Ketika aku sedang asyik berselancar didunia maya (social media networking), aku tak sengaja melihat statusmu muncul diberanda Twitter-ku, ketika aku melihat notice di Instagram-ku ada namamu di daftar like posting-an ku, Ketika aku membuka Facebook ada tertera namamu sedang Online disana.

Seketika aku berfikir ingin rasanya ku menyapamu lagi sekedar melontarkan sapaan ‘hai’ melalui chat singkat, atau mengatakan bahwa aku (sangat) rindu kamu.

Namun, aku sadar jika kita bukan apa-apa, kita bukan siapa-siapa. Kamu dan aku adalah dua orang asing yang tak saling mengenal lagi. Sama seperti ketika kita belum saling mengenal sebelumnya.

Kita hanya dua orang asing yang memiliki dunia masing-masing.

Sekarang kenyataannya kita kembali menjadi dua orang asing sama seperti ketika kita belum kenal dulu, aku tak bisa apa-apa selain menerima, begini rasanya terluka.

Advertisement

Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya dalam hati. Kita telah lama saling tanpa kabar. Sudah hampir enam bulan berlalu tentu saja itu waktu yang lama, tapi aku yang jelas-jelas kamu sakiti, masih saja berharap dan ingin mengajakmu kembali bicara. Aku tak suka kau diamkan aku begini, enam bulan berlalu kau tak kunjung beri aku kejelasan mengapa dulu kau menghilang dan menjauhiku seakan aku adalah orang yang paling kau benci.

Aku (ingin) mengajakmu berbicara bukan berarti aku menginginkan kita merajut kisah seperti yang dulu, ataupun mengajakmu bersamaku lagi. Sungguh tidak ! Aku hanya ingin kau dan aku, ya kita menjadi dua insan yang baik-baik saja tanpa harus saling diam begini. Walau sebenarnya aku juga menyimpan bimbang dihati jika seandainya ini terjadi, aku (akan) berharap kita memiliki kebersamaan seperti dulu dan akhirnya timbul butir-butir cinta lagi.

Diwaktu-waktu tertentu ada sesuatu yang menggebu-gebu dihati ingin sekali mengetahui perihal tentang kamu, lalu dengan cepat aku mencari alamat media sosialmu. Setelah puas aku stalking, bukan hanya lega setelah tahu kabarmu tapi hatiku juga terasa panas, sesak, dan terasa sakit.

Ternyata dirimu kini terlalu asyik dengan duniamu.

Ternyata dirimu sudah bersama dia yang kau sebut cinta. Terkadang aku menerawang jauh kesana, apakah dia yang kau sebut cinta sekarang akan kau perlakukan sama seperti kau perlakukanku dulu, mencintaiku sementara saja lalu pergi menghilang.

Walauku masih sering mendambamu dan ingin sekali menyapamu kembali. Namun semua itu kulakukan sebatas anganku saja. Aku mendambamu melalui anganku, aku menyapamu melalui anganku. Mungkin ini pertanda jika aku belum sepenuhnya lupa tentang kamu. Dirimu masih menjadi sosok yang memenuhi setiap sudut hati. Dirimu masih tetap menjadi pemilik rasa terindah yang tak benar-benar sedia memiliki.

Sadarlah duhai jiwa, jika sebenarnya didalam hati ingin menyapa lagi. Tak seharusnya terlalu lama terpuruk dalam begini. Jika dia pergi menghilang tanpa kejelasan, artinya dia tak berhak kembali lagi dengan seribu alasan. Apalagi kembali memenuhi memori otak dan pikiranmu.