Cerita tentangku yang masih saja berlindung dari cahaya senja disaat menujumu

Mungkin kamu pernah mengetahui bahwa malam itu memang benar gelap adanya. Dan aku ini bukannya si penggila senja dan melupakan malam yang jauh lebih indah.

Namun aku selalu kedinginan diantara semua keindahan itu, aku selalu kesepian diantara semua pernak-pernik bintang itu.

Aku masih bertahan disalah satu dahan tua yang pernah kita tulis bersama daunnya, yang kita rawat bersama bunganya. Namun hadirmu itu tak kunjung jua aku temui disana.

Aku masih sendiri meski matamu selalu saja membayangi, dikala aku terjaga dan terlelap dimalam hari.

Advertisement

Kemarilah segera. Bukankah rindu ini hanya milikmu saja.

Bukannya aku tak bisa melangkah menujumu. Kau tahu? yang ku bingungkan sedari dulu ialah kenapa kamu begitu cepat berlalu dalam bergerak menghindariku.

Aku ini memang aneh, begitu lama memendam rasa namun tak kunjung juga terlaksana.

Ada apa denganmu. Bukankah semua rindu ini milikmu? Lantas ku kemanakan semua cinta yang tumbuh sedari dulu? Ku berikan pada awan? Hujan? Atau pohon diujung jalan?

Dersik ingatan itu terus saja mengusik dengan menghadirkan bayang-bayang tentangmu.

Entah aku ini lugu atau dungu. Namun aku tak pernah bisa berlari dari bayangmu, tidak perduli barisan bidadari itu terus saja merayuku untuk meninggalkan tempat dimana aku menunggumu.

Aku masih menunggumu, tertatih dengan rindu yang semakin lama memakan usia ku.

Aku mengira, mungkin semua mata angin itu buta, tidak peduli kemana pun arahnya. langkah ku selalu saja berjalan menuju kearahmu. Meski kau terlihat jelas didepan mata. Kenapa jari-jarimu tak kunjung jua tergenggam.

Angin laut itu terus saja mendorongku agar tak hanyut, namun angin pulau itu terus saja memaksaku untuk tetap pergi dan berlayar menujumu.

Dan aku masih saja mempelajari, bagaimana cara terbaik untuk membohongi diri sendiri. Bersembunyi dibalik senyum palsu didepan yang lain sungguh mudah dilakukan. Namun hatiku selalu saja tahu. Bahwa aku tak selalu baik-baik saja adanya.

Ingin sekali ku bercerita, namun yang tercinta belum juga menapakan kepastiannya. Ah sudahlah ku pendam saja hingga mata ini kehilangan warnanya.

Mungkin keputusanku masih berjelaga untuk tetap tinggal atau.

Tetap tinggal

Aku hanya banyak dalam menyebutkannya. Namun pilihan yang ku punya memang hanya tinggal

Meski lelah, aku lebih suka disini. Aku tidak peduli apa yang akan kau katakan nantinya.

Itu saja.