Hampir semua generasi 90’an mulai mendapat kiriman undangan pernikahan dari teman sekolah maupun kerabat. Mungkin awalnya terasa biasa dan menyenangkan bisa bertemu dengan teman-teman serasa reuni. Mungkin akan sedikit berbeda rasanya bagi mereka yang mulai menginjak semester akhir dan mulai bekerja. Memang bahagia bisa memandang betapa bahagianya sepasang pengantin. Tetapi suatu pertanyaan akan terbersit dalam kepala,

“Kapan aku bisa merasakan momen bahagia ini?”

Apalagi menyadari bahwa selama ini masih asik sendiri. Kemana saja aku selama ini? Terlalu asik bersama teman-teman? Terlalu sibuk urusan kuliah atau pekerjaan? Lalu sambil mempersiapkan mental dan materi kenapa tidak mulai mencari dari sekarang.

Mulai membuka pertemanan lebih luas, berusaha mencari sosok bukan hanya sekedar untuk pacaran tetapi juga untuk serius. Memang tidak semudah itu bertemu dengan berbagai orang yang mungkin hanya berniat main-main. Hingga suatu ketika ada seseorang yang menarik hatimu. Dengan mengenalnya kamu bisa menemukan pandangan baru tentang hidup. Saling bertukar cerita untuk bisa saling mengenal.

Tak sesederhana itu, kadang ada saja kesalahpahaman, kesibukan atau bahkan jarak yang membuat kalian menjauh. Kemudian pertanyaan lain akan muncul kala keraguaan melanda.

Advertisement

“Apakah benar dia orang yang aku cari selama ini?”

“Bagaimana caranya aku bisa yakin bahwa dia jodohku?”

Saat usiamu makin dewasa inilah kamu akan menyadari bahwa berusaha menerima kekurangan pasangan itu lebih bijak daripada terus mencari dia yang sempurna. Pengertianlah yang dibutuhkan dalam suatu hubungan dewasa. Karena menerima kelebihan seseorang tentu sangatlah mudah. Tapi penyesuaian dua individu yang berbeda juga memerlukan waktu.

Tidak semua orang tentu akan mulus dalam pencarian ini. Ada kalanya Tuhan sedang mengujimu dengan mempertemukan dengan orang yang salah. Tidak mudah untuk bisa merasa nyaman dan cocok dengan seseorang. Mungkin membayangkannya memulai dari awal lagi sudah membuatmu merasa lelah. Mulai menyalahkan Tuhan yang mungkin tidak menyayangimu? Tentu saja salah besar.

Percayalah bahwa Tuhan sangat mencintai hamba-Nya.

Bersyukurlah karena Tuhan menjauhkan kamu dari terjerumus lebih dalam pada hubungan yang salah. Agar kamu belajar sesuatu dari kesalahan tersebut. Bersedih dan menangis tentu boleh saja, tapi ingat jangan terlalu lama. Bukankah dunia ini terlalu indah untuk kamu sia-siakan hanya karena kekecewaan pada satu manusia. Selalu percaya bahwa rencana Tuhan selalu lebih baik. Bangkit walau awalnya akan terasa sulit.

Jika sulit melupakan kesedihanmu, maka cari kesibukan dan sebisa mungkin hindari menyendiri. Jangan beri waktu dirimu untuk kembali meratapi masa lalu. Berkumpulah dengan teman-teman, merencanakan liburan untuk mengubah suasana sejenak. Buang semua barang kenangan maupun history percakapan yang membuatmu terus mengingatnya. Berhenti mencari tahu dan hapus kontak dia untuk sementara. Ini demi menjaga perasaanmu hingga nanti semakin kuat.

Tak perlu membenci karena itu hanya akan semakin menyakiti dirimu.

Orang yang kau benci bahkan tidak akan mengerti apa yang kamu rasakan. Biarkan Tuhan yang mengurus balasan perlakuan buruk pada hamba-Nya. Maafkan siapapun yang pernah menyakitimu. Sedalam apapun perasaan yang tertanam, pasrahkan pada Tuhan. Mungkin sekarang bukan saat yang tepat. Ikhaskan dia jika memang dia bukan jodohmu, maka Tuhan akan punya sejuta cara tak terduga untuk mempertemukan kalian. Mungkin dengan cara yang lebih indah dari sebelumnya.

Kini tunjukkan bahwa kamu bisa bahagia. Tersenyumlah