Apa kabar?

Sudah lewat seminggu dari waktu kita kumpul di salah satu pernikahan teman kita. Ya, kawan seangkatan yang dulu sering ngegosip bareng, nangis bareng dan bertengkar karena drama yang tidak ada habisnya, baru bisa bertemu lagi 6 tahun kemudian.

Nampaknya arus kehidupan kuliah dan kerja sudah berhasil mengikis kesempatan kita untuk bertemu.

Maafkan aku kawan, karena ternyata perempuan yang dulu dibilang pintar karena tetap bisa menjawab pertanyaan guru walau sering tidur di kelas harus takluk di bawah ketidakmampuannya naik kereta dan membaca arah. Karena rasa paranoid akan terbawa sampai ke tanah antah berantah masih mengalahkan keinginan berjumpa. Ya, saya bodoh. Tak perlu tertawa begitu.

Sepulang dari pesta, aku duduk menunggu di kereta terakhir yang terjebak karena rel patah di Stasiun Universitas Pancasila. Smartphone yang mati selama perjalanan ternyata obat ampuh untuk mengenang langkah kaki kita di luasnya memori.

Masih ingat pertama kita dekat di SMA?

Advertisement

Kita bersekolah di SMP yang sama namun tak pernah kenal dekat. Aku yang selalu dicap sombong memang segan berkenalan dengan orang baru. Belum lagi harus menyebut namaku yang ribet, rawan dijadikan bahan ejekan. Wajah yang familiar membuatku jauh lebih tenang menjalani hari-hari pertama sekolah. Energi kalian seakan tak pernah habis. Selalu seru, tertawa lepas tanpa malu-malu. Kontras denganku yang lebih suka menonton riuhnya kalian sambil sesekali mengingatkan untuk menurunkan volume suara. Kebiasaan kalian yang tidak pernah berubah hingga sekarang.

Tawa riang di pesta waktu itu pun masih sama. Masih nyaring. Masih ramai. Masih tulus.

Masih ingat waktu kita curhat-curhatan sampai matahari terbenam?

Apa saja dibicarakan. Dari adik kelas yang semena-mena kita beri label 'nakal' sampai urusan pacar-pacaran. Biasa, drama rok abu-abu. Apa-apa soal lelaki melulu. Aku masih ingat saranku untuk putus saja dengan pacarmu. Masih banyak ikan di laut, kataku. Dan kamu membalas dengan mudah saja, “Banyak memang ikan di laut, tapi cuma dia yang aku sayang.” Sungguh romantis walaupun masih sulit kuterima dengan akal sehat. Namun ternyata kalian masih langgeng sampai sekarang. Ditunggu undangannya, ya.

Masih ingat bagaimana kita menghabiskan waktu di sekolah, menunggu hujan reda?

Kalian bernaung di bawah atap kokoh sekolah, ada yang bernyanyi dengan gitar, ada yang duduk melingkar di pojokan, bergosip sambil berfoto-foto dengan pose yang sebenarnya itu-itu saja. Ya, kalian. Karena aku sibuk menari di bawah hujan. Dasar anak kodok. Walaupun tidak lama karena kemudian tasku kalian sembunyikan supaya aku berhenti main hujan dan berteduh bersama.

Jahil namun mulia. Tipikal kalian.

Masih ingat waktu kita bertengkar?

Kalian mengira aku lupa diri karena teman dari game online baru. Maafkan aku yang dahulu masih norak dengan banyaknya orang yang bisa ditemui di dunia maya. Hanya karena itu aku mengurangi waktu bertemu kita. Kalian menghampiri aku dengan kalimat ngeri: “Kita mau ngomong sama lo.” Itu pertama kali aku mengetahui betapa menakutkannya kalimat ini.

Bukan karena takut dimarahi, tapi karena aku tahu bahwa aku sudah kelewatan.

Dari satu kali itu aku memutuskan untuk tidak lagi mengecewakan kalian.

Masih ingat waktu kalian datang menjenguk waktu aku sakit?

Aku pernah menolak kalian untuk datang menjenguk ke rumah sakit karena malu dengan kondisi yang berantakan karena dilarang mandi dan turun tempat tidur. Namun kalian tetap datang segera setelah aku keluar dari rumah sakit, begitu banyak jumlahnya.

Aku terharu karena baru sadar bahwa ternyata aku punya banyak teman dan bahwa aku tidak sendiri seperti yang selama ini kupikir. Bahwa rasa ingin bersahabat itu ternyata berbalas.

Masih ingat waktu aku menangis sejadi-jadinya?

Maaf mengagetkan kalian dengan sejuta beban pikiranku, juga merepotkan karena harus mengantar pulang. Aku baru tahu sakit maag bisa membuat kaki lemas seketika sampai sulit berjalan. Terima kasih banyak karena sudah menangis juga bersamaku. Terima kasih sudah berdoa untukku. Mungkin pada saat itulah aku menyadari bahwa berpura-pura kuat sendirian sama sekali tidak ada gunanya.

Kalian menyadarkanku bahwa persahabatan memang diciptakan Tuhan karena Ia tahu anak-anakNya tak akan mampu berjalan sendiri.

Kita pernah bertengkar, bertukar kata dengan kasar. Semua perasaan kecewa dan marah dahulu ibarat pasir pantai, dibentuk seenaknya, diinjak dan kadang ditumpahi sampah. Permukaannya tak lagi semurni biasanya. Namun air pasang akan selalu hadir setiap malam ditemani sinar sendu rembulan, menyembuhkan luka pasir dan mengembalikannya ke sedia kala esok hari. Hati seakan selalu siap memaafkan karena sadar bahwa kita sebenarnya saling menyayangi.

Masalah yang dahulu besar, sekarang membuat tertawa. Bukan karena meremehkan sebab kita bertengkar, bukan itu. Tapi karena seiring berjalannya tahun, yang masih teringat bukan rasa marah. Ternyata setiap emosi yang kita rasakan dulu tidak sebesar rasa kangen ingin bertemu, ingin tertawa bersama lagi.

Rindu itu tak ada habisnya, seperti deburan ombak yang senantiasa menemani langkahmu di pantai.

Sampai ketemu lagi nanti. Semoga kali ini bukan hanya sekedar “kapan-kapan”.

Untuk sahabat di SMA 7 PSKD Depok. Semoga kita semakin dekat dengan mimpi masing-masing setiap kali kita bertemu.