ich lieb dich immer noch so sehr, lieb dich immer noch viel mehr

“Aku masih mencintaimu, masih mencintaimu dengan lebih”

Penggalan lirik ini selalu mewakili perasaan yang tak bisa kukatakan. Suara Duo dari Jerman Kate dan Ben selalu saja membuat air mataku menetes. Lagu yang kuputar berulang-ulang kali ini adalah lagu kegemaranku. Lagu ini selalu mengingatkan tentang masa lalu. Tentang kisah cinta yang harus berakhir.

Seandainya kamu tahu betapa aku merindukanmu, ingin rasanya kembali. Namun aku sudah berjalan terlalu jauh. Bukan karena tak mencintaimu, hanya keadaan yang memaksa untuk melepaskan. Terlihat pecundang? Ya memang. Aku seorang pecundang. Pecundang yang masih mencintaimu, pecundang yang tak mampu melihat kesedihanmu hingga akhirnya dia memilih untuk menyakiti kedua perasaan. Perasaan si pecundang itu dan dirimu. Tapi kamu harus tahu dia bukan seorang pecundang sungguhan, percayalah dia pernah berjuang sekuat tenaga. Tapi memang ada beberapa hal yang tidak bisa dia dapatkan di dunia ini, salah satunya dirimu.

Sungguh, aku berani bersumpah itu bukan kemauannya, itu bukan keinginannya, dia hanya memakai sedikit sisa logikanya, mengabaikan rasa cintanya yang besar hanya demi melihat dirimu bahagia. Dia hanya tak ingin kamu terjebak lebih lama lagi dalam cinta yang tak tentu arah ini. Si pecundang itu dengan berat hati melepasmu walau dia tak ingin, walau dia tahu hidupnya kini hanya sekedar hidup.

Menangisimu? Jangan ditanya. Setiap waktu dia lakukan hanya untuk sekedar mengingatmu, hanya untuk sekedar membayangkan melihat salju bersama dirimu di Inggris, mencoba merasakan kembali apa itu bahagia agar dia tak melupakannya. Kini sipecundang itu tak hanya kehilangan dirimu, sesungguhnya dia juga kehilangan setengah bagian dari hatinya.

Betapa bahagianya dia saat bersamamu dulu. Hidupnya selalu terasa baik-baik saja. Bahkan ketika pecundang itu merasa dunia tak menginginkannya, tapi selalu ada kamu. Selalu kata-katamu yang membuat hatinya tenang. Selalu saja kata-katamu yang membuat dirinya percaya diri saat semua orang mencemooh berat badannya. Selalu saja sikapmu yang membuat dirinya merasa menjadi wanita paling cantik di dunia ini, selalu saja perhatianmu yang membuat dirinya yakin kamu adalah kebahagiaannya. Dia selalu merasa kamulah keajaiban yang Tuhan kirimkan. Tapi baginya cinta hanya dibungkus palsu kebahagiaan. Dia berkata demikian karena pecundang itu pernah merasakannya pahitnya cinta. Patah hati dia adalah patah hati pertama dan terhebat yang dirasakan. Bisa kalian menjadi dirinya, harus melepaskan di saat masih sangat mencintai?

Advertisement

Bagaimana cara aku melupakan? Sementara hanya nama kamu yang terukir indah di hati.

Semua orang berkata “Kamu harus menemukan orang yang baru agar bisa melupakan yang lama”. Terdengar mudah? “Ya!” jawabku. Tapi tidak untuk kulakukan, aku tak pandai bermain hati. Aku tak bisa membayangkan raga dan pikiranku untuk seseorang yang baru tapi hati ini masih untukmu. Tidak! Tidak akan pernah aku lakukan! Bodoh? Memang aku si pecundang bodoh tapi aku tak mau membuat seseorang terluka hanya demi harapan palsu.

Cerita ini memang harus ku akhiri dan nyatanya memang sudah berakhir tidak ada lagi yang harus diharapkan biarkan kita berjalan masing-masing. Kini aku dan kamu hanya menunggu dibuat asing oleh sang waktu. Tak apa jika berpisah denganmu membuat hidupmu lebih baik, tak apa jika melepasmu bisa membuatmu bahagia. Dan jika suatu hari nanti aku melihatmu bahagia bersama dengan orang yang baru. Aku tak akan pernah bertanya kepada Tuhan lagi mengapa semua ini harus terjadi.