Dua tahun sudah. Selama itu juga aku menghitung luka. Perpisahan kita yang tak seharusnya karena kisah yang seharusnya memang tak ada.

Aku dan kamu. Dua orang yang pernah bergelar ‘sahabat’ akhirnya harus menyerah pada satu kata yang bernama ‘rasa’. Entah siapa yang memulainya. Aku hanya bisa merasakan degup jantung yang semakin cepat saat bertemu denganmu. Rasa rindu yang memuai saat tak melihatmu. Tanpa kata, tanpa pernah ada seucap komitmen diantara kita.

Hanya ada sebuah kata sayang. “Aku sayang kamu”, katamu. Dan aku menanggapinya dengan tertawa. Aku menganggapmu hanya bercanda. “Ah… itu hanya cinlok aja kok”, kataku. “Bentar lagi juga hilang… “. “Hmmm… mungkin. Tapi pokoknya sekarang aku sayang kamu”, katamu lagi. Aku hanya tersenyum, menganggap semuanya hanya sebuah kisah kecil dalam hubungan kita.

Tapi ternyata tidak. Semua berjalan apa adanya. Rasa sayang yang kurasa, bersemi seiring dengan kedekatan kita. Sejalan dengan pandang mata yang mengungkap rasa. Dan buatku, tidak hanya sebatas cinlok seperti yang terucap dari bibirku. Rasaku nyata. Rasaku ada. Entah rasamu…

Advertisement

Aku tak pernah berharap apa-apa dengan ‘rasa’ kita. Rasa yang memang tak seharusnya ada. Aku cukup puas membaca pesanmu pada inboxku, mendengarkan setiap ceritamu, merasakan sentuhanmu, merasakan kecupan di jemariku, merasakan dekapmu di tubuhku, dan merasakan manisnya bibirmu menyentuh bibirku. Aku bahagia menjadi bagian dalam tawamu. Aku terlena dengan rasaku. Aku terbang dalam buaian rasamu. Aku membiarkan rasa itu mengikatku, dalam dan semakin dalam. Melupakan semua resiko yang menyertainya.

Dan aku terjatuh. Jauh, dalam dan sakit. Saat tanpa kata, tanpa bicara kau meninggalkanku dalam setiap tanya. Membiarkanku tertatih sendiri meraba jawab. Aku tak menyalahkanmu. Walaupun aku pernah menghujatmu. Aku sadar, sangat sadar. Kisah kita adalah kisah yang tak seharusnya ada. Aku dan kamu seharusnya cukup hanya bergelar ‘sahabat’. Tak lebih, dan memang tak seharusnya lebih.

Aku hanya tak rela menghadapi semua tanya dari hatiku. Semua rindu yang menyiksa malam-malamku. Aku hanya ingin satu kata, satu masa dimana kita benar-benar saling mencoba berdamai dengan rasa yang ada. Aku hanya mengharapkan perpisahan yang dewasa, bukan hanya karena emosi semata. Seperti janji yang dulu pernah terucap di antara kita. Saat semua ini harus berakhir, kita akan kembali menjadi seperti biasa, sama seperti dulu. Kembali pada keadaan sebelum seuntai rasa mengikat kita.

Tapi kamu mengingkarinya. Kamu tak pernah menjadi ‘biasa’. Dan mungkin aku juga. Kamu berubah menjadi seseorang yang tak pernah lagi sama. Mungkin kamu tak akan pernah tahu, berapa banyak air mata yang kutumpahkan. Berapa banyak doa yang kupanjatkan. Bukan apa-apa. Aku hanya tak rela kehilangan seorang sahabatku. Tempat dimana selama ini aku bisa berkeluh kesah. Tempat dimana aku bisa menyandarkan kepalaku sejenak disaat aku merasa lelah. Aku tak ingin kehilangan kamu.

Tapi doa dan tangisku tak berbalas. Doa dan tangis yang berdasar pada kesalahan rasa. Kamu pergi, menjauh dan menjauh. Aku tak pernah mengerti apa inginmu. Aku tak pernah tahu apa yang ada di hatimu. Kamu meninggalkanku sendiri dengan sejuta tanya yang tak terjawab. Aku tertatih menata hati. Aku terseok membungkus rasa. Aku terkapar menyembunyikan setiap duka.

Kamu tak pernah lagi memandangku. Kamu selalu bersembunyi dalam diammu. Membiarkanku terluka dan terlena dalam setiap pedihku. Seakan kamu tak peduli. Atau memang kamu tak peduli? Kamu berlalu seperti angin. Meninggalkanku dalam kepingan-kepingan hati yang porak poranda. Aku begitu iri dengan mereka yang bisa dengan bebas berada disisimu. Bercanda dan berbagi cerita. Sedangkan aku, tak pernah lagi berani untuk mendekat padamu. Aku tak berani lagi menatapmu. Tenggelam dalam ketakutanku. Aku takut kamu melihat rasa itu di mataku. Aku takut tak bisa menyembunyikan rasa itu saat memandangmu.

