Selain aku, banyak manusia lain di luar sana yang mencinta malam. Mereka beranggapan bahwa malam adalah tempat menemukan inspirasi. Malam tempat beristirahat dan merebahkan lelah. Malam juga memberi pelajaran yang berharga bagi mereka yang mengerti setiap keindahan, ketenangan, dan kedamaian.

Kenapa malam begitu terasa indah? Malam mengerti saat aku harus memendam rindu untuk pulang ke kampung halaman. Di sanalah aku bisa bertemu dengan orang-orang yang aku cintai. Orang-orang yang menungguku dengan doa dan berharap akan kesuksesanku. Ada rasa sedih yang tersirat di balik nada suara lewat telepon genggam itu. Menanyakan kabarku. Suara yang sudah lama tidak kudengar secara langsung. Suara dari seorang Ibu yang merindukan anak nya. Merindukannya pulang.

Memeluk sosok tegar itu yang rambutnya kini kian memutih. Kulitnya kian keriput. Tubuh itu mulai ronta. Tapi semangat nya tak pernah tua. Jika saja dunia ini hanya bisa digenggam dengan cinta, mungkin aku tidak akan kehilangan lima tahun itu. Lima tahun tanpa pelukannya. Lima tahun tak kurasakan tangan halus itu memberiku sesuap nasi sembari siap-siap sekolah. Saat itu bahkan aku sudah sekolah menengah. Sedetikpun tak pernah ku lupa, bahwa beliau selalu hadir dalam tumbuh kembangku.

Kenapa malam begitu menenangkan? Malam selalu tau saat aku kecewa dengan sesuatu. Saat semua orang bertindak dan berucap tidak sesuai dengan harapanku. Saat aku harus bertemu dengan ratusan manusia setiap hari. Bekerja di tempat yang sama. Melakukan hal-hal yang sama. Mungkin kita punya masalah yang berbeda, tapi kita tak pernah saling tahu. Sebagian orang mungkin tak mau tahu, tapi jika hati ini tahu, kita tak kan pernah marah, sedih, kecewa bahkan ingin teriak ketika ada orang yang mengusik. Karena kita akan mengerti, bahwa mereka sedang bermasalah.

Andai semua orang bisa mengerti tanpa harus meminta dimengerti. Mungkin dunia tak kan sekeras ini. Tak sekeras jalan pergi menuju kantor dan pulang menuju rumah. Kenapa? Karna saat itulah aku tau dan merasakan betapa kejamnya keegoisan manusia di jalanan. Betapa kejamnya terik matahari yang bisa membuatku lelah dan menyerah. Setelah menempuh semua itu, aku harus bertemu dengan segala tuntutan dan tanggung jawab di tempatku bekerja. Kau bayangkan saja, betapa dunia menggenggam diriku. Jika aku lemah, mungkin aku sudah menjadi abu.

Advertisement

Kenapa malam begitu damai? Malam tau sekali perasaanku. Saat aku jatuh cinta, aku selalu mengadu pada sang malam, apa boleh aku jatuh cinta? Sesaat aku mungkin akan merasakan kegembiraan, sedikit ada rasa rindu, kadang cemas, bahkan takut jika ternyata cintanya tak seperti cintaku. Kemudian akupun tau, ternyata ada rasa kecewa, cemburu dan juga kesedihan saat aku jatuh cinta.

Aku belajar semuanya. Semua rasa yang diciptakan saat hati merasakan cinta. Aku belajar memaafkan dan merelakan. Saat aku harus menyadari bahwa cinta tak harus memiliki. Cinta kadang juga tak bisa dipaksakan. Sudahi saja dengan merelakan nya pergi. Memaafkan keadaan serta berdamai dengan masa lalu. Apakah semudah itu? Tentu tidak, aku harus merasakan sakit untuk mengecap semuanya. Tapi satu hal yang aku sadari, apapapun bentuk rasa itu, aku percaya mereka memberiku pelajaran yang berharga.

Begitulah malam selalu menemaniku setiap hari. Dengan semua keindahan, ketenangan dan kedamaian yang dia pancarkan. Tempatku mengadu di kala rindu, mengeluh di kala resah, dan mencurahkan semua cinta yang kurasa.

Wahai malam, tunggu aku di tempat dan waktu yang sama