Aku lihat kau bahagia dengan kekasihmu setelah kau memberinya kado ulang tahun dan dia pun memberikanmu hadiah di ulang tahunmu. Setelah kejadian itu kita kembali kuliah seperti biasa. Kau merencanakan untuk membuat acara dirumahmu sekalian ingin memperkenalkan kekasihmu pada kelurgamu. Kita semua datang untuk menemaninya memperkenalkan diri. Kami sampai dirumahmu langsung disapa oleh ibu dan bapakmu dipintu rumah setelah kami memarkirkan kendaraan dihalaman rumahmu. Satu persatu dari kami bersalaman dengan orangtuamu, tiba dibarisan berikutnya ada kekasihmu diikuti aku dibelakangnya. Saat aku bersalaman pada ibumu, dia langsung menanyakan keadaanku dan menanyakan kenapa aku tidak pernah main lagi kerumahmu. Jujur ini kali kedua aku kerumahmu dan aku yakin ibumu akan lupa saat perama kali aku datang kerumahmu bersama Diza.

Saat pertemuan pertamaku dengan ibumu, aku dan Diza datang kerumahmu karena tidak sengaja bertemu dijalan dan telah masuk waktu ibadah. Dan kamu menawarkan kami untuk beribadah dirumahmu. Ku hanya bertemu ibumu saat itu. Tidak ada pembicaraan lebih dengannya tapi kenapa dia masih mengingatku dan tidak mengingat Diza. Aku bingung dengan sikap ibumu. Dia terus mengajakku berbincang dan membiarkan kekasihmu. Ada rasa tak enak pada kekasihmu, namun saat aku memberikan kode protes padamu atas sikap ibumu padaku kau hanya tersenyum dan ikut berbincang bersama. Apa sebenarnya yang sedang kau perbuat? Kenapa kau tidak membantu kekasihmu untuk lebih dekat dengan ibumu? Kau malah membiarkan ku tetap berbincang dengan ibumu. Disetiap perbincangan, aku selalu mengajak kekasihmu untuk ikut berbincang namun ibumu bagai tak menganggp keberadaannya. Aku rasa tak enak dengannya. Namun dia bisa mengerti karena aku dan kamu hanya teman yang sangat dekat. Kami pun bermalam dirumahmu dan keesokan harinya kami semua pulang dan saat aku berpamitan dengan ibumu, ia mengtakan agar sering main dan aku hanya tersenyum tipis sambil mengiyakan.

Semenjak kejadian itu, aku rasa aku mulai jauh darimu, mulai tak tau kabarmu dan kabar teman yang lain karena kita sibuk dengan tugas akhir kita masing-masing. Karena acara dirumahmu bertepatan dengan semester baru. Pagi itu aku bertemu Diza dan ia memberikan info tentangmu padaku.

“Ta, gimana kabar lu?”, sapa Diza

“Baik za, lu sendiri gimana? Kapan sidang?”, sapaku

Advertisement

“Lusa gw baru sidang. Eh, lu tau kabar anak-anak gak?”, lanjutnya

“Gw gak da kabar dan gak da kontek sama anak-anak nih. Emang ada kabar apa?”, tanyaku

“Lu juga gak tau kabar si Ari dong? Dia putus sama pacarnya”, tegas Diza

Hatiku bagai disambar petir disiang bolong. Aku gak tau apa yang benar-benar aku rasakan. Apakah aku sedih atau aku justru bahagia?. Jujur aku gak tau apa yang sedang aku rasa saat itu, dan aku tersadar saat diza mengagetkanku dari rasa yang aku rasakan saat itu.

“Ngape lu?”, tanya Diza

“gapapa. Hahaha. Serius lu? Tau dari mana?”, tanya ku

“anak-anaklah, kaya gak tau mereka kan pada biang gosip”, terang Diza

BERSAMBUNG