Finally, the time is coming.

Akhirnya sampai juga pada saat ini. Saat aku benar-benar harus melepasmu dan membiarkanmu pergi meninggalkanku lagi, kembali pada mereka yang menyayangimu. Sama sepertiku, kembali pada mereka yang menyayangiku.

Setahun sudah kita merenda rasa, terutama aku, entah kamu. Sampai pada satu alasan tak terbantahkan untuk berpisah. Karena kamu memang bukan milikku, karena kamu hanya sebuah titik semu yang ada dalam hidupku. Bukan hal yang mudah melepasmu, walau sudah kusiapkan hati jauh-jauh hari, tetap saja sakitnya menusuk hati.

Kamu tak lagi datang sejak kejadian itu. Tepat seperti dugaanku. Aku tahu kamu, aku kenal kamu. Kamu jauh lebih kuat dari aku. Kamu masih seorang pria yang lebih mengedepankan logika, tidak seperti aku yang masih saja bergelut dengan rasa. Dan sekali lagi, logikamu lebih unggul daripada rasaku.

Aku menunggumu, menunggu dan menunggu. Sampai tak sanggup lagi kutahan jemariku untuk tidak mengirim pesan padamu. "I miss u, masih boleh?" hanya itu. Tak selang berapa lama, sosokmu tiba di ruanganku. Memelukku erat, mengecup kening, pipi dan bibirku. Lembut, hangat dan menenangkan hatiku. Kunikmati setiap sentuhanmu, karena aku tahu, mungkin ini akan menjadi saat terakhir kamu ada di sini, dan kamu tak akan pernah datang lagi.

Advertisement

Aku tenggelam dalam sedihku. Menahan jatuhnya air mata yang menyesakkan dada. Hanya diam dan tertunduk, tanpa sanggup mengucapkan sejuta kata yang tertahan di bibirku. Mendengarkan semua rasa yang terucap dari bibirmu, tanpa bisa kubantah, tanpa bisa kupatahkan, karena semua memang benar adanya.

Menyesal…. haruskah?

Marah…. haruskah?

Semua rasa bercampur dalam anganku. Entah apa yang kurasa, aku tak tahu. Semua terasa melayang hampa, tanpa tahu harus berbuat apa. Aku hanya membeku dalam pelukmu. Aku hanya mampu membisikkan satu kalimat.

"Aku bener-bener sayang kamu", kataku.

"Aku tahu", ucapmu. "Tapi sampai kapan kita mau begini? Membohongi diri sendiri, membohongi orang-orang yang menyayangi kita. Kita egois kan?"

"Iya, aku tahu."

"Kamu tahu kan alasannya kenapa aku nggak pernah kesini," katamu lagi. "Aku nggak bisa untuk tidak memelukmu," ucapmu lirih.

Aku tergugu dalam pilu. Semakin erat kamu memelukku, membuatku semakin tak ingin melepasmu. Aku ingin tenggelam dalam pelukmu. Aku tak ingin melepas rasaku.

"Jangan berubah," pintaku.

"Nggak, aku nggak akan berubah. Tiap hari kita ketemu kan?"

Hfftt, kamu tak akan pernah tahu rasaku saat melihatmu melangkah meninggalkan ruanganku. Kamu tak akan pernah tahu betapa sulitnya melihatmu dengan menyembunyikan rasa di mataku. Betapa sulitnya untuk tidak merindumu. Menyembunyikan luka dan sakitku dalam setiap senyum dan tawaku. Dan semua harus kurasakan, setiap hari.

Sekali lagi, kuserahkan kamu dalam balutan doaku. Aku tak akan menahanmu sayang, aku membiarkanmu terbang kemana kamu suka. Bahkan dengan deraian air mata yang seakan tak berhenti sejak 3 hari yang lalu. Saat kusadari, kamu pasti akan pergi.

Pergilah sayang!

Bawalah semua rasaku bersamamu.

Terima kasih, telah mengakhirinya dengan indah.

kamu dan kenanganmu…

aku dan rasaku…

I love you…

and still…