Seandainya aku bisa pergi. Seandainya aku bisa berlari. Aku tak ingin melihatmu lagi. Tak ingin tersiksa dengan rasaku saat aku tak lagi bisa menyentuhmu. Aku hanya bisa memandangmu dari tempat persembunyianku. Tempat yang menyimpan banyak kenangan kita. Lubang yang menyiksaku dengan bayangmu. Hanya 3 bulan aku mendekap rasa. Sampai kusadari bahwa aku bukan siapa-siapa. Dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa untukmu.

Hari demi hari, bulan demi bulan. Kujalani hari-hariku tanpa hadirmu lagi. Kubiarkan rasa yang pernah ada menguar bersama debu, menghilang pelan dan perlahan. Aku mulai bisa berdamai dengan hatiku. Aku mulai bisa menerima kenyataan bahwa kamu tak lagi menjadi sahabatku. Tak lagi menjadi ‘rasaku’. Dan aku mulai melangkah, bersama mereka yang disampingku.

Satu demi satu, kulewati setiap masa. Satu demi satu, kulepas bayangmu dari kepalaku. Aku mencoba melihatmu cukup hanya sebagai rekan kerjaku. Aku bersyukur masih bisa mendengar gelak tawamu, melihat kekonyolanmu, dan sesekali menimpali canda riangmu. Aku mencoba untuk membuat semuanya kembali menjadi biasa saja, seperti dulu.

Dua tahun sudah. Waktu yang sangat lama untuk melupakan bayangmu. Bukan hal yang mudah untukku menghilangkan rasa saat setiap hari aku harus menatapmu. Dan nyatanya aku memang tak bisa. Rasa itu masih saja ada, bersembunyi di satu sudut hatiku. Menunggumu untuk memanggilnya kembali memenuhi benakku.

Sekali lagi, aku tak pernah tahu apa yang ada dalam anganmu. Saat kamu datang kembali, masuk ke ruang persembunyianku. Memintaku memelukmu. “Pelukan seorang sahabat”, katamu. Saat kutanya, “Tumben…”, kamu hanya tersenyum menjawabnya. Dan aku membiarkanmu memelukku. Merasakan lagi hangatnya dekapmu. Merasakan lagi desah nafasmu di telingaku. Apa maumu sayang?

Kembali lagi kurasakan degup jantung yang menggelepar saat kutangkap sorot mata yang sama seperti dulu. Sorot mata yang menyisakan rasa. Kembali lagi kurasa rindu yang dulu pernah mendayu. Kembali lagi ingin kurasa sentuhan dan kecupanmu. Walau tetap tak pernah kutahu, apa arti hadirku di hidupmu.

Kamu tetap sama seperti dulu. Datang dan pergi tanpa mau tahu dan mengerti rasaku. Membiarkan tanya yang sama membayang dan tak terjawab. Seharusnya aku tak membiarkanmu memelukku lagi. Seharusnya aku tak membiarkanmu meraih jemariku lagi untuk merasakan kecupmu. Seharusnya aku menjaga bibirku dari manisnya kecupan bibirmu. Dan seharusnya aku menjaga hatiku dari rasamu.

Sekali lagi aku terlena. Sekali lagi aku terhempas ke dalam rasa yang sama. Rasa yang pernah mengikatku. Rasa yang pernah membodohiku. Aku mengharapkan lebih. Aku ingin merasakan hadirmu lagi.

Dan akhirnya kamu meninggalkan lubang persembunyianku. Tak lagi datang membawa setitik rasa yang selalu kutunggu. Walau terkadang masih kutangkap sebersit rasa di matamu. Sekali lagi harus kurasakan luka dan pedih mengoyak hatiku. Bodoh…bodoh…bodoh… Aku terpersorok lagi di tempat yang sama.

Dua minggu. Hanya selama itu kamu ada. Dan itu waktu cukup untuk menyadari kebodohanku lagi. Untuk menyadari bahwa dari dulu aku bukan siapa-siapa. Dan sampai kapanpun tak akan pernah menjadi siapa-siapa untukmu.

Apa maumu sayang? Aku tak pernah bisa menduga dan menebak inginmu. Sejuta amarah dan kecewa merobek hatiku. Apa aku hanya sebuah obyek untukmu? Tempatmu datang dan pergi sesuka hatimu? Tempatmu berlari saat tak kautemukan rasa dengan teman hidupmu? Atau suatu uji coba akan hatiku? Untuk tahu apakah pesonamu masih bisa menggetarkanku?

Aku tak pernah berharap lebih darimu. Aku tau, aku dan kamu tak akan pernah bisa berubah menjadi ‘kita’. Ada orang lain yang lebih berhak menggenggam tangan dan hati kita. Semu… semuanya semu…

Aku hanya ingin kamu tahu, semua kulakukan karena rasaku. Rasa yang masih tersimpan untukmu. Rasa yang entah kapan akan beranjak pergi dari hatiku. Rasa yang membuatku mampu berkata “dulu aku menyayangimu, dan kini ternyata aku masih menyayangimu”. Aku akan kembali ke lubang persembunyianku. Kembali mengakrabi semua kenangan kita, sendiri. Kenangan yang selamanya akan menjadi kenangan. Semoga kamu mengerti, sayang…

Make me blind…

So, I won’t try to find you with my eyes…

Make me deaf…

So, I won’t try to hear your voice with my ears…

Untuk seseorang yang menjadi rasa rahasiaku