Hari yang paling aku takutkan akhirnya tiba juga. Hari dimana aku harus melepaskan semua perasaan yang ada terhadapnya, hari dimana harus mulai terbiasa tanpanya, hari dimana kata “kita” tak akan lagi ada. Kini yang ada hanya ada aku dan kamu.

Yah, hari ini aku kehilanganmu. Hari yang benar-benar tidak ingin aku lalui, hal yang benar-benar tidak aku inginkan terjadi. Sudah terlalu banyak rencana yang telah kita susun bersama, hingga rasanya sangat sulit untuk menerima bahwa perpisahan itu nyata adanya. Namun, takdir berkata lain kita nyatanya memang sudah berpisah

“Ahhh… menggantungkan harapan setinggi langit itu tidak enak ternyata ketika harapan itu harus pupus dan hanya tinggal sebagai puing-puing kenangan, kataku”.

Aku jadi ingat bagaimana awalnya kita bisa mengenal satu sama lain, bisa dekat, dan akhirnya menyandang status sebagai sepasang kekasih. Aku tidak pernah menyangka bahwa kita bisa seperti ini, bisa sedekat ini. Kita bisa sedekat ini semenjak Blackberry Messenger (BBM) mempertemukan kita.

Lucu memang, kita dipertemukan melalui sosial media dan hingga pada akhirnya kita memutuskan untuk menjalin suatu hubungan serius yang kebanyakan anak-anak muda jaman sekarang menyebutnya “pacaran”. Sekalipun dulu kamu tidak pernah suka menyebut kata “pacaran” itu untuk hubungan kita.

Advertisement

“Kita itu sudah dewasa, jika kamu menyebutnya hubungan kita ini cuma sebatas pacaran itu berarti kamu harus siap kita berpisah”.

Sebenarnya waktu itu aku tidak paham apa maksud dari perkataanmu itu. Namun satu hal yang aku tahu, aku sangat bahagia mendengarnya. Karena itu tandanya sampai kapanpun kita tidak akan berpisah. Yah, kamu mengatakan bahwa kamu lebih suka sebut hubungan kita ini adalah hubungan yang serius. Namun, kini takdir berkata lain. Aku tetap saja kehilanganmu, kita tetap saja berpisah.

Beberapa bulan telah berlalu, bahagia? Tentu saja. Sekalipun kita sama sekali belum pernah bertemu. Kotamu dan kotaku cukup lumayan jauh untuk mempertemukan kita. Namun, itu tidak pernah menjadi masalah yang serius bagi hubungan kita. Hingga pada akhirnya hubungan kita memasuki usia 150 hari.

Pada saat itu orang-orang mulai mencoba melemahkanku, termasuk orang tua dan teman-teman terdekatku. Aku pun sangat mengerti mengapa mereka bersikap seperti itu, tentu saja karena mereka peduli. Mereka tidak ingin aku dipermainkan lagi, mereka tidak ingin aku jatuh hati pada lelaki yang salah lagi. Hanya saja waktu itu aku memilih buta, aku memilih tuli. Aku tetap saja memilihmu, aku tetap saja percaya kepadamu. Meski aku tahu nanti yang aku dapatkan tidak selalu hal-hal baik dari memilihmu. Tidak mengapa, dengan mengikuti suara hati saja itu sudah cukup menyenangkan buatku.

Hal-hal tidak baik itupun mulai berdatangan, hingga pada akhirnya kamu tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Padahal dulu kamu yang paling sangat khawatir jika tidak mengabariku, kamu takut aku marah. Karena itu sudah menjadi salah satu komitmen kita sebagai pasangan kekasih yang "Long Distance Relationship (LDR)". Tapi sekarang? Malah kamu yang menghilang, seperti di telan bumi. Aku tidak bisa mengabarimu lagi, tidak bisa mendapatkan kabar darimu lagi. Namun waktu itu aku masih tetap saja berpikiran positif. “Ahh, mungkin dia lagi sibuk dengan kerjaanya" Pikirku.

Namun berhari-hari kamu tidak kunjung mengabariku. Aku mulai tidak karuan, beberapa kali aku menghubungi nomormu, namun yang aku dapatkan dari ujung telefon sana hanyalah balasan operator yang mengatakan bahwa nomormu sedang sibuk, tidak aktif, tidak ada jawaban, bahkan ketika ada yang menjawab orang itu bilang bahwa kamu telah meminjamkan handphonemu ke orang yang mengaku sebagai sepupumu itu.

Waktu itu aku sangat tidak mengerti kenapa ini semua bisa terjadi. Padahal 2 hari sebelumnya kamu masih tampak manis, berbagi kabar seperti biasanya. Hal yang paling tidak aku mengerti, mengapa kamu meminjamkan handphonemu kepada sepupumu yang jelas-jelas latar belakang keluarga kalian itu mampu, bahkan sangat mampu.

“Masa iya, sepupumu tidak bisa membeli handphone? Aku terus saja bertanya-tanya dalam hati”.

Aku pun mulai dirundung rasa curiga, namun tetap saja aku menunggu kabarmu. Dari pagi sampai pagi, tiap menit aku mengecek handphoneku, tiap pagi saat bangun tidur. Itu sudah menjadi rutinitasku waktu itu. Berharap ada pesan singkat darimu yang masuk. Namun harapan itu kembali pupus ketika tak satupun pesan singkat yang masuk darimu.

Hari berganti hari, masih tidak ada kabar darimu. Hingga akhirnya aku menyadari mungkin sudah saatnya aku melepaskanmu. Karena, tidak ada artinya lagi mempertahankan hubungan jika kamu sudah tak menginginkannya lagi. Yang menjalani hubungan ini kita berdua, maka yang seharusnya berjuang kita berdua. Jika cuma satu orang saja yang berjuang, itu akan tak seimbang jadinya.

Jadi, tepat hari ini aku memutuskan untuk tidak mengharapkanmu lagi, siap tidak siap aku harus kehilanganmu, harus melepaskanmu. Insya Allah, aku ikhlas karena Allah.

Aku yakin jika kita berjodoh Allah akan mempertemukan kita kembali dalam keadaan yang benar-benar siap satu sama lain, namun jika kita tidak dipertemukan kembali, Allah tentu akan menggantikannya dengan pasangan yang jauh lebih baik lagi. Kamu dengan pasanganmu dan aku dengan pasanganku. Namun tidak dipungkiri, sangat besar harapanku untuk bertemu kembali denganmu dan bisa menjadi halal untukmu. Sekarang tugasku hanyalah terus memperbaiki diri, menjadi wanita yang sholeha hingga tiba akhirnya kamu dan aku dipertemukan kembali di pelaminan.

“Ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf, makin jauh Yusuf darinya, dan ketika Zulaikha mengejar cinta Allah. Allah datangkan Yusuf untuknya”.

Ingin rasanya menjadi seperti Zulaikha yang didatangkan Yusuf untuknya ketika Ia tetap memperbaiki dirinya. Aku tunggu kamu wahai calon imamku