Juni. Masih menyimpan sedikit tanya akan asaku. Menengadah kepalaku mencari nasehat – nasehat. Karena aku tahu tanganku hanya bisa menulis, kakiku hanya bisa menopang dan hatiku hanya bisa bertanya. Kau berlalu pada musim lalu, dan aku hampir lupa bagaimana caramu tertawa. Namun lukaku yang tidak pernah sembuh, selalu mampu mengingatkanku siapa dirimu.

Malam – malam itu selalu mengikat. Mengikatku pada penopang layu, mengikuti gerakku semakin melemah. Para sahabatku berkata jangan menangis di atas lumpur yang mengering, tidak ada rasa sesal di sana. Dan aku masih luka di sini, di mana pun. Terikat pada hati yang aku asa sendiri. Mendongeng pada diri sendiri.

Hei Juni.

Aku hanya belum bisa pahami, bagaimana kau hampir mengambil semua dariku kecuali akal sehat ? Itu saja. Kau masih seperti terik di hari hujan. Hatimu teduh menenggelamkan banyak mimpi. Dan kau yang mulai dikisahkan sejak hari ini, kau tidak akan menyembuhkan apapun, siapapun.