Namanya hati, tak tentu kemana ia jatuh. Begitu saja, seperti mencari undian emas diantara hadiah payung, aku temukan kamu yang sedang tersenyum di pojokan sana. Awalnya, aku hanya berpikir bahwa kesepian mengujiku, mungkin hatiku hanya butuh bermain-main, mungkin aku hanya sedang mabuk karna beer yang ku teguk beberapa jam lalu. Sekilas, ku ingat lagi bagaimana aku bisa sampai rumahmu, tepat di depan manik-manik matamu yang berwarna biru. Aku tau, aku mungkin bisa saja jatuh cinta pada bola matamu yang indah. Kamu tersenyum kikuk, merasa canggung pada situasi yang menjebak kita berdua, ya saat itu hanya kita berdua dan music jazz yang kau putar di notebookmu, kita tak bicara hanya saling tersenyum.

Malam itu, aku tau, aku akan gila, terlebih saat kau matikan music dan mulai memainkan gitar yang berada di seberang kakiku. Aku tau, aku akan gila setelah ini. Kita mulai bercanda, berbicara tentang dunia, budaya, semua hal yang menarik kita menjadi lebih dekat. Kumohon, aku tau, aku akan gila. Rasanya ingin ku putar waktu dan menyesali aku datang padamu, karna aku tau, aku akan gila.

AKU GILA HARI INI
aku tau aku sudah gila, aku terobsesi olehmu, ku cari dan ku baca semua artikel yang berhubungan denganmu, bagaimana lagi aku memenangkan hatimu sayang ? aku hilang akal. mengapa mencintaimu sesakit ini ? ku cari semua jawaban di buku-buku, perpustakaan, celah-celah dinding, tak ada satupun yang datang. Tak bisakah kamu sedikit saja, mengizinkan aku masuk seperti saat pertama kali aku muncul di beranda rumahmu dengan kikuk ? sesulit itukah menerima aku yang sekarat mencintaimu ? KAU TAK PERNAH TAU. TAK AKAN.

PHP, pemberi harapan palsu, ujar teman-temanku melabelimu. Aku diam, tak berarti sepakat, aku hanya.. ah ! aku hanya terlalu berharap, ini bukan salahmu, ini sepenuhnya salahku. Semua yang terjadi, antara aku dan kamu.. bagaimana dengan mudahnya aku membiarkan kamu membawa pergi hatiku yang sedang rapuh-rapuhnya. Toh, kamu tidak tau apa-apa dan mereka menghakimimu. Jujur, mencintaimu.. sama seperti memotong urat-urat nadiku, perlahan dan mematikan.. teringat satu lagi kenangan manis saat kita sedang baik-baiknya, saat kita sedang indah-indahnya, suaramu yang berbisik ditelingaku, ah.. air mata saja rasanya sudah terbiasa mampir di kelopak mataku. KATA-KATAMU MENGHANGAT, seingatku setelah 2 botol beer mampir di tenggorokan

KARNA HATIKU SESAK KU PUTUSKAN UNTUK MEMBUANG SEMUA TENTANGMU

Advertisement

Ruangan ini, hatiku.. yang semakin sesak dari hari ke hari. Rasa-rasanya aku harus mengorbankan 1 ruang untuk ku buang isinya dan menggantinya dengan yang baru atau mengosongkannya saja seperti dulu. Sebelum kamu memenuhi semuanya. Aku lelah berharap, aku lelah bilang rindu, aku lelah menyebut namamu sebelum tidur. Setidaknya ada yang masih bisa ku banggakan setelah ini semua berakhir, “aku sungguh sungguh memperjuangkanmu, aku sungguh-sungguh mencintaimu”. Semoga hatiku yang tak pernah memenangkanmu atau bahkan sudah kalah saat pertama kali datang, mampu menyadarkanmu di lain waktu.

AKU BEBAS LAGI