Hari-hariku ku lalui masih seperti biasanya, diinjak, dicabut, atau bahkan disemprot herbisida. Yang aku rasakan sekarang, aku selalu disia-sia, Kata orang aku pengganggu tanaman mereka, namun apakah aku tak layak untuk dicintai juga?

Aku sudah terbiasa menerima kata-kata kasar dari setiap ucapan mereka, ketika mereka marah kepadaku karena sel-selku tumbuh tak terhingga , Rasanya hati ini terlalu kebal menerima semua ucapan-ucapan kasar itu kepadaku. Hingga terkadang telingaku pun tak meradang karena terlalu sering mendengar makian itu. Kalau tanaman yang selalu kau puji tak berproduksi tinggi, selalu aku yang selalu kau jadikan sasaran kemarahan itu..

Namun, Jangan khawatir, kau mengenal ku dengan ketangguhan. Masih bisa berlari dari kenyataan pahit ini, masih bisa tersenyum walau tak pernah kau hargai. Aku juga berterima kasih untuk kedewasaan yang kau ajarkan padaku setiap hari.

Aku tak ingin membenci sama sekali. Bukankah Kita sama-sama makhluk Ilahi ?

Kau tidak perlu lagi menanggapi keluhanku yang menumpuk. Marahmu mu adalah jawaban yang teramat pasti. Untuk apa lagi ? Anggap saja aku tak pernah ada sama sekali. Seperih apapun, ini kisah yang patut aku syukuri.

Advertisement

Dari Aku

Gulma yang hidupnya selalu kau cabut sesuka hati