Setahun berlalu..

Yah, tak terasa ya sudah satu tahun kita mengakhiri semuanya.

Sudah satu tahun pula aku berjuang sendiri melupakan kamu, tapi apa kamu tau bahwa bayangmu masih melekat di hatiku. Entah tinta apa yang kamu pakai untuk melukis di hati dan pikiranku sampai aku sulit mencari penawar tintanya. Dulu aku berpikir mungkin setelah satu tahun berlalu aku akan lupa dengan orang yang pernah mengisi ruang di hatiku.

Tapi apa, bahkan saat satu tahun berjalan pun tentangmu masih selalu ada di pikiranku. Aku di sini masih berjuang melupakan jejak-jejak yang telah mati satu tahun lalu, entah kenapa bayangmu tidak mau pergi dari ingatanku padahal aku sudah tidak pernah lagi berusaha mencari tau tentangmu.

Tapi entahlah, begitu sulitnya aku melupakanmu, terkadang aku marah pada diriku sendiri.

Advertisement

Ayo Nofi, lupakan dia. Dia sudah tidak perduli lagi pada mu, lihat dia sudah bahagia dengan orang lain, tentu tidak ada nama mu lagi dalam hatinya. Apa yang kau harapkan darinya? Kau ingin kebahagiaan dengannya?

Tapi apa? Apa? Yang kamu dapatkan hanya perih, bukan?

Ayo Nofi, berjuang. Lupakan yang telah mati. Lupakan cinta yang telah membuatmu hancur.

Kalimat itu berkecamuk dalam diriku. Dan lagi, aku meneteskan air mataku untuk yang kesekian kalinya di depan Tuhanku. Sejujurnya aku malu pada Allah SWT yang telah menciptakan langit, bumi dan segala isinya karena aku mengharapkan hamba-Nya yang belum tentu taat pada Tuhannya.

Ya Allah, ampuni aku, ya Allah. Aku sudah terlalu berharap kepada manusia dan hampir melupakan-Mu.

Sebenarnya bukan ini yang aku inginkan. Sangat simpel sebenarnya, aku hanya ingin berdamai dengan masa lalu. Aku ingin masa depan tanpa masa lalu yang menahan langkahku. Tidak mudah memang melupakan tiga tahun perjalanan cintaku sedangkan waktu untuk melupakannya baru berjalan satu tahun, mungkin aku membutuhkan waktu lebih lama dari saat aku mencintainya.

Ayo Nofi berjuang lagi, jangan menyerah sampai di sini saja.

Lagi-lagi aku menyemangati diriku karena jika bukan aku, lalu siapa lagi. Karena kuncinya hanya ada pada diri sendiri, aku dikecewakan oleh diriku yang terlalu berharap kenangan indah itu kembali lagi seperti sedia kala.