“Apakah kamu akan menulis tentangku?”

Kalimat itu meluncur lembut dari bibir yang sama dengan bibir yang selalu membentuk senyuman konyol setiap ia tahu aku memerhatikannya. Baik ketika kita sedang berbincang di warung kaki lima di tengah malam sehabis hujan atau dari balik meja kedai kopi tempat kita membicarakan lebih banyak hal dari pada minuman yang kita pesan. Senyum itu mengembalikan kepercayaanku terhadap hal-hal yang selalu kubantah keberadaannya.
Sejujurnya aku tak memiliki jawaban dari pertanyaanmu di saku bajuku, tapi senyuman konyol itu memaksaku mengeluarkan segala yang kupunya hanya untuk membuatmu tetap di sini mendengarkan.

“Apakah kamu pernah menulis sesuatu tentangku?”

Ada begitu banyak cerita di kepalaku. Tentang apa yang sudah terjadi, tentang apa yang kuharapkan terjadi. Aku menggambarkan pertemuan kita sebagai terbitnya pagi setelah malam dingin yang panjang. Aku bisa menulis sebuah novel penuh dengan kisah yang mungkin dan sangat mungkin hanya terjadi dalam kepalaku.

Aku telah memulai banyak sekali paragraf tentangmu, namun berhenti. Bukan karena tidak lagi ingin, hanya saja menulis semua tentangmu membuatku membayangkan ada kau di hadapanku, sedang kamu tak ada. Bukan karena kehilangan kata, aku hanya kehilangan kepercayaan diri untuk mengeja setiap hal di depan semua mata yang menatap kita.

Advertisement

Sebab aku yakin, sekali saja kutuliskan kamu sebagai hal-hal yang kupercaya kekal adanya, kamu akan menjadi pusat dari setiap tulisan yang kubuat, menjadi tokoh utama dari cerita yang mungkin tak akan pernah terjadi.

Aku akan menulis ribuan soneta tentang perasaanku ketika kau menarikku lembut ke dalam pelukanmu dan puluhan lagu tentang bagaimana kedua tanganmu ragu-ragu meraih wajahku ketika kamu pertama kali menciumku. Aku tahu aku punya metafora demi metafora untuk setiap detil hal kecil yang kau lakukan; kita lakukan.

Tapi tidak.

Aku tidak akan melakukannya.

Aku benci mengekalkanmu ke dalam setiap bentuk lain selain ingatan di kepalaku. Karena itu berarti kamu bisa menjadi puisi yang akan dibaca oleh orang lain. Sedangkan di sini, di dalam kepala sempit ini, kau kumiliki seorang diri.
Aku menahan diri untuk tidak menuliskan cerita tentangmu karena begitu tertuliskan, kau bukan lagi milikku.

“Apa yang sedang kau tulis? Apakah itu tentangku?”

Tidak, Sayang. Bukan. Mungkin suatu hari nanti aku akan menulis tentangmu. Aku akan menuliskan kata-kata yang selalu kutelan dalam diam bukannya kubisikkan ke telingamu pelan-pelan dan hal-hal yang membuatku percaya bahwa ada seseorang yang peduli padaku dan ia nyata.

Suatu hari, akan kutulis setiap kata yang berhak kau dengar dan meneriakkan namamu ke udara dan membiarkan semua orang merasa cemburu karena aku memilihmu dan kau memilihku di antara setiap kesempatan yang diberikan semesta.

Tapi bukan hari ini.

Hari ini aku ingin merahasiakanmu. Hari ini aku menyembunyikanmu dibalik pintu yang kututup rapat-rapat. Hari ini aku menguncimu di dalam sebuah hati yang mungkin tak sadar kaumiliki, yang tak pernah kauminta namun telah kuberi.

Tidak, hari ini aku ingin memilikimu untuk diriku sendiri.

Walau sebenarnya tak ada yang benar-benar kumiliki.

——–

originally written here:

Aku Ingin Menulis Tentangmu, tapi Tidak Hari Ini.