Hari ini terasa berbeda. Saat matahari belum menyongsong dari timur, biasanya aku masih melingkarkan badan pada lantai yang tak beralas karpet ataupun kasur. Bulir-bulir air hujan jatuh pada atap sederhana dari seng yang tersusun. Mata masih berusaha untuk menutup. Tidurku terganggu dengan kegelisahan. Buluku tak begitu lebat, udara dingin dengan mudah membuatku gemetaran pagi ini. Tubuhku bergesek-gesek dan bergoyang ke sana kemari mencari posisi berbaring yang nyaman. Jujur, aku tak bisa berdamai dengan suasana pagi ini.

Aku segera bangkit. Langit terlihat masih sangat gelap dengan sedikit cahayanya, sepertinya sedang mendung. Hiruk-pikuk belum begitu tampak, hanya mobil pick-up yang lalu lalang di hadapanku. Cuci muka gratis pun aku dapatkan dari genangan air saat kendaraan itu melaju kencang di depanku. Kugelengkan kepala beberapa kali. Segeraku beranjak dan melangkahkan kaki mengitari teras-teras toko yang masih tutup.

Sepanjang jalan aku tak menemukan satu pun temanku. Namun, aku menemukan mereka. Mereka yang masih mengasingkanku. Kotor; korengan; jijik; najis; itu yang mereka teriakkan saat melihatku. Bukan hanya tak suka, tetapi juga anti kepadaku. Untunglah mereka masih tertidur, jadi aku tak perlu berlari.

Kehidupan ini liar. Jalanan makin buas. Sejak kecil aku sudah dibuang dalam kardus. Saat itu aku tak mengerti menangis. Mungkin mataku berbinar saat itu, aku lupa. Dibesarkan di jalanan tanpa seorang pengasuh pun harus aku jalani sejak kecil. Mencari makan pun kulakukan di jalanan, hampir setiap hari, hanya untuk menghilangkan sedikit laparku. Sekotor hingga sebau apapun itu, aku akan makan, berharap masih ada yang bisa dimakan. Enak? Aku tak peduli pada rasa. Lidah sudah terbiasa. Aku terbuang; tersisih karena takdirku hanya menggoggong.

Sifatku dihasilkan dari adaptasi lingkungan yang melibatkan konflik fisik. Menghindar, melarikan diri, diam, dan mengancam, sikap dominasi, hingga subordinasi. Seharusnya aku membalas perlakuan hina mereka. Ingin rasanya aku bangunkan mereka yang sedang tertidur, kemudian lari. Balasku menciut, peduliku mencuat. Aku seperti punya hati, membiarkan mereka mengumpulkan tenaga sebelum beradu dengan jalanan kembali.

Advertisement

Aku iri saat melihat belas kasihan yang diterima sebangsaku lainnya. Dirawat, makan dengan teratur. Berlarian dan bermain di taman dengan pelukan hangat penuh tawa. Mereka sangat diinginkan, tidak sepertiku dibuang. Namun, ada rasa syukur yang aku rasakan. Leherku tak diikat. Aku bebas kemana saja tanpa tali yang mencekikku. Rumahku tak hanya berukuran tiga meter persegi, sehingga aku tak perlu stres karena itu. Bebas. Rumahku seluas kemana pun aku ingin berjalan.

Aku terus berusaha bertahan hidup dengan mencari makan. Hingga tak jarang aku harus merugikan orang lain. Menggondol satu buah sandal biru yang nampak seperti ikan yang baru saja meloncat dari akuarium pun aku lakukan. Semua nampak menggiurkan saat aku sedang lapar. Terasa nikmat, meskipun sangat alot saat aku mulai mengunyahnya.

“Hei! Itu sandalku!” teriakkan lantang itu membuatku terkejut hingga terlepaslah sandal dari gigitanku. Aku segera mengambil langkah seribu mencari persembunyian.

Dalam takut, aku melirik ke arah kanan lalu ke kiri. Sepertinya aku lolos dari amukan pagi ini. Aku memastikan semua sudah aman. Kemana lagi aku harus berjalan? Mencari tempat tujuan lain yang sekiranya masih menyediakan harapan untukku bertahan, masih ada kah?

Ah! kurasakan nyeri pada kakiku. Tetesan darah segar keluar dari banyak goresan yang baru saja timbul. Hingga aku tak menyadari bahwa sayatan serpihan kaca menjadi penyebabnya. Sebegitu takutnya aku dengan kejaran mereka (?), hingga aku lari tanpa sedikit pun merasa sakit. Sejujurnya mereka adalah musuh bagiku. Perlakuan mereka sungguh tak selayaknya. Entah mengapa aku tak bisa melawan mereka. Apakah masih ada hati pada anjing sepertiku ini? Sulit menjelaskannya. Padahal mereka adalah musuh bagiku. Kasar balas kasar. Lembut balas lembut. Kasar balas lembut? Semua terjadi secara natural tanpa aku berusaha untuk terlihat garang saat hati ini butuh buaian.

Menggeliatku mencari posisi terbaik. Tak peduli aku akan diusir, biarkan aku beristirahat sejenak mengeringkan goresan ini.

“Ma, ma, mamaaaaa… ada anjing di teras rumah.” Nyaring suara perempuan kecil yang tergesa berlari.

Perlahan aku bergerak; rasa nyeri masih belum hilang. Aku tak ada tenaga untuk bangkit dari tempat ini. Hari ini aku benar-benar kalah. Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, aku pasrah. Aku menyerah. Aku mundur sedikit, melingkarkan badanku lebih erat, seturut menyembunyikan kepala pada kaki kecilku. Aku takut. Tak mau dibuang seperti waktu kecilku ataubahkan dipukuli hingga aku dilempar alat-alat tak semanusiawi mereka memperlakukanku. Pintaku; aku ingin dikasihani, sekali ini saja.

“Sabar, Narseh! Pelan-pelan saja.” Ketukan langkah mereka yang tak beraturan membuatku semakin tak nyaman. Aku semakin melingkarkan erat badanku lagi seraya mengintip dari lubang kecil yang sengaja kusediakan dalam persembunyianku.

“Itu anjingnya, Ma! Narseh takut, Ma. Usir ajah anjingnya! Usir ma!”

Aku tak mengerti ucapan mereka. Aku hanya mengenali ritme ucapan mereka. Ritme cepat dan lantang. Sepertinya aku akan tersisih kembali. Tapi aku benar tak sanggup untuk bangkit kali ini. Merintih, aku keluarkan dalam suaraku. Andai aku bisa bahasa kalian. Aku hanya ingin kalian kasihani, sekali ini saja.

“Usir, Ma! Usir! Narseh takut, Ma!”

Suara itu makin terdengar keras dengan nada manja anak kecil yang manis. Ketakutanku tak terkendali lagi. Bersiap mengambil langkah dengan sisa tenagaku. Aku bangkit. Menggerakkan kaki satu per satu. Selangkah kemudian aku terjatuh. Merintihkan suaraku makin keras dengan mata yang terbinar. Berharap mereka mengerti, lihat aku! Lihat gerakku! Lihat mataku! Ada binar untuk mengerti bahasaku. Kasihani aku, sekali ini saja.

“Auch! Bentar, Narseh. Itu lihat kakinya ada goresan berdarah segar. Sepertinya ia terluka!” Perempuan tua itu berusaha mendekati sambil menenangkan perempuan kecil manja.

“Ah, Mama! Usir anjingnya! Narseh takut. Anjingnya kotor, lusuh, banyak luka. Narseh jijik. Beda sama anjing kita, si Moldi.”

(Perempuan tua merangkul perempuan kecil manja) “Jelas itu berbeda. Moldi itu kita rawat dengan baik. Kalau kita rawat anjing dengan belas kasih, pasti bulunya indah, tubuhnya tidak kurus seperti ini, tak ada luka sedikit pun. Sekarang, anjing ini butuh belas kasihmu, Nak.”

“Narseh, engga mau!” Lantang suara terdengar meninggalkan tempat itu.

Bukan hanya sekali ini saja, aku telah merasakannya berkali-kali. Ini paling membekas. Tak pernah kuduga, dalam keadaan seperti ini pun aku masih menjadi yang tak diharapkan.

“(Perempuan tua mengelus tubuhku) Hmmmm…”

Kulihat gelengan kepala perempuan tua itu saat berusaha mengelus tubuhku. Tak ada gerakan yang aku lakukan. Aku menikmatinya. Lalu dia pergi. Dalam tanyaku – Apa arti gelengan kepalanya? Aku semakin takut. Kaki ini bergerak. Lalu jatuh. Masih belum sanggup menopang tubuh yang semakin melemas. Pasrah, itu pilihanku. Lama aku menunggu tak ada pergerakan. Aku pun tertidur.

Panas matahari menyengat tubuhku yang mulai kering. Sinarnya memaksa mata untuk melihat. Tak seorang pun tampak. Bahkan perempuan kecil berambut panjang dan perempuan tua tadi juga tak ada.

Aroma amis tercium menyengat. Terlihat jelas sebuah mangkok. Kuangkat kepalaku untuk melihatnya lebih jelas. Air yang putih terlihat segar. Lidah menjulur tanpa permisi, mencoba menjangkaunya. Badan menggesek-gesek pada lantai membantuku menjangkaunya.

Ini terasa segar. Tak henti lidah menjulur. Mengecapnya; meminumnya; hingga mulai membasahi tenggorokkanku yang sudah mengering sejak semalam. Gairahku mulai bangkit. Namun, masih belum cukup. Untung saja masih ada hidangan tambahan yang aku dapatkan hari ini, daging segar yang masih merah. Kaki depanku mulai bisa bergerak, aku menjangkau piring berisi daging itu. Gigiku mencabik dengan keras. Kedua kaki depanku dengan sigap membantu menariknya. Mengunyah terasa begitu cepat. Dengan sekejap daginya sudah bersatu dengan tubuhku. Lidah mencoba menjulur mencari sisa yang ada. Menjangkau sekeliling mulut untuk merasakan nikmat yang mungkin masih menempel. Tenaga baru; gairah baru. Harap belas kasihanku tadi mungkin mereka lihat. Bukan mereka, mungkin perempuan tua itu saja.

“Krek…” Pintu di hadapanku bergeser. Kaki depanku langsung bangkit. Pintu semakin terbuka lebar. Kaki belakangku mendorong untuk bangkit. Ternyata aku sudah bisa berdiri, sedikit bergerak. Pintu kian terbuka; tubuh kecil dengan rambut panjangnya mulai terlihat. Satu kakiku melangkah, ternyata bisa. Aku langsung berlari tanpa melihat ke belakang. Aku benar-benar memiliki tenaga lebih karena belas kasihan tadi.

Berlari kian jauh meninggalkan rumah tadi, persembunyian yang nyaman. Tempat yang mengenalkanku pada indahnya belas kasih. Syukurlah, aku merasakannya sebelumku bertemu ajal. Meskipun hanya beberapa jam, aku mendapatkan gairah luar biasa untuk melanjutkan hidup.

Tunggu! Kakiku terasa begitu berat, tak seringan biasanya. Sepertinya aku pun salah tentang perempuan kecil tadi. Itu dia, yang terakhir kali aku lihat. Mungkin hatinya mulai tersentuh oleh bujuk rayuan perempuan tua tadi. Belas kasih yang begitu istimewa. Baru pertama kali ini aku mendapatkannya. Indah. Nikmat. Gairah luar biasa. Namun, aku pergi tanpa pamit. Pamit ala sebangsaku. Aku liar, tapi aku tak ingin seliar sebangsaku. Apa bedanya aku jika seperti mereka?

Kepalaku menoleh ke belakang. Mencoba melirik ke kiri dan ke kanan. Tampak indah berwarna mencolok nan harum di pojok kanan. Kuhampiri satu dari sekian banyak. Aku berusaha menggigit setangkai yang paling indah. Aku hanya meniru laki-laki yang minggu lalu aku lihat ketika aku sedang mengorek sampah di depan sebuah rumah. Dia membawa sekumpulan bunga untuk perempuan yang sepertinya dia cintai. Perempuannya aku lihat begitu senang. Ya, begitulah naluriku untuk meniru.

“(kuletakkan bunga di depan teras rumah dua perempuan tadi) Gukkk…Gukkk…Gukkk…” Panggilku dengan menggonggong lantang.

Terlihat mereka berdua.

“Anjingnya kembali, Narseh.” Ucap perempuan tua sambil mengusap rambut indah anaknya yang tergerai.

Sudah saatnya! Andai saja aku bisa berucap, tapi tak mungkin. Berharap mereka mengerti apa yang aku lakukan.

“Apa maksudnya, Ma?”

“Mama juga tak tahu?”

Perempuan kecil berlari mendekati setangkai bunga tergeletak di teras rumahnya. Belum layu, daunnya masih pada tangkainya.

“Ini, Ma!” Disodorkannya ke arah mamanya.

Perempuan tua tadi mengambil setangkai bunganya; genggamannya ditempelkan pada dadanya; bunganya menjuntai sampai menyetuh hidungya; dihirupnya aroma bunga dalam pejam mata kecilnya. Berharap bunganya menyampaikan pesanku.

Terima kasih. Aku tak bisa membalas belas kasih mereka. Hanya ini yang dapat aku lakukan; aku mengedipkan mataku hingga kepala pun terasa lemah mulai menunduk. Tak lama; tak sampai tiga ketuk, aku langsung berlari kencang. Lebih kencang daripada saat aku dikejar kerumunan orang tadi pagi.