Kali ini aku duduk sendiri, di pinggir jendela sebuah kedai kopi. Niat awal berteduh karena hujan akan turun, membawaku kembali ke memori beberapa tahun lalu. Aku menerawang ke luar jendela, melihat hujan yang dengan tenang tanpa gaduh mulai menyapa jalanan di luar sana. Tak sengaja kulihat sepasang kekasih berlarian, berteduh di sebuah pertokoan sambil tertawa bahagia.

Kuingat saat itu kita, aku dan kamu, melakukan hal yang sama seperti pasangan itu. Saat sedang asik jalan-jalan, mendadak hujan turun dengan derasnya. Aku dan kamu pun berlari, dengan kamu yang menutup kepalaku dengan tanganmu. Saat itu aku merasa lucu, tanganmu bukan payung, tak bisalah mereka menghindarkanku dari hujan. Tetapi aku senang, hal kecil itu tanda bahwa kamu memperhatikanku dan memperlakukanku dengan sangat baik. Walau sedikit basah dan dingin, tak mengapa. Aku merasa hangat di pelukmu.

Saat itu juga, rasanya kita bahagia. Aku sangat suka hujan. Aku juga sangat suka kamu. Aku dapat paket komplit saat itu, hujan dan kamu. Kataku waktu itu, “Ayo, rekam dong bikin video mumpung kita masih di sini!” Lagi-lagi kamu tertawa, dan mulai menuruti keinginanku. Mulailah kita berceloteh panjang lebar sambil sesekali tersenyum dan tertawa, berjanji akan melanjutkan dengan membuat video di perjalanan berikutnya. Setelah hujan mereda, kita pulang dan dengan senangnya aku memelukmu dari belakang. Perjalanan yang begitu jauhnya pun tak terasa dan tak kulepas tanganku dari pinggangmu.

Sekarang, aku hanya bisa tersenyum jika mengingat kebersamaan kita dahulu. Kamu yang saat itu memilih untuk pergi karena merasa aku tak seimbang denganmu, tak kuasa kupaksakan keinginanku untuk terus bersama. Keputusanmu sudah bulat, sudah terlalu jauh jurang perbedaan kita. Perbedaan pandangan pun menjadi salah satunya. Kini kamu sudah bersama dengan wanita lain, bahkan kudengar sudah ada cincin di jari manismu sejak beberapa bulan lalu. Sejak berpisah pun aku sudah tidak pernah bertemu lagi denganmu. Kota yang berbeda, kisah yang berbeda, bahkan jalan yang berbeda. Aku pun tak tahu mengapa aku masih duduk di sini sendiri, membuka laptop dan menceritakan sedikit tentangmu.

Hujan masih turun dengan senangnya, merayakan pertemuannya dengan bumi. Mungkin si hujan rindu menjatuhkan dirinya, sama sepertiku yang rindu menjatuhkan hatiku kepadamu. Tetapi kali ini, hujan juga turun di dalam kedai kopi. Ya, awan mendung di mataku tak kuasa menahan beratnya air. Gemuruh dalam hatiku pun tak kunjung usai. Hanya mengingat senyummu saja aku tak sanggup menahan gelombang dalam diri. Kali ini, biarkan hujanku dan hujanmu turun deras. Mungkin mereka sudah rindu bersua denganku dan denganmu, menanti kita suatu hari untuk (mungkin tidak sengaja) bertemu lagi.