Ketika kamu tumbuh dewasa, tidakkah kamu melihat Ayah mengkhawatirkan banyak hal pada putra-putrinya? Hal-hal yang membuat jidatnya mengernyit lebih cepat, hal-hal yang membuat ia ingin pulang lebih awal dan hal lain yang mengusik konsentrasinya ketika memikirkan kalian? Ketika kamu merengek untuk mendapat fasilitas lain dan ketika kamu merengek untuk mendapat jam keluar malam yang lebih lama.

Bahkan ia sangat marah ketika kamu melanggar aturannya, sehingga ia masuk kamar dan menangis menyesal disana. Ia tak pernah mampu untuk benar-benar marah padamu walaupun kamu merengek banyak hal yang membuatnya kesal. Apalagi yang perlu Ayah lakukan untukmu?

Ia akan mengatakan "Akan Ayah usahakan" dibanding "Tidak mungkin bisa hanya dalam waktu yang sesingkat itu"

Pernahkan Ayah memperlihatkan padamu bahwa semua yang ia lakukan tak semudah yang kamu anggap? Tidakkah kamu tahu bahwa ia selalu ingin melihatmu hidup dengan lebih dari cukup, dengan usaha apapun yang bisa ia lakukan? Ia akan selalu memberimu yang terbaik yang ia bisa tanpa kamu memintanya.

Ia lebih suka mengatakan "Berhati-hatilah memilih pasangan" daripada "Tidakkah kamu bisa sedikit lebih pintar dalam memilih pasangan?"

Ayah tak pernah ingin putranya nampak kurus tak terurus dan tak sanggup menyelesaikan banyak hal ketika ia telah memiliki komitmen hidup dengan istrinya kelak. Ayah selalu ingin mempunyai putra yang kelak akan menjadi panutan hidup dalam keluarga barunya dan dibanggakan banyak pihak.

Dan Ayah lebih tak rela ketika putrinya kelak kembali kerumahnya sambil menangis ketika menghadapi masalah dengan keluarga barunya. Ia ingin agar putrinya mendapat sosok yang mampu menjaga dan menggantikan posisinya kelak ketika ia mulai tua dan renta.

Ia lebih banyak mengomelimu, tapi ia selalu membanggakanmu ditempat ia bekerja

Advertisement

Ayah lebih suka membanggakanmu ditempat lain, membicarakan banyak hal yang mampu kamu capai dan ia lakukan berulang kali. Ayah tak pernah mau melihat putra-putrinya besar kepala ketika kamu telah mencapai suatu hal. Ia menganggapmu putra-putrinya yang masih harus dalam penjagaan dan pengawasaanya sehingga putra-putrinya tidak akan jatuh pada jurang yang terlalu dalam.

Ayah, duduklah disitu dan tunggu aku membawakan secangkir kopi panas untukmu setiap harinya. Agar kita bisa berbicara dan tertawa lebih sering. Agar aku, putrimu, kelak akan menjadi topangan hidupmu yang kuat sepertimu ketika engkau menua. Mari berjalan beriringan bersamaku.