘selamat pagi sayang’.

Jika pada akhirnya kamu menamai diri sebagai kehilangan? Mengapa dulu kau mengajarkanku sebuah kenyamanan?Ntah siapa sebenarnya yang harus disalahkan dalam kisah ini.

Advertisement

Kini kau dan aku terpisah jarak dan waktu. Ntah dari mana dimulainya. Kau tiba-tiba tanpa kabar, kau tiba-tiba saja menghilang. Kau pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan. Aku mencoba mengerti kenyataan ini, namun yang kurasa hatiku terluka. Taukah engkau jika perpisahan terpedih adalah perpisahan tanpa alasan yang jelas dan kisah yang belum usai adalah kisah yang berakhir tanpa kata. Ya, seperti kisah kita.

Rasanya baru kemarin kita tertawa bahagia, membagi cerita bersama. Namun, hal yang tak terduga pun terjadi. Ketika kita baik-baik saja, kau menghilang begitu saja dari hidupku tanpa penjelasan yang membuatku terus bertanya ada apa denganmu? Aku juga bertanya ada apa denganku? Taukah kamu sepeninggal engkau. Aku galau segalau-galaunya bahkan lebih galau ketika aku putus dari mantanku sebelumnya. Aku tak tahu harus berbuat apa dikala kau memutuskan menghilang dari hidupku. Aku seperti orang bodoh yang meratapi kepergianmu. Aku terluka, tetapi aku (masih) berharap kau tetap disisiku. Aku sakit, tetapi aku (masih) berharap denganmu meraih impian. Semuanya terasa begitu amat dalam. Sakit ini, luka ini, rindu ini, sejuta pertanyaan ini. Waktu itu aku tak mampu mengendalikan hatiku. Yang aku inginkan hanya kamu, hanya cintamu, aku (masih) berharap kau datang kembali padaku. Tapi apa daya ku jika kau memutuskan pergi dari hidupku.

Ya, hidup terus berjalan. Mau tidak mau aku akan tetap melakukan hal yang biasa aku lakukan. Aku akan tetap pergi ke kampus, aku akan tetap menemui dosen pembimbingku untuk konsultasi, aku akan tetap mengerjakan skripsiku, aku akan tetap berkumpul dengan teman-temanku, aku akan tetap menghadiri acara keluarga besarku, aku tetap menonton film kesukaanku, aku akan tetap melakukan hobi-hobiku, dan aku akan tetap meraih impianku. Walau keadaannya kini tanpamu, semua akan tetap berjalan seperti biasa, tak ada yang berubah bahkan sebelum aku mengenalmu. Hanya saja rasanya berbeda, sedikit terasa hampa tanpa kabar darimu, dan tanpa kepastian darimu. Aku sadar meski tak rela. Aku harus jalani ini. Bagaimanapun juga ini jalan hidupku, ini suratan takdirku. Life must go on, right!

Disini dan saat ini aku sudah memutuskan.

Tak baik bagiku meratap terus, seakan dunia tak adil untukku, seakan hanya aku yang terluka, walau apa yang telah aku alami setelah kepergianmu dari hidupku, kau tetap yang terbaik bagiku. Kau tak tergantikan bagiku. Namun, keputusanmu pergi meninggalkanku tanpa kata membuatku sangat sadar secara logika jika sebenarnya kau tak menginginkanku dihidupmu, kau tak ingin bersamaku. Semua kata-kata manismu adalah dusta. AKU DAN KAU SUDAH SELESAI.

Memang tak ada yang pasti.

Bahkan ketika dua orang yang awalnya sepakat untuk saling mempertahankan pun bisa saja pada akhirnya saling melepaskan. Seperti diriku yang dulu bilang bahwa aku takkan berhenti memikirkan dan mencintaimu. Nyatanya sekarang aku tak melakukan itu, aku sudah bertekad jika tak ada lagi kau dalam benakku. Tak adalagi kata-kata galau untukmu, tak ada lagi kesedihan karena mengenangmu.

Aku dan kau telah usai

Aku ingin bahagia meski bukan denganmu yang tidak bersedia.

Sehingga aku memilih jalan untuk memutuskan melupakan segala tentangmu, sudah saatnya aku naik level kekehidupan selanjutnya. Tak ada lagi ruang tentang kita. Barangkali kau diluar sana sudah memiliki seseorang. Jadi betapa menyedihkannya aku jika aku disini masih meratapi kepergianmu.

Sekali lagi terima kasih karena engkau pernah jadi moodbooster-ku. Kutegaskan sekali lagi aku dan kau sudah usai. Dan tidak akan pernah lagi kubiarkan dan kuizinkan kau untuk kembali pulang dan mengulang kisah.

Cukup sudah!

Pada akhirnya semua telah berlalu. Bagaimanapun kita telah melewati ini semua. Biarlah ini menjadi kisah dipojok kenangan yang suatu hari nanti akan kita lupakan atau bahkan akan menjadi sebatas kenangan. Yang terjadi telah terjadi. Tidak ada yang bisa disalahkan kalau nyatanya dulu kita pernah sepakat untuk saling menyatukan. Bagaimanapun, dimasalalu aku pernah kau sebut sayang dan begitupun juga kamu pernah menyemangatiku untuk berjuang meraih mimpiku. Namun sudahlah, aku dan kau telah usai